Monday, January 7, 2013

Dear Friend.. Good Bye :(

Dear friend,

the hardest thing to say and do for years we've been through is say goodbye..

i notice that things have changed lately, and i thank you for you already tried to show it to me..

i catched all the signs, i guess.

All you need is friends and laugh.. and you get it from them.

Meanwhile with me you only got a friend... the annoying one.

So i would try, don't worry..

to do bye, and let you free..

I guess, this is it. :)

Saturday, January 5, 2013

Demi Ucok.. Film yg Batak Banget! Indonesia Banget!!


Well, i can say that i'm a happy movie goers and of course, proudly Indonesia citizen.. 

Dalam 3 minggu terakhir saya pergi ke bioskop untuk nonton 3 film Indonesia berturut-turut, dan semuanya bermutu! Berhasil memuaskan saya yang butuh hiburan dan tontonan berkualitas. Pertama, 13 Desember 2012 saya menonton 5 CM di XXI PIM 1, lalu 28 Desember film Cinta tapi Beda di XXI Blok M Square, dan beberapa jam lalu menyaksikan Demi Ucok di Blitz Megaplex Pacific Plaza. Dan film Indonesia terakhir yang saya tonton benar-benar klimaks buat saya dari kedua film yang sebelumnya yang berbeda tema. Begini ringkasan cerita dan ulasan saya tentang Demi Ucok...

Sepanjang film kamu tidak akan menemukan seorang yang bernama 'Ucok' seperti judul filmya, namun judul tersebut merupakan analogi dari pria batak yang dinanti-nanti oleh seorang ibu untuk menjadi pasangan hidup anak gadis tunggalnya. Ibu batak tersebut bernama Mak Gondut, dan anaknya bernama Gloria Sinaga atau akrab dipanggil Glo. Hubungan ibu-anak yang ditunjukkan oleh Mak Gondut dan Glo ini bagi saya ibarat sebuah pertemanan yang seru, pula seperti Tom & Jerry. Kenapa? Karena dua perempuan berbeda generasi ini bercakap-cakap layaknya dua orang yang sebaya. Glo selalu punya kata-kata untuk membalas seruan emaknya, sementara Mak Gondut tak pernah hilang akal untuk menunjukkan bahwa dialah yang superior di sini. Ya, seperti itulah orang batak, bicara tanpa tedeng aling-aling dan dengan nada suara yang tinggi - bukan berarti marah atau tak sopan. Mak Gondut yang sudah menjadi janda merasa tak tenang dan tak bahagia jika belum melihat anaknya menikah - dengan pria batak - sementara Glo bersikeras tak ingin kawin dulu sebelum ambisinya membuat film kedua yang jauh lebih berkelas daripada yang pertama terpenuhi. Dan pertarungan antara dua keinginan yang sama-sama kuat inilah yang menjadi inti cerita film ini.

Dari sejak film dimulai saya sudah dibuat terkesima. Dengan adegan pesta batak yang akbar, lengkap dengan baju kebaya yang khas, lagu dan tarian meriah oleh seluruh pengunjung, juga sajian kepala babi. Saya memang bukan orang batak, namun saat sekolah dan kuliah memiliki banyak sahabat dari keluarga batak, sehingga sedikit banyak tahu tentang tradisi dan budaya batak. Film ini dibalut komedi, dan hampir sepanjang film saya tergelak dengan dialog yang menohok namun disampaikan dengan lucu. Namun di sekitar 20 menit terakhir saya akhirnya menitikkan air mata haru dengan kejadian yang menyentuh. Dua tokoh utama pun berhasil memainkan perannya dengan maksimal. Apalagi setelah menyaksikan film dan berbincang dengan teman, baru saya tahu kalau Mak Gondut baru pertama ini bermain film. Wow, dengan akting yang seperti itu, saya rasa beliau jagoan sekali! Satu line pendek yang sering diucapkan Mak Gondut yang khas dan membekas buat saya, 'kawin, lah...!' Hahaha, antara memohon dan mendesak demi kebahagiaan sang anak sendiri. 

Film ini memaparkan tentang realitas keluarga Batak. Film ini sangat hidup, dan ada saja penyambung antar adegan yang membuat saya tersentak dan berpikir 'wow,bisa aja nyambunginnya!'. Misalnya, maaf jika agak spoiler, ada satu adegan saat Glo membanggakan keberhasilannya mengumpulkan dana untuk filmnya dari para pendukung di dunia maya, namun ternyata dukungan dari orang asing itu juga tak lepas dari pengaruh emaknya. Nah, di sinilah moral film ini disampaikan, bahwa seberapa pun kita merasa hebat dengan usaha kita, tetap saja ada tangan tak kasat mata yang menolong kita, tangan orang tua. Di momen ini Glo menyadari, hidupnya tak berarti tanpa emaknya.

Yang saya sukai juga dari film ini adalah, setelah sepanjang film kita seolah disuguhi adegan pertarungan antara Mak Gondut dan Glo, siapa yang bisa mewujudkan keinginannya, namun di penghujung film penyelesaiannya dibuat agak menggantung. Maaf lagi jika spoiler ^^v Tapi di sini kamu tidak akan menemukan Glo yang berhasil membuat film yang laku keras, atau emaknya yang akhirnya melihat Glo bersanding di pelaminan dengan pria batak. Kehidupan pun kembali seperti 'biasa', membuat saya semakin mengacungkan jempol pada film ini. Banyak adegan yang berani beda dari film-film komersial yang lain, adegan yang membuat tertawa sekaligus sontak berujar 'gila kali ni film!', juga penyelesaian yang benar-benar membumi. Bukan happy ending yang dipaksakan.

Salut. Menjura. Kagum dengan film yang didasarkan pada kisah nyata sang sutradara, Sammaria Simanjuntak dan ibunya, ya si Mak Gondut itu sendiri adalah ibu kandungnya! Maka tak heran jika film ini terasa sangat hidup. Pendanaan film ini juga tak lepas dari peran serta seluruh kru dan pemain film ini  sejak setahun lampau. Lebih jelas tentang film yang kental dengan budaya batak ini dapat dilihat di web http://www.demiapa.com/demiucok/

Tentang cinta orang tua, tentang passion, dan tentang hidup. Film ini meninggalkan banyak pesan moral bagi saya. Awesome! :)


dinoy