Sunday, December 30, 2012

Cinta Tapi Beda - Resensi Film

CINTA TAPI BEDA



Percintaan dua orang manusia yang berbeda keyakinan masih menjadi isu yang krusial di negara ini. Saya pribadi bukan termasuk orang yang menyetujui hal tersebut, apalagi rumah tangga yang isinya beda agama. Mengapa? Karena menurut saya suatu keyakinan terhadap Tuhan adalah dasar kita menjalani hidup. Jika dalam satu rumah tangga terjadi perbedaan dalam menjalankan keyakinan terhadap Tuhan, akan memengaruhi pula keputusan-keputusan pelik yang akan diambil. Itulah yang membuat saya sering tak habis pikir dengan teman-teman yang ‘memilih’ pasangan beda keyakinan but hei, saya tidak bisa selamanya berpikir senaif itu. Cinta memang memilih, perasaan itu menjatuhkannya pada orang-orang tertentu yang memesona kita dan membuat kita klop. Adakah pertimbangan tentang agama dan asal-usul keluarga di dalamnya? Apakah orang yang terlanjur jatuh cinta bisa mengantisipasi perbedaan-perbedaan pelik yang terjadi? Sebagian bisa, sebagian lagi memilih untuk mengikuti kata hati dengan tetap mencinta. Untuk keduanya, saya tidak berhak menilai apa pun.

Inilah ide dasar yang melandasi ‘Cinta tapi Beda’, film yang saya tonton dua hari lalu. Film yang membuat saya larut dengan adegan-adegan natural dan membumi. Saya suka film yang mencerminkan realita hidup manusia, maka dari itu saya menyukai film ini. Adegan dibuka dengan setting sebuah dapur di restoran terkenal, tempat Cahyo (Reza Nangin) bekerja menjadi chef di sana. Saya langsung jatuh hati melihat adegan masak memasak yang tangkas dan nyata, mulai dari cara mengiris bahan-bahan dengan cekatan, memasak di atas wajan, juga fokus kamera kepada bahan-bahan masakan yang segar. Cahyo dikhianati oleh pacarnya yang selingkuh, yang diperankan oleh Ratu Felisha. Tiga bulan kemudian, tak sengaja ia bertemu Diana (Agni Pratistha) di sebuah pentas tari. Diana adalah seorang penari yang berasal dari Padang dan beragama Katolik. Sementara Cahyo tumbuh besar di lingkungan keluarga santri di Yogyakarta. Mereka berdua menemukan rasa nyaman di diri masing-masing. Nyaman yang menimbulkan rindu untuk selalu bertemu, lalu pelan-pelan tumbuh menjadi sayang. Apakah mereka tidak tahu bahwa mereka ‘berbeda’ ? Mereka tahu, kok. Apakah mereka tidak peduli dengan masalah itu? Mereka peduli, namun mereka lebih memilih peduli dengan perasaan cinta yang semakin tumbuh di hati masing-masing.

Konflik keluarga membayangi hubungan mereka. Cahyo membawa Diana ke kediaman keluarganya di Yogya yang serta merta ditolak orang tuanya karena tahu Diana adalah non muslim. Ibu Diana pun bersikeras tidak merestui hubungan Diana dengan Cahyo, bahkan berencana menikahkan Diana dengan Okta, pemuda yang berasal dari satu gereja yang sama di Padang. Saya suka dialog-dialognya yang tidak berlebihan. Saya larut dalam kesedihan yang nyata yang Cahyo dan Diana tunjukkan karena masalah ini. Kekurangan film ini? Hm, entahlah, saya menyukai film ini karena kesederhanaannya. Kalau kamu mengharap film drama dengan konflik yang membahana, mungkin kamu akan kecewa. Tapi percayalah, jika kamu ingin sebuah tontonan yang membuka mata tentang cinta beda keyakinan, ini adalah jawabannya. Salah satu aspek yang penting yang membangun karakter sebuah film adalah musik-musik yang melatari adegan demi adegan, dan saya menikmati musiknya. Asyik banget!

Selain bintang-bintang muda yang telah saya sebutkan di atas, film ini juga dibintangi beberapa bintang film senior yang semakin memberi jiwa pada film ini. Sebut saja Nungki Kusumastuti, Jajang C Noer, Ayu Diah Pasha, dan Leroy Osmani. Dan setelah film ini, apakah saya beralih menjadi pro pada hubungan berbeda keyakinan? Tidak, karena secara pribadi saya masih menganggap keyakinan kepada Tuhan adalah sebuah visi, dan saya ingin memiliki visi yang sama dengan pasangan saya. Hanya saja, mata saya dicelikkan dan mungkin lebih toleran pada mereka yang mengambil konsekuensi tersebut. :)

Note: film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Masih ingat kan Hanung pernah berhasil mengemas isu perbedaan agama di masyarakat dalam film “?” ya, menurut saya kali ini dia pun berhasil dengan tema besar yang sama, meski kemasannya tidak seberat film tersebut. :)

dinoy

Friday, December 14, 2012

Khaosan Road: Rain and Flo :3


Sial ! Gara-gara mas-mas Thailand tukang ojek itu salah kasi penunjuk jalan, sekarang aku harus balik arah lagi dan naik jembatan penyeberangan ... LAGI! Untuung.. aja tadi pas bayar karcis bis tanya dulu sama pak kondektur, jadi tahu kalo bis yang kunaiki bukan yang ke arah Khaosan. Mana gerimis nya berangsur menderas lagi,, this is my last night in Bangkok, for God’s sake ! Akhirnya aku dengan menenteng tas belanjaan yang lumayan bkin pegel tangan ini, sampai juga dan duduk manis di halte bis di depan National Stadium, nunggu bis 05 ke arah Khaosan. Sabar Dini, sabar .. sebentar lagi aku bakal sampe hostel, mandi air hangat, terus nyari makan deh di sekitar hostel

Excuse me, do you know bus no 05 to Khaosan Road? Is that bus gonna passing this street ?”

Sambil duduk aku mencuri dengar percakapan seorang bule cowok muda yang berdiri cuma beberapa langkah dari tempatku. Oh, rupanya dia sedang bertanya pada salah satu pemuda lokal yang juga nungguin bis. Ha! Mau ke Khaosan juga rupanya… Asyik deh, ada temennya. Dan nggak lama kemudian ada satu bis kota mendekat, aku memicingkan mata untuk memastikan bahwa itu adalah bus yang kutunggu-tunggu. Dan segera aku mengangkat plastik belanjaan yang tadi kuletakkan di bawah di dekat kaki, dan bergabung dengan beberapa orang lain yang menaiki bis itu, termasuk si cowok bule.

Mantep ! Bus nya lagi penuh pula, aku harus pasrah berdiri sambil berpegangan pada kursi di dekat ku. Bis melaju dengan kecepatan standar, dan aku harus mempertahankan kaki ini tetap berdiri pada tempatnya. Si bule yang nggak kebagian tempat duduk, berdiri dengan mimik wajah ragu di dekatku. Sekali lagi dia memastikan kalau bis ini bakal lewat Khaosan, ke kondektur yang sedang menjalankan tugasnya mengumpulkan uang dari para penumpang.
Hehee, si bule ini nggak yakin banget sih bakal sampe Khaosan, pikirku. Ah, aku 
ajak ngobrol aja deh ..

Hey! Are you gonna go to Khaosan Road?” aku bertanya sambil mengibaskan tangan di depan mukanya.
Yes, I am. And you ?” jawabnya, sambil bertanya balik.

Yes, I’m going back to the hostel. Which hostel do you stay?” aku bertanya lagi menyambung percakapan.

“Rainbow Hostel,” jawabnya ramah namun segera membuatku melotot.

What?! I’m staying in that hostel too since last night. I’m in mixed dorm. Are you … “

You are in room number 602??” tanyanya yang lebih tepatnya hanya sekedar mengkonfirmasi. Dan kami kemudian tertawa, menyadari bahwa kami bukan hanya memiliki arah perjalanan yang sama, tapi bahkan hostel dan kamar yang sama ! Luck coincidence !

Kuteruskan obrolan ini, menghiraukan rasa lelah yang didera tubuh, terlebih tangan dan lenganku. Sambil mengobrol, diam-diam aku memperhatikan paras muka si bule yang belakangan kukenal bernama Florian – akrab dipanggil Flo – dan berasal dari Munich, Jerman ini. Cute juga ini bule, dengan kacamata yang bertengger di wajah nya membuatnya berpenampilan nerd nerd gimanaa,, gitu.

“Jadi, kamu masih inget arah jalan ke Khaosan Road?” pertanyaan Flo – dalam bahasa Inggris tentunya – membuyarkan kegiatanku yang diam-diam menelisik wajahnya dan menyadarkan bahwa sebenarnya aku juga nggak inget pasti patokan si jalan Khaosan ini !! Ya gimana mau inget coba, aku baru semalam sampai, baru tadi pagi memulai perjalanan, dan sekarang sudah malam pake acara hujan lumayan deras pula !

Sambil melongok jendela bus, aku menjawabnya dengan mengatakan, sebenernya aku sih agak lupa juga ya …

Flo tergelak, yang menunjukkan bahwa ternyata kami sama-sama nggak tahu harus turun di mana.

Yah Flo, kalau harus nyasar bareng bule secakep kamu mah, saya mau-mau saja, batinku.

Tiba-tiba bis berhenti, tiga bule cewek mendekati kami, oh tepatnya mendekati pintu bus di dekat kami, tapi salah satu nya berhenti di dekat Flo.

This is Khaosan Road,” cewek itu memberi tahu Flo tanpa ditanya. Ah, rupanya dia mendengar percakapan kami, Puji Tuhan … Dan kami bergegas turun. Hujan rupanya masih belum memberi ampun pada kota Bangkok, sehingga kami perlu membuka payung kami masing-masing, dan berjalan menyusuri trotoar. Sembari berjalan pelan dan berusaha mengingat lagi arah ke Rainbow Hostel, kami bercakap-cakap di tengah derasnya hujan. Flo menceritakan tentang traveling nya ke Myanmar dan Laos, sebelum ia tiba di Bangkok untuk mengakhiri rangkaian travelingnya ini. Dari penuturannya aku tahu kalau dia baru saja lulus kuliah jurusan Biologi di salah satu Universitas Science di Munich.

Hadeeeuh, brondong .. brondong bule .. brondong cakeeepp …

Aku sudah membayangkan untuk menyempatkan diri berfoto dengannya saat di hostel, kemudian pamer ke temen-temen di Indonesia, lalu ….

Whoooppss !! tahu-tahu kakiku tergelincir trotoar yang licin dan sedikit tergenang air, aku hampir saja jatuh kalau saja nggak ada tangan yang buru-buru meraih lengan tangan kiriku. Tangan milik Flo. Tubuhku terselamatkan dari mencium trotoar di malam hari, namun muka ini rasanya memanas, malu … dan entah kenapa jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat tepat di saat tangan itu merengkuh lengan tanganku .. Ah, pasti hanya kaget karena mau jatuh, pasti karena itu …

Are you okay, Dini ?” masih dengan memegang tangan kiri dan membantuku berdiri tegak, Flo setengah membungkuk untuk bisa memandang mukaku dengan jelas. Aku? Jangan ditanya, deh. Bukankah tadi kubilang jantungku berdetak lebih cepat dari yang sebelumnya? Sekarang tiba-tiba ada yang ikut bergejolak di perutku.

“Ya … Ya … Nggak apa-apa, kok. Ah, hujan deras begini jalannya jadi banjir, ya,” ujarku mencoba mengalihkan perhatian.

“Well yeah, beberapa hari ini beberapa kota di Thailand juga sedang terendam banjir, bukan?” Flo kembali berdiri tegak dan bukannya melebih-lebihkan, tapi tadi aku sempat melihat gerakan matanya tak beraturan seperti salah tingkah, saat aku balas memandang matanya.

Tangan kiriku bergerak membetulkan peganganku pada beberapa plastik belanjaan, dan tangannya, masih ada disana .. seolah hendak memastikan aku nggak akan jatuh lagi.

Oh here, let me help you,” tahu-tahu dia melepaskan pegangannya, dan sigap mengambil alih membawakan barang bawaanku. Aku menurut saja dalam diam, walau sebenarnya kalau boleh memilih, aku mau tetap membawa barang bawaanku sendiri, tapi tangannya tetap memegangi lenganku. Hahaa, you wish, Dini !
Kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Obrolan seru yang tadinya tak ada hentinya, seolah-olah menguap begitu saja. Sebagai gantinya, suara guyuran air hujan yang berisik mengambil alih dan menemani perjalanan kami. Kami menyempatkan diri mampir sebentar di Seven Eleven untuk mengisi perut, dan menanyakan arah jalan. Tak sampai sepuluh menit setelah melanjutkan perjalanan dari Seven Eleven, kami melihat plang besar bertuliskan ‘Rainbow Hostel & Guesthouse’ …

“Akhirnya sampai juga! Nggak sabar nih mau segera mandi air hangat!” tukasku bersemangat.

Aku menoleh pada sosok Flo yang tinggi di sebelah kananku, tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, pandangannya tertuju pada televisi yang dipasang di sebuah café yang hanya berjarak dua bangunan dari hostel kami. Ah, siaran bola Liga Inggris rupanya.

“Dini kamu mau langsung balik? Aku mau lihat bola dulu, nih .. “ Flo menyentuh sekilas pundakku, dan entah kenapa dari pandangan matanya dia seolah ingin aku menemaninya.

“Well, nonton bola sebentar apa salahnya, yuk!”
Benar saja, aku lihat dia bersemangat karena aku mau ikut menemani. Aku nggak bisa ingat tim mana yang main, yang jelas salah satunya adalah Liverpool, klub yang jadi jagoannya kakakku. Aku menikmati setiap mimik muka ekspresifnya setiap ada pemain yang melakukan manuver ke dekat gawang. Dia bilang dia nggak jagoin dua-duanya, dia cuma ingin menikmati pertandingan bola nya saja.

Sambil melihat bola, kami melanjutkan obrolan kami .. Dia memaparkan rencananya untuk langsung bekerja sehari setelah dia kembali ke Jerman, dia menceritakan tradisi-tradisi Natal saat di Jerman, suhu minus dan hujan salju yang malah membuat penduduk asyik bermain boneka salju. Dan Flo menanyakan tentang aku, tentang negaraku, tentang pekerjaanku, tentang hobi travelingku. Dan yang paling aku senangi darinya, adalah saat ia bertanya, ia sungguh-sungguh bertanya dan bukan sekadar basa basi. Terlihat dari saat ia menyimak dengan sungguh saat aku menjawab pertanyaannya. Kalau toh dia tiba-tiba tertarik dengan pertandingan bola di tv, dia akan memegang pundakku sejenak, memberi kode untuk berhenti bicara, tapi setelah itu dia akan kembali memintaku melanjutkan penjelasan. Aku suka gesture yang ia berikan, suka penghargaan yang ia tunjukkan karena keberadaanku di dekatnya. Dan begitu saja, tiba-tiba aku merasa nggak rela kalau ia harus berangkat pagi hari esoknya.

Kami sama-sama masuk dorm, berbaur dengan penghuni yang lain, lalu beristirahat ketika tengah malam menjelang. Dia melambai kecil sambil menaiki tangga ranjang susunku. Iya, dia tidur satu bunk bed denganku, tepat di atas kasurku, dan gotcha! Aku baru ingat bahwa pemuda inilah yang membuatku tak bisa tidur semalam gara-gara terlalu banyak tingkah. Sedikit-sedikit membolak balik badannya seperti tak nyaman, hahaa !! Kebetulan? Kebetulan yang manis, menurutku.. ;)

‘Dear Dini, I’m leaving to Germany this morning. Please keep contact and reach me to florian@gmail.com as soon as you reach home. Nice to met you last night, Smile! :)

Pesan itu membuatku tersenyum. Sudah kuduga aku akan kesiangan bangun, nggak sempat mengucapkan salam perpisahan sama Flo, dan mas-mas India resepsionis hostellah yang akhirnya menyampaikannya untukku..

dinoy

Wednesday, December 5, 2012

RUMAH BARUUU!!



Muahahahaa, iyah, saya bikin blog baru (lagi!).. tapi kali ini domainnya selingkuh pake domain sebelah alias wordpress.com. Tapi tenang, blog yang ini tetap ada, kok. Jadi buat apaan lagi bikin blog baru lagi? Bukannya udah punya blog khusus juga tentang traveling? Kebanyakan blog ribet kali ah, Din!

Eits, dengerin dulu! Jadi rumah baru saya di wordpress ini khusus untuk menampung resensi-resensi buku yang pernah saya tulis. Iya, kalau kamu sering baca saya meresensi buku di blog ini, akhirnya saya memutuskan untuk memindahkannya ke rumah sendiri per 26 November 2012. Mau tahu alasan saya?

Pertama, adalah untuk mengapresiasi karya tulis sendiri. Hm, meski menulis resensi menurut saya bukanlah suatu pencapaian yang wah dan orisinil dalam hal penulisan (nggak orisinil banget saya bilang karena menceritakan ulang cerita milik orang lain), tapi tetap saja hal itu nggak mudah. Banyak orang yang biasanya hanya hobi membaca, tapi malas untuk menuliskan resensinya. Dan yang bikin kesal, banyak orang pula yang seenaknya menjiplak resensi yang ditulis orang lain untuk keperluan tertentu. Dan inilah yang saya alami dan membuat jengkel, beberapa kali saya menemukan tulisan resensi saya dijiplak di blog milik orang lain, atau dipakai untuk diikutkan lomba dengan memakai nama orang lain. Maka dari itu saya berpikir, jika orang lain bisa mengapresiasi resensi saya meski dengan cara yang salah, ya saya sendiri juga mau lebih menghargai diri sendiri, dong. Itulah alasan saya membuat blog khusus resensi buku. 

Kedua, saya ingin bergabung dengan Blogger Buku Indonesia. Di wadah ini, biasanya para peresensi buku akan mendaftarkan blognya, dan setiap ada update, BBI akan membantu membagikannya lewat media twitter. Kalau saya mendaftarkan blog ini yang isinya juga random selain resensi buku, kok aneh ya? Hehehe. Makanya saya memutuskan untuk bikin blog sendiri, dan setiap habis memublikasikan satu resensi buku, saya akan mengupdate via twitter dan di-cc ke @BBI_2011

Nah sebenarnya dua alasan utamanya itu, sih. dan alasan kenapa saya memilih wordpress, ya karenaa.. maap-maap ya blogspot, habis kamu suka rewel dan nakal, sih, suka macet kalau lagi posting, atau tampilannya jadi aneh kalau habis copy paste artikel dari Ms. word :(

By the way dari tadi saya belum kasitahu ya alamat rumah resensi buku saya yang baru! Sengaja kok, mwahahahaha!!! *tertawa garing*

Yeap, jadi kalau kamu suka baca buku, terutama fiksi, yuk baca-baca resensiku, kali aja ada yang menarik buat kamu. Klik ini yaaa: www.dinoybooksreview.wordpress.com

Dinoy

Tuesday, December 4, 2012

Web Baru Buat Pecinta Kuliner: Baca Resep Dulu~

Kamu suka masak? Atau,, suka makan dan sesekali pengin coba-coba masak makanan favorit? Ada web baru nih, buat memuaskan hasrat kuliner kamu.. #tsaaah

Jadi beberapa hari lalu, saya mendapat email dari sahabat yang membagikan kalau sekarang ia punya web baru berkaitan dengan kulinari, tepatnya berisi tentang resep-resep masakan. Dan nama webnya adalah: Baca Resep Dulu. Begitu saya mengunjungi web ini, hm.. saya langsung menelan air liur melihat beberapa foto masakan yang menarik hati. Sepertinya lezat sekali ini kalau dicicipin... 

Lalu saya mulai membuka satu per satu.. Konsep webnya jelas, berisi nama berbagai masakan dari berbagai belahan bumi (Indonesia, China, India, Jepang, Prancis, dan Italia) yang dilengkapi dengan tips memasak juga waktu yang dibutuhkan untuk memasak satu jenis makanan. Dan sebelum mulai merincikan bahan-bahan yang diperlukan, biasanya akan diawali dengan prolog mengenai masakan tersebut. Misalnya nih, resep Ayam Kungpao yang didahului dengan nama daerah tempat makanan ini berasal.


Web tentang resep masakan ini dikelola oleh pasangan travel nomad Adam & Susan, yang lebih dulu dikenal dengan travelweb mereka: PergiDulu.com sementara konten-kontennya sendiri diisi oleh Debbzie Leksono yang berpengalaman sebagai chef. 

Jadi kalau kamu suka masak dan pengin menambah koleksi resep dan juga menambah kemampuan memasak, mampir deh ke web ini. Meski baru, tapi kontennya udah lumayan banyak. Soup Seafood, Siomay Bandung, Chicken Cordon Blue, Spaghetti, Ayam Saus Lemon.. you name it lah! Saya beneran ngiler nih kalau nyebutin satu-satu! Yumm!! 

dinoy

Thursday, November 29, 2012

Kaleidoskop 27 tahun :)


Well, my time is up! Today is the last day being 27 years old for me, haha!

So, pencapaian-pencapaian apa saja ya yang sudah saya peroleh selama setahun ini? Hmm…
Menilik setahun ke belakang, rasanya saya sudah cukup bersenang-senang dengan status umur 27 tahun ini. With friends, experiences, and travels

Masalah pekerjaan, got to admit that I am still stuck in a workfield that I don’t really like. So what I do in my leisure times is surely doing things that I am passionate in..

Dan pastinya passion itu berkaitan dengan traveling dan menulis.
Lalu apakah sudah ada pencapaian berkaitan dengan dua passion saya yang sesungguhnya? Hm, mari merunut satu-satu ya..

Untuk traveling, Puji Tuhan sepanjang setahun ini saya diberi kesempatan untuk pergi ke beberapa tempat, baik yang sudah pernah maupun benar-benar baru saya kunjungi …

Maret 2012 saya pergi ke Kuala Lumpur, Putrajaya dan Singapura bareng papa selama 4 hari 3 malam. Bersyukur masih diberi kesempatan jalan-jalan bareng papa J

Mei 2012 saya pergi ke Balikpapan, Kalimantan Timur sendirian selama 4 hari 3 malam, dan di sana saya menginap di tempat sahabat kuliah saya bernama Vera. Puji Tuhan juga karena perjalanan pertama ke Borneo ini saya bisa menuliskannya menjadi enam travel stories yang dimuat di travel web PergiDulu.com. Yayy!! ^^ Not to mention the priceless experience being reviewed by somebody else and of course the money, I am really happy about this... ^^

Juli 2012 bareng beberapa teman dari komunitas Travel Troopers saya berwisata ke kawasan Ujung Genteng, Sukabumi selama 2 hari. Dan rencananya cerita travelingnya akan saya ikut sertakan dalam travelnote competition, doakan berhasil yaa ^^

Agustus 2012 masih bersama teman-teman dari Travel Troopers, saya berkesempatan melakukan event ‘Traveling for Charity’ yang diadakan di Panti Asuhan di daerah Bojong Koneng, Bandung. Bahagia sekali rasanya bisa berbagi bersama adik-adik ini. Plus, bisa jalan-jalan seputar kota Bandung dan Ciwidey bareng teman-teman, mengunjungi tempat wisata yang belum pernah saya datangi sebelumnya, yaitu Kawah Putih dan Situ Pateangan. Tempatnya indaaah sekali dan menyejukkan.. J

Lalu di awal bulan November 2012 adalah menjadi traveling terakhir saya, yaitu ke kawasan Dieng Plateau di daerah Wonosobo, Jawa Tengah, bersama trip organizer ‘Green Adventour’. Suka sekali sama kawasan ini.. dingiiin dan cantik! J

Nah, dalam hal passion saya satunya lagi, yaitu menulis, menurut saya belum ada pencapaian yang ‘luar biasa’, hehee… Tapi biarlah saya mau menghargai setiap hal kecil dan konsisten yang saya lakukan berkaitan dengan menulis ini. Antara lain, makin rajin menulis resensi buku dan rutin digunakan untuk promosinya buku-buku milik Penerbit Haru yang dimuat di tabloid dan majalah (infonya di sini). Well, saya juga senang karena Lia -sahabat saya dan juga owner dari Haru – masih mau mempercayakan hal ini kepada saya. Oh ya, saya juga cukup sebal saat mengetahui beberapa oknum dengan begitu enaknya menjiplak atau memakai resensi saya tanpa ijin. Maka saya pun berusaha menghargai karya sendiri dengan membuatkannya rumah, yaitu blog khusus resensi buku di dinoybooksreview.wordpress.com. Terus, saat ini saya juga masih terhitung sebagai peserta seleksi kepenulisan di salah satu penerbit major. Sudah melalui rangkaian seleksi 12 minggu, dan sekarang masih dalam tahap penilaian. Doakan ya, semoga saya berjodoh dengan hal ini. J

Hm, saya rasa, yang bisa saya banggakan dari diri saya sepanjang tahun ini adalah keberanian untuk mencoba dan menyeriusi hal yang menjadi passion saya. Kalau dulu, saya hanya menganggap itu sebagai hobi, dan nggak berani untuk mengambil langkah lebih lanjut. Mungkin malas, enggan, atau sudah ciut duluan. Tapi apa pun alasannya, saya bersyukur kalau tahun ini masih diberi umur panjang untuk melanjutkan usaha-usaha saya itu. Menjadikan hidup saya memiliki nilai tambah, tidak pernah terlambat untuk itu.

So I guess this is it, besok saya sudah resmi melepas status  berumur 27 tahun, sudah sah menulis umur saya 28 tahun, hahahaa.. Tambah tua? iya. Tambah dewasa? Mungkin… sedikit, hahaa, saya nggak berani menilai kedewasaan diri sendiri. Tambah banyak yang perlu dibenahi dan dicapai? IYA BANGET! Tulisan ini memang bertujuan menyemangati diri sendiri menjelang peringatan ulang tahun yang tampak biasa-biasa saja. Semangat Dini Novita Sari, SEMANGAT!! J

Monday, November 5, 2012

Perlukah (melupakan) Kenangan (??)

source: berbagaihal.com


Berapa banyak dari antara kita yang memiliki kenangan yang ingin dilupakan? 

Seberapa keras usaha kita untuk mengusir jauh peristiwa-peristiwa masa lalu yang terekam baik di lipatan otak kita? 

Perlukah melupakan kenangan?

Saya yakin, jawabannya adalah kita pasti memiliki masa lalu yang tidak ingin kita simpan sebagai bagian dari memori kita. Hal-hal yang terjadi di hari-hari sebelum ini yang lantas kita sebut kenangan. Dan untuk menjawab apakah kita perlu melupakan kenangan, mari kita membahas arti harfiah dari kata 'kenangan'. Saya ambil dari aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Kenangan: Sesuatu yang membekas di ingatan, kesan. 

Seorang teman* pernah mengatakan di linimasa twitter bahwa ada 'kenang' di dalam kata 'kenangan', lalu saya menyambungnya dengan mengujarkan pula bahwa ada 'angan' di dalam kata 'kenangan'. Jika ditilik dari penjelasan di KBBI, maka dua kata ini memiliki arti:

Kenang: (selalu) membangkitkan kembali di ingatan; mengingat-ingat; membayangkan.
Angan: pikiran; ingatan; maksud; niat.

Jadi sudah jelas kenapa sebuah kenangan sulit untuk dilupakan, karena sudah kodratnya ia terpatri di dalam ingatan. Dan menurut saya, semakin kita berusaha menyingkirkan kenangan, semakin kuat kenangan tinggal di pikiran kita. Kenapa? Karena dalam usaha kita melupakan kenangan, mau tidak mau kita akan memikirkannya kembali, bukan?

Lalu, bagaimana dengan kenangan buruk yang terus menghantui? Bagaimana dengan hari-hari kelam yang terus membayang dan mengenang di setiap 'hari ini' ?

Saya rasa, sama seperti proses alam lainnya, tak ada cara lain untuk 'melupakan' kenangan selain dengan menghadapinya. Yang perlu kita lakukan bukanlah usaha keras untuk mengusir kenangan, namun membuat cerita-cerita baru di setiap 'hari ini' yang kita jalani. Karena 'hari ini' pun akan menjadi masa lalu ketika kita bangun esok pagi. Dan hal-hal yang kita lakukan di hari ini akan menjadi kenangan untuk besok yang akan kita miliki. 

Maka daripada hari ini diisi dengan berusaha melupakan kenangan yang lantas usaha itu akan menjadi kenangan di esok hari, kenapa tidak mengefisienkan waktu dengan membuat kenangan baru saja?

Selamat membuat kenangan. :)

*teman yang saya maksud adalah @beyT_
Hei Bey, this one is for you. Get well soon, 'kay?
:)

Saturday, October 27, 2012

Happy National Blogger Day, Bloggers!! ^^

Pagi ini bangun dan baca timeline twitter, ada beberapa tuips yang mengucapkan 'Selamat Hari Blogger Nasional!' Huwoooowwwhh ! Secara saya juga seorang yang aktif nge-blog, maka saya pun merasa menjadi salah satu yang 'berulang tahun' hari ini. Saya pun ikut menuliskan di twitter:



Ya, blog buat saya adalah sarana untuk menyalurkan ide dan inspirasi saya, dan bukan nggak mungkin untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Saya pertama kali memiliki blog adalah di tahun 2008. Saya ingat betul waktu itu saya sedang bekerja di sebuah portal berita, jadinya ya setiap hari berkutat dengan internet :D Dari situ saya tahu blog itu apa, yaitu media internet di mana kita bisa nulis dan posting suka-suka. Wah, seru nih. Maka kemudian muncullah blog ini. Isinya? Boleh dirunut deh postingan dari tahun 2008, kebanyakan ya tentang curhatan-curhatan saya tentang perasaan saya waktu itu, hihihiii..

Well, setiap blogger pasti memiliki tujuan masing-masing saat bikin blog, yang kemudian berpengaruh pada konten blog. Dan selama tujuan itu positif, buat saya nggak ada yang salah, juga tentang mengisi curahan hati di blog. :D Tapi seiring perkembangan waktu, saya sering membaca ulang blog saya dan berpikir, "Najis, ngapain gue dulu nulis gituan ya? Norak, ah!" Hehe.. Dan secara tidak disadari pula, saya mulai 'rapi' dalam mengisi postingan di blog. Saya berusaha menempatkan diri sebagai orang lain yang juga membaca blog saya. Kira-kira suka juga nggak ya? Bermanfaat nggak ya buat mereka?

Maka kalau melihat konten blog saya sejak akhir 2010, isinya adalah sharing tentang hal-hal yang saya lakukan yang sebisa mungkin juga bisa dinikmati oleh umum. Lalu mulai tahun 2011, saya memperbanyak konten blog saya dengan resensi buku dan prosa karya saya. Ya, masih ada juga lah satu-dua tulisan curhatan saya, tapi sebisa mungkin menulisnya nggak asal-asalan, hehe..

Apakah saya bersenang-senang dengan blog saya? Apakah saya mendapatkan sesuatu dari blog saya? Apakah ada orang lain yang termanfaati dengan blog saya? Puji Tuhan, jawabannya adalah ya, ya, dan ya. :) Meski berusaha menulis agar bisa dibaca dengan baik oleh orang lain, saya tetap bersenang-senang kok saat menulis. Nggak sampai harus kaku dengan kaidah-kaidah bahasa baku. Tapi yang jelas format penulisan memang lebih diperhatikan, misalnya paragraf jangan terlalu panjang, biar lebih rapi dan nggak capek bacanya. :) 

Dan saya juga mendapatkan sesuatu dari blog ini. Misalnya, teman yang juga pemilik dari Penerbit Haru tertarik untuk meminta saya menuliskan resensi buku Haru untuk dipasang di media, setelah melihat resensi novel 'Then I Hate You So' di blog ini. Dan saya bersyukur banget ketika ada beberapa teman yang bilang, mereka tertarik saat membaca resensi buku yang saya tulis, atau ada juga teman yang menikmati prosa hasil bersenang-senang saya. :D

Bicara soal bermanfaat, saya juga beberapa kali melihat konten blog saya 'dipindahkan' ke blog atau situs lain. Baik dengan mencantumkan credit, maupun tidak mencantumkan. Ini nih contohnya:


Review novel 'My Boyfriend's Wedding Dress' di http://kpopkoreadrama.blogspot.com/2012/08/review-novel-my-boyfriends-wedding.html yg diambil dari sini (thx for putting the credit :) )


Review novel 'Seoul Cinderella' di http://www.bukabuku.com/browse/bookdetail/2010000041574/seoul-cinderella.html yg sayangnya nggak mencantumkan credit ke blog saya, padahal jelas-jelas persis dengan yang di sini :(

Yah, kesal juga sih kalau ada yang main catut isi blog tanpa mencantumkan credit. Waktu itu sempat protes ke yang bersangkutan lewat twitter tapi nggak digubris. Tapi ya sudahlah, nggak mau terlalu ambil pusing karena kan tujuannya bagus, buat promosi buku. Ya senang aja kalau tulisan saya bisa berguna buat bahan promosi. :)

Jadi menurut saya, nge-blog itu banyaaak sekali manfaatnya. Bayangkan ketika ada pengunjung ke blog kita karena mereka sedang googling tentang satu info dan diarahkan ke blog kita, wuaaah! Rasanya senang dan bangga! :D 

Oh ya, selain blog ini yang isinya lumayan random, saya juga punya satu blog lagi yang isinya khusus tentang traveling, yaitu http://travelerwannabe04.blogspot.com/ saya buat sejak September 2011. Di sana saya sharing tentang catatan perjalanan saya, info, tips, dan hal-hal lain berkaitan dengan traveling

Seru banget lah, karena melalui media blog saya bisa menyalurkan kesukaan-kesukaan saya yaitu: baca, menulis, dan traveling. Saya percaya ketika kita menyukai sesuatu dan melakukannya secara kontinyu dan (sebisa mungkin) serius, maka hal tersebut akan membawa hasil baik buat kita. Mungkin bukan sekarang, tapi suatu saat nanti. :) Dan lewat blog lah saya melakukan hal tersebut. Bukan nggak mungkin kesukaan yang berujung passion itu akan mewujudkan mimpi-mimpi kita. Amin!

Selamat Hari Blogger Nasional, kawan-kawan blogger! :)

dinoy

Monday, October 22, 2012

A Bite About CheekyRomance


Info Buku:
Judul Buku: Cheeky Romance
Penulis: Kim Eun Jeong
Penerbit: Haru
Genre: Romance Comedy
Kategori: Fiksi, Novel terjemahan
Tebal: 450 Halaman
Harga: Rp 65.000


Berawal dari diselingkuhi pacar yang merupakan rekan kerja sendiri, berimbas pada tindakan emosional yang malah berakibat fatal pada kelangsungan karir Yoo Chae di sebuah stasiun TV. Sebagai seorang reporter, karir Yoo Chae selama ini bisa dibilang biasa-biasa saja. Dia belum pernah sekali pun dipercayai memegang satu acara tetap. Suatu hari kemarahannya yang dilampiaskan dengan menulis makian di situs jejaring sosial milik perusahaannya, membuat dia dikecam dan terancam kehilangan pekerjaannya. Untungnya, ia masih dipercaya untuk membawakan satu program acara secara langsung, dan tugas pertamanya adalah liputan tentang salah satu restoran. Hal yang menyenangkan menurut Yoo Chae, namun ia tak menyangka bahwa ini adalah awal pertemuannya dengan Yoon Pyo yang membawa petaka.

Bagi Yoon Pyo, profesinya sebagai seorang dokter kandungan membuatnya memperhatikan benar hal-hal sekitar ibu hamil dan kondisi janin. Makanya ia sering gemas dengan ibu-ibu hamil yang tidak menjaga kandungannya dengan baik dan berbuat macam-macam. Anak adalah suatu anugerah dari Tuhan, dan tidak setiap perempuan beruntung dikaruniai kemampuan untuk mengandung dan melahirkan bayi. Yoon Pyo tidak habis pikir jika ada seorang calon ibu yang mengabaikan kondisi janinnya.

Yoo Chae yang baru saja bisa mengatasi masalah yang diakibatkan karena tindakan emosionalnya, dan Yoon Pyo yang harus menghadapi ibunya yang tidak pernah akur dengannya, secara tidak sengaja bertemu di salah satu restoran. Dengan tidak sabaran dan penuh emosi, Yoon Pyo melabrak Yoo Chae yang mengkonsumsi makanan dan minuman yang berbahaya bagi janinnya. Yoo Chae merasa terkejut dengan kehadiran pria yang tahu-tahu mengacaukan pekerjaannya itu.  Ia bertekad akan melakukan tindakan untuk membalas perbuatannya. Namun yang terjadi, Yoo Chae dan Yoon Pyo malahan disandingkan dalam sebuah acara dokumenter. Apakah Yoo Chae menyetujui untuk syuting bersama Yoon Pyo? Bagaimana Yoon Pyo mengatasi kekacauan yang diakibatkan oleh sifat tidak sabarnya?

Setelah konflik antara idola dan antifan (So, I Married the Anti-fan), calon pengantin dan gaun pengantin yang tertukar (My Boyfriend’s Wedding Dress), Kim Eun Jeong kembali menuliskan ide yang segar di novel ‘Cheeky Romance’ ini. Konflik antara reporter wanita dan dokter kandungan pria yang menjadi idola di rumah sakit. Konflik yang diawali dari suatu kesalahpahaman yang terlanjur beredar di masyarakat luas, membawa dua manusia ini ke dalam kisah cinta yang menggelitik. Permasalahan keluarga yang membalut cerita ini juga menambah pesan moral yang disampaikan di novel ini. Masih dengan kekhasan Kim Eun Jeong yang menuliskan alur cerita dengan dialog dan adegan yang taktis dan seru, sehingga novel ini dapat dengan mudah divisualisasikan ala drama Korea oleh pembacanya.



dinoy

Sunday, October 21, 2012

Close To You - a Novel Review


Info Buku
Judul Buku: Close To You
Penulis: Clara Canceriana
Penerbit: Haru
Genre: Romance
Kategori: Fiksi, novel lokal
Harga: Rp 42.500
Tebal: 264 Halaman
Terbit: Oktober 2012


“Kau… pernah jatuh cinta pada dua orang sekaligus?” 

Jatuh cinta pada dua orang sekaligus, itulah yang Hara rasakan saat ini. Hara menyukai Alex, teman bicara di dunia maya yang menyenangkan. Alex mengenali Hara melalui sebuah nama, Lee. Lee yang dikenali Alex adalah gadis yang manis, lembut, dan ramah diajak bicara. Setiap hari mereka berbincang lewat skype tentang banyak hal. Terutama menceritakan perasaan masing-masing akan hari yang baru saja dilalui.

Di kehidupan nyata, sosok Hara berbeda dengan yang dikenali Alex. Hara tidak suka siapa pun menghalangi jalannya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Baginya, tidak ada basa basi, dan setiap orang yang tampak menyebalkan di matanya akan langsung mendapatkan ganjarannya. Cewek yang galak, begitu ia biasa dijuluki. Penampilannya yang tomboi menyembunyikan kecantikan wajahnya. Padahal dibalik sifatnya yang galak dan keras terhadap orang lain, sebenarnya Hara tetaplah perempuan yang memiliki jiwa yang sensitif. Peristiwa di masa lalu membuatnya membentuk dirinya sendiri menjadi seolah-olah tidak memerlukan orang lain. Saat Hara mulai merasakan kenyamanan bersama Alex, Shin Kang datang mengusiknya. Kang adalah mantan pacar Hara yang dulu memutuskannya karena berselingkuh dan tidak tahan dengan pribadi Hara. Namun kini Kang kembali hadir dan berusaha untuk menjadikan Hara sebagai pacarnya lagi. Akankah Hara menerima Kang kembali?

Belum selesai urusannya dengan Kang, ada cowok lain yang juga mencuri perhatian Hara. Dia adalah Bayu, mahasiswa asal Indonesia. Menjadi mahasiswa asing di negara dengan bahasa yang tidak bisa dibilang mudah untuk dipelajari, membuat Bayu agak kesulitan untuk berinteraksi dengan kawan-kawan kampusnya. Apalagi ia adalah cowok yang minder. Pada akhirnya ia menggunakan kemampuan dan ketelatenannya dalam mengerjakan tugas kuliah untuk bisa berinteraksi dengan para gadis. Oh, salah, tepatnya gadis-gadis itulah yang memanfaatkan kemampuannya. Mereka mendekati Bayu untuk sekadar minta dibuatkan tugas atau menyalin catatan mata kuliah. Dan Bayu tidak menolak. Dengan kenaifannya ia berpikir bahwa gadis-gadis itu sungguh-sungguh memerlukan pertolongannya. Namun justru Hara lah yang kesal akan hal ini dan memperingatkan Bayu untuk tidak menuruti kemauan mereka. Kenapa Hara menjadi sepeduli itu terhadap Bayu? Sebenarnya siapakah yg Hara sukai?

Novel kelima karya Clara Canceriana ini bercerita tentang kehidupan mahasiswa di Korea. Di novel ini kita akan diajak menyelami beberapa kebiasaan mahasiswa Korea, juga budaya-budaya negeri tersebut. Lewat kisah di antara kedekatan Hara-Alex-Lee-Bayu-Kang di Kwangdae University, Seoul, kita juga akan diajak untuk menyelami setiap perbedaan karakter dan cara mereka mengungkapkan perasaan masing-masing. 


dinoy

Friday, October 12, 2012

Ceker Ayam Pertamamu di Kencan Terakhir Kita


“Kamu ini lapeer, apa doyan, sih?”

Aku mendengar tawa kecilmu di sela kesibukanku menikmati makanan di hadapanku dengan lahap. Atau kalap. Ah, bodo amat.

“Kenapa emang? Enak banget lho ini, yakin nggak mau ikut makan?”

Kamu menggeleng sambil tersenyum dan memainkan sedotan di gelas es jerukmu. Tapi aku tahu sebenernya diam-diam kamu sudah mulai tergoda sama makanan yang sedang kusantap ini. Tuh, lihat aja matamu dari tadi curi-curi pandang ke arah mangkukku. Jadi sekarang aku sengaja memakannya dengan lambat di hadapanmu. Gerakanku mengangkat isi di dalam mangkuk kemudian mengunyahnya sengaja kubuat berlebihan.

“Ih, emang nggak jijik ya makan ceker ayam gitu? Kan kotor pas hidup si ayam suka ngais-ngais tanah,” ujarmu sambil memperhatikanku menggigiti tulang kaki ayam yang telah dimasak bersama dengan daun bawang, kunyit, serai, ditambahi kol, tomat dan toge. Jadilah Soto Ceker Ayam.

“Enak kali, kamu cobain dulu deh baru komentar,” provokasiku sambil mengisap si ceker hingga menimbulkan bunyi ‘sluurrrpp’... kulihat kamu menelan air ludahmu. Aku tertawa dalam hati.

“Mau?” aku menyodorkan sendok dengan ceker ayam ukuran kecil di atasnya. Kamu menatap dengan ragu.

“Justru ya, karena si ayam ini semasa hidupnya sering jalan-jalan ke mana-mana, makanya kakinya pas dimasak jadi sedap gini. Mungkin pengaruh tanah yang meresap ke cekernya kali, ya?”

“Ah, Tony, jijik ah…” serumu geli, aku semakin tertawa.

“Udah cobain aja dulu, nggak bakal sakit perut deh, kan aku sering makan di sini,” tukasku sambil menyorongkan sendok ke mulutmu, bagai seorang ibu yang merayu anak balitanya untuk makan. Sejenak kamu menarik kepalamu ke belakang sambil memperhatikan sendokku, namun akhirnya kamu membuka mulutmu juga. Kamu mulai mengunyah ceker yang kusuapkan, lalu tangan kananmu ikut campur tangan memegangi tulang sementara gigi dan lidahmu sibuk menggigiti daging yang menempel dan mengisap bumbu yang meresap di tulang.

“Gimana?” tanyaku setelah memperhatikan ritual barumu itu. Kamu nggak berkomentar apa-apa, tapi tangan kananmu dengan cekatan merebut sendok dari genggamanku, dan mengambil kuah soto dari mangkukku untuk dirimu sendiri.

“Ih, kuahnya seger banget ya, Ton!” serumu. Dan kamu nggak berhenti, lanjut menyuapkan ceker yang tersisa, lalu toge, berikutnya kol,  dan tak lupa tomat. Kamu sibuk menghabiskan makanan yang tadinya milikku. Aku tertawa terbahak-bahak dan kamu tak mengacuhkanku.

“Tuh kan, enak kan? Mas, Soto Ceker-nya satu porsi lagi, ya!” aku terpaksa memesan lagi karena sebenarnya perutku masih lapar.

Kita ngobrol banyak malam itu, bahkan setelah seporsi nasi dan Soto Ceker Ayam di hadapan kita masing-masing telah tandas. Aku membuatkan sebuah dongeng untukmu tentang ‘Si Ayam Backpacker’. Ayam yang selama hidupnya doyan jalan-jalan ke berbagai pulau di Indonesia, sebelum akhirnya hidupnya berakhir di tangan seorang pedagang ayam di pasar Senen, dibeli oleh Mat Ali penjual Soto dari Madura yang merantau di Jakarta, diolah dengan bumbu-bumbu rahasia keluarga dan jadilah Soto Ceker Ayam yang tersaji di hadapan kita. Kamu menyimak penuh perhatian seolah percaya dengan ceritaku. Dan akhirnya pukul sebelas malam lewat, kita terpaksa menyudahi kencan pinggir jalan kita, saat Mat Ali hendak membereskan warung tendanya karena dagangannya telah habis terjual.

“Kapan-kapan ajak aku makan ke sini lagi, ya,” ujarmu saat aku menyodorkan helm.

“Siap, tuan putri, asal nggak kapok aja makan ceker ayam yang katanya menjijikkan itu,” godaku.

“Nggak jijik kok ah, kan udah dimasak yang bener,” jawabmu seolah ingin meyakinkan diri sendiri, aku tergelak untuk kesekiankalinya. Malam ini kamu begitu lucu di hadapanku.

“Putri, pulang sama ayah saja, ya.” Baru saja aku selesai menyalakan motorku dan kamu bersiap naik di boncengan belakangnya, saat tiba-tiba terdengar suara bariton dari pria paruh baya di belakangmu. Kamu terkejut, apalagi aku.

“A..ayah? Lho, kok bisa ada di sini?” aku mengangguk penuh hormat ke pria yang kamu panggil ayah itu. Yang bulan lalu dengan tegas memintaku menjauhimu. Yang membuat kita jadi nggak bebas lagi bertemu. Yang membuatmu jadi sering berbohong demi kebersamaan kita. Pria yang menjadi penghalang hubungan cinta kita karena perbedaan status, dan agama.

“Sudah malam, ayo kita pulang, Nak,” pak Heru, nama ayahmu, dengan tenang melepaskan helm dari kepalamu, menyerahkannya padaku tanpa perlu menatap wajahku, dan menggandeng tanganmu melangkah menjauhiku. Menuju mobil yang diparkir tak jauh dari situ. Baru kusadari kalau di depan mobil ada ibumu sedang berdiri juga. Wajahnya menyiratkan rasa takut dan khawatir jadi satu. Aku tersenyum sambil mengangguk kepadanya.

Malam itu, kamu tidak pulang bersamaku, melainkan bersama orang tuamu dengan mobil Alphard hitam mereka. Malam itu, jok belakang motorku kembali menjadi dingin, karena aku harus pulang sendirian, sambil menenteng helm satu lagi yang akhirnya tak terpakai. Malam itu, untuk pertama kalinya akhirnya kamu mau menikmati makanan dari bahan dasar kaki binatang. Malam itu, adalah kencan kita yang menyenangkan. Sekaligus kencan terakhir kita. :(

dinoy
terinspirasi habis makan Soto Ceker Ayam di depan Lottemart Fatmawati

:))

Thursday, October 11, 2012

With You, Sehari Bersamamu


Info Buku:
Judul: With You - Sehari Bersamamu
Penulis: Christian Simamora & Orizuka
Penerbit: Gagas Media
Genre: Romance
Terbit: Juli 2012
Tebal: 316 Halaman
Harga: Rp 50.000

Dua penulis dengan kepribadian dan gaya penulisan yang berbeda, disandingkan dalam proyek novel duet oleh Gagas Media yang berjudul ‘With You’.  Ini adalah buku gagas duet yang kedua yang saya baca setelah ‘Kala Kali’ dan terus terang, saya lebih menyukai konsep duet yang ini. Kenapa? Meskipun saya menyukai dua novela yang disandingkan di ‘Kala Kali’, namun saya kurang bisa menangkap dengan jelas benang merah di antara keduanya. Menurut saya lebih baik jika dua novela itu berdiri sendiri. Namun di novel ‘With You’, selain saya menikmati dua cerita yang berbeda di dalamnya, namun saya juga dengan mudah setuju kalau keduanya disandingkan dan memiliki satu benang merah. Apa benang merahnya? Sabar dulu, ya! ;)

‘Sehari bersamamu’ adalah tagline yang ditampilkan di novel ini. Saat pertama kali tahu dari teman kalau dua novela ini sama-sama mengambil setting waktu satu hari, dan diperkuat lagi saat saya membaca keterangan di sampul bukunya, saya seperti berpikir “Hah, serius nih cuma seharian aja ceritanya? Cungguh? Miapaaahh??* *okay, that was too much! :D* Maksud saya, akan seperti apa kisah yang hanya mengambil waktu sehari dituliskan sepanjang setengah novel? Apa nggak maksain tuh adegan-adegannya? Apa nggak ngebosenin? Oke, daripada sok menilai tapi nggak tahu lebih dalam, saya putuskan untuk membeli dan membacanya.

Dua novela dalam ‘With You’ ini masing-masing memiliki judul ‘Cinderella Rockefella’ yang ditulis oleh Christian Simamora dan ‘Sunrise’ yang ditulis oleh Orizuka. Dua penulis yang memiliki karakter berbeda (salah satu penulis sendiri mengungkapkannya di kata pengantar) serasa mewakilkan kepribadian masing-masing di tokoh utama novelanya. Cindy Tan (Cinderella Rockefella) adalah seorang model yang suka bicara ceplas ceplos, cepat menilai orang lain, dan juga jutek-mewakili karakter ekstrover. Sementara Lyla (Sunrise) adalah karakter gadis yang sederhana, pendiam, dan mudah menerima apa yang terjadi di hadapannya –mewakili karakter introver.

Gaya bahasa dua tokoh utama tersebut tentu saja berbeda. Cara pandang dua gadis ini tentang cinta pun tak sama. Apalagi hal-hal yang mereka lakukan saat mendekati atau didekati seorang pria. Hal ini terlihat misalnya saat Cindy bersama Jere. Meski ia nggak mudah menahan dirinya yang sebenarnya terpesona dengan sosok pria itu, namun ia masih bisa mengimbangi sikap Jere saat mereka makan malam berdua. Sementara Lyla masih merasa kikuk setiap kali ia harus bersinggungan dengan Juna, mantan pacar yang saat ingin ia hindari.

Oh ya, tadi saya sempat meragukan tentang apakah cerita yang disajikan menjadi maksa dan membosankan dengan setting waktu hanya sehari? Jawabannya: nggak. Setiap adegan terasa mengalir. Juga selipan flash back ke masa lalu tidak terasa berlebihan. Dan peralihan antara ‘Cinderella Rockefella’ ke ‘Sunrise’ terasa smooth, dengan menjadikan hubungan persaudaraan Cindy dan Lyla sebagai jembatannya.

‘Keduanya mempersembahkan dua cerita cinta yang menemukan takdirnya dalam satu hari saja’ .. dan saya langsung setuju dengan premis yang diajukan tersebut. Jadi apa benang merah yang saya dapat di novel duet ‘With You’ ini? It’s about finding the one, only in one day. :3


dinoy

Wednesday, October 10, 2012

That Should be Me ..


“Fan, kamu nggak apa?” aku bergeming saja saat Antho memanggil namaku. Aku masih terpaku dengan pandangan mataku ke luar mobil, sementara kedua tanganku mencengkeram setir dengan kuat.
“Sejak kapan mereka berdua seperti itu, Tho?”

“Kamu tenang dulu deh, Fan, mungkin ini nggak seperti yang kita lihat. Mungkin ini cuma bentuk keakraban mereka saja sebagai sahabat. Kamu jangan emosi dulu, Fan.”

Aku berpaling dan memandang Antho. “Tho, aku tanya, sejak kapan mereka berdua seperti ini? Tolong jangan sembunyikan apa pun yang kamu ketahui dari aku, Tho.”

Antho menghela napas sebelum menjawab, “Nggak lama setelah kamu berangkat ke Bangkok, Fan, kira-kira sebulanan setelah itu.”
_____
“Sayang, kamu yakin kita sanggup LDR-an? Nggak gampang lho, sayang.”

“Terus mau kamu gimana? Kita putus? Tapi aku sayang banget sama kamu, Fandi .. Cuma dua tahun, kan? Aku akan menunggu, kita pasti bisa, sayang.” Nadamu terdengar merajuk saat kita makan malam di restoran favorit kita. Restoran yang menyajikan sirloin steak terlezat di penjuru kota ini.

Aku merasa berat sekali harus mengabarkan kalau kita akan terpisah dua negara karena pekerjaanku. Perpisahan bukanlah hal yang aku inginkan dari hubungan kita, namun untuk membayangkan nggak bisa ketemu kamu dalam kurun waktu tujuh ratusan hari saja sudah membuatku merinding. Aku takut segalanya akan berubah. Maka dari itu aku mengungkapkan hal ini kepadamu, sekaligus mencari jalan keluar untuk masalah ini.

“Jadi?” tanyaku sekali lagi, “Kamu mau kita tetap pacaran.. jarak… jauh?” aku mengucapkan tiga kata itu seperti mengeja. Aku ingin kamu yakin dengan segala konsekuensinya. Jika kamu yakin, aku pun akan yakin pula untuk melakukannya. Karena aku menyayangimu.

“Nggak akan mudah tapi aku akan berusaha, sayang, kan sekarang sarana komunikasi juga makin banyak. Kita pasti bisa, ya!” kamu mengangguk mantap. Mendadak hatiku terasa lebih ringan karenanya.
_____

“Adly itu teman satu kosku, Fan, jadi aku tahu hampir segala sesuatu yang dilakukannya. Jadi aku nggak mau kamu sampai merasa aku memprovokasimu, ya.”

“Aku tahu, Tho, aku tahu itu. Makanya aku meminta kamu menunjukkan kepadaku langsung akan hal ini.”

“Dan kamu juga tahu kan kalau Rosa dan Adly bersahabat sejak lama? Maaf, aku juga sering melihat Rosa main ke kos-anku, tentunya untuk bertemu dengan Adly. Menurutku, untuk ukuran sahabat, keakraban mereka agak berlebihan. Tapi ya, aku nggak mau begitu saja menilai buruk, aku mau kamu menyimpulkan sendiri.” Lagi, aku mengangguk menerima penjelasan Antho. Aku sudah mengenal Adly sejak sebelum jadian dengan Rosa. Adly adalah sahabat Rosa sejak SMA, gara-gara dia juga aku berhasil mendekati Rosa dan menjadikan dia sebagai pacarku.
_____

Rosa: Malem, sayang, maaf ya aku lama balas whatsappnya, baru pulang, nih. Kamu belum bobok?
Fandi: J Nggak apa, sayang, aku belum tidur kok, masih nonton tv nih. Ah, sinetron Thailand parah banget, deh. :))
Fandi: Kamu dari mana, sayang? Kok malem banget pulangnya?
Rosa: Oh.. aku baru aja balik dari kos-nya Adly. Kasian sayang, Adly lagi sakit demam, makanya aku datang buat jenguk sekaligus kasi makanan. Jomblo gitu mana ada yang ngurusin? :))
Fandi: Ooo. Kasian juga itu bocah. Terus gimana, udah mendingan belum?
Rosa: Udah lumayan turun sih, panasnya. Eh sayang, besok lanjut lagi ya ngobrolnya, aku nguantuuk banget nih, L
Fandi: Okay! Miss you, sayang, Nite .. :*

Mataku terpaku menatap iPhone di genggamanku. Namun setelah menunggu sekitar sepuluh menit, tak ada lagi balasan dari Rosa. Ah, mungkin gadisku terlalu lelah sehingga langsung tertidur. Lebih baik aku bersiap untuk beristirahat juga.

*
Saat pagi menjelang, aku langsung mengecek layar iPhoneku. Ada notifikasi whatsapp di layar utama. Pasti Rosa membalas ucapan kangenku semalam, pikirku. Dengan semangat aku mencari fitur dengan ikon berwarna hijau itu.

Tania: Morning, Fandi. Make sure you won’t be late today; we have something to be discussed before meeting at 10, remember? ;)

Ah, dari cewek Filipina, rekan kerjaku di kota Bangkok ini. Aku kembali memeriksa percakapan terakhirku dengan Rosa semalam. Benar saja, tidak ada pesan baru yang masuk, pesan terakhir adalah saat aku mengungkapkan kerinduanku. Hhhh… Jariku dengan cepat mengetikkan pesan baru di bawahnya.
Fandi: Pagiii, Rosaku yang cantik. Udah bangun, kan? Ayo semangat ya, hari ini, kecup sayang dari Bangkok. :*

Lalu aku beranjak mandi.
_____

“Apa Adly pernah cerita, kalau dia sedang dekat dengan seorang perempuan, Tho?”
Aku kembali menanyai Antho sambil terus mengawasi gerak-gerik dua orang yang sedang makan bersama di sebuah kedai makanan Italia. Saling menyuapkan dua jenis pasta yang berbeda dari piring mereka. Ah, aku muak melihatnya.

“Nggak pernah, Fan, satu-satunya gadis yang aku lihat bersamanya baik di kos maupun di kampus, ya Rosa. Selebihnya, Adly paling-paling pergi bareng gank cowoknya.”

“Biasanya kamu melihat mereka di mana aja?”

“Di kantin kampus, kadang-kadang di ruang baca, dan seringnya ya, di kamar kos Adly. Fan, sudahlah, lebih 
baik kamu menanyakan langsung pada Rosa daripada curiga nggak jelas gini. Belum tentu kan mereka seburuk yang kita kira, mungkin saat itu Rosa sedang meminta bantuan kepada Adly, aku juga nggak bisa memastikan hanya dengan menduga-duga.”
“Hhhh…”
_____
Malam itu, aku ingin memberi kejutan dengan meneleponmu di hari ulang tahunmu. Sejak pagi hingga seharian aku menahan diri untuk nggak mengucapkan selamat ulang tahun padamu, pura-pura lupa. Tetap mengobrol seperti biasa, tapi mengacuhkan status whatsappmu yang sedang menunjukkan kalau hari itu usiamu bertambah setahun. Lalu tepat pukul 21:35 Waktu Bangkok, atau sama saja dengan WIB, aku menghubungimu. Tepat di jam kelahiranmu. Aku menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan suara terbaikku untuk menyanyikan lagu ulang tahun buatmu, namun sejauh yang bisa didengar telingaku hanyalah nada tunggu. Sampai sekitar delapan kali nada tunggu itu berbunyi, hingga tersambung otomatis dengan kotak suara. Aku nggak menyerah. Aku nggak mau ngomong sama mesin, aku harus mengucapkan langsung padamu. Maka kucoba lagi sambungan internasional ke nomor telepon genggammu. Akhirnya di nada tunggu kelima, telepon pun tersambung.

“Haaap..”

“Halo?”

“ … ”

Aku terkejut dan buru-buru mengatupkan bibirku yang siap menyanyikan lagu selamat ulang tahun, saat mendengar suara yang jelas-jelas bukan suaramu. Ini suara seorang pria.

“Eh, halo ini Fandi, ya? Sori ya Fan, handphonenya Rosa lagi sama gue. Eh iya, ini Adly. Jadi tadi kita pergi bareng terus Rosa mampir ke kos gue buat ambil buku kuliah. Eh, handphonenya ketinggalan, deh.”
Aku mencoba mencerna penjelasan si penerima telepon. Oh, begitu ceritanya. Pantas saja daritadi Rosa nggak cerewet di whatsapp seperti biasanya. Rupanya handphonenya tertinggal di tempat Adly. Aku mengurut kepalaku, merutuki kebodohanku sendiri yang sok mau ngerjain pacar sendiri, akibatnya malah sekarang aku nggak bisa mengucapkan ulang tahun padanya.

“Oke deh, thanks ya Dly. Tolong bilang aja sama Rosa kalau ada telepon dari aku, pas hp ini udah balik ke dia.” Aku menutup sambungan telepon dan menghempaskan diriku ke tempat tidur. Menenggelamkan kepalaku di balik bantal. Aarrgh, aku rindu sekali pada Rosa!
_____

“Menurutmu, apa wajar sepasang sahabat berlaku mesra seperti itu?” telunjukku mengarah pada seorang perempuan di dalam kedai itu yang kini dengan telaten membersihkan mulut teman makannya dengan tisu. Mereka berpandangan sambil tersenyum saat perempuan itu menunjukkan perhatiannya. Aku sungguh muak melihatnya, tapi sampai detik ini aku masih harus menahan emosiku.

“Harusnya sih nggak begitu, tapi entahlah,” jawab Antho tak enak.

By the way, memangnya kamu nggak merasa sikap Rosa berubah sama kamu? Seharusnya kamu bisa menyimpulkan sendiri kan dari hubungan kalian selama ini. Rasanya nggak semudah itu buat seorang perempuan membagi perhatiannya kepada dua orang pria sekaligus. Ya, kecuali dia play girl. Tapi rasanya Rosa bukan tipe cewek seperti itu, deh.” Antho mencoba menganalisa. Aku mengangguk-angguk kecil.

“Di bulan-bulan pertama, Rosa memang masih hangat, Tho. Dia sering bilang kalau dia kangen sama aku, pengin banget ngobrol sama aku. Dan kalau kami sedang berbincang di telepon, dia sering merajuk minta dipeluk. Membuat aku semakin rindu saja. Tapi rasanya, itu hanya berlangsung sekitar tiga bulanan, deh. Setelah itu aku baru sadar kalau dia semakin cuek. Semakin jarang menyapaku di whatsapp kalau bukan aku yang menyapa duluan. Percakapan yang dulu panjang pun juga sekarang semakin pendek. Dia juga semakin jarang mau ditelepon, ada aja kesibukan yang menjadi alasannya. Ya, aku mencoba maklum aja sih. Di suatu hubungan jarak jauh, memaksakan untuk terus dekat adalah kunci utama untuk perpisahan, dan aku nggak mau itu terjadi. Sampai akhirnya dua minggu lalu atasanku meminta untuk aku ke Jakarta karena urusan kantor, dan aku berinisiatif memberinya kejutan. Nyatanya, malah aku yang dikejutkan seperti ini. “

“Maaf ya Fan, kamu harus tahu hal yang nggak enak kayak gini,” ujar Antho.

“Nggak lah, Tho, justru aku yang terima kasih sama kamu karena udah mau nunjukkin sama aku. Kalau nggak, aku nggak tahu gimana reaksiku kalau tahu hal ini sendirian, bisa kalap nggak jelas deh. Haha!” aku tertawa, Antho ikut tertawa sambil menepuk pundakku.

“Eh, Fan!” Antho berseru sambil dagunya mengarah ke arah restoran yang sedang kami amati. Sepasang yang tadi tampak romantis makan bersama kini sedang melangkah keluar restoran. Mereka berbincang akrab, si perempuan melingkarkan tangan kanannya di lengan kiri si pria. Si pria tersenyum lebar sambil menceritakan sesuatu entah apa yang tampak lucu, sehingga si perempuan tertawa. Aku membuka pintu mobilku.

“Fandi, mau ke mana, kamu?” sergah Antho. Aku sudah nggak memedulikan lagi seruan sahabatku itu. Aku melangkahkan kakiku cepat, mendekati dua orang itu sebelum mereka memasuki sebuah taksi. Ketika aku sudah ada di hadapan mereka, si perempuan tampak tercekat dan mematung. Tapi tangannya tetap dilingkarkan di lengan si pria, seolah sudah ditempeli lem. Si pria yang kikuk lantas tersadar dan buru-buru melepaskan tangan perempuannya.

“Halo, Rosa apa kabar,” aku mencium pipi kirimu dengan lembut, ”aku perlu bicara sama kamu. Yuk!” dengan kalem namun tegas aku menggandeng tanganmu yang tadi bergelayut pada Adly. Beranjak pergi meninggalkan pria yang berusia tiga tahun lebih muda dariku itu.


***

That should be me holding your hand
That should be making you laugh

That should be me this is so sad

That should be me, that should be me

That should be me feeling your kiss

That should be me buying you gifts
This is so wrong, I can't go on
'Til you believe that you should be me
(That Should be Me by Justin Bieber feat. Rascal Flatts)  

I like this song and come up with an idea to wrting this short fiction last night ^^
dinoy