Friday, September 14, 2012

Penjual Ketan Bakar


Di antara keriaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Bundaran Hotel Indonesia hari Minggu lalu, 09 September 2012, Bapak ini hadir dengan sederhana menjajakan ketan bakar. Tak mau kalah dengan keriuhan pesepeda, pejalan kaki, penjual otak-otak, dan remaja-remaja yang baru saja melakukan flash mob, ia dengan percaya diri hadir menjajakan sarapan sederhana ini.  Ketan bakar dibubuhi bubuk gurihnya, hm, pas dinikmati di pagi hari. :)

Artikel khusus untuk submisi Turnamen Foto Perjalanan Ronde 3 dengan tema: Potret



Monday, September 10, 2012

'Oppan Gang-Namseutayil!' - Photo Stories

Foto-foto berikut diambil tanggal 09 September 2012 sekitar pukul 07.45 - 08.45 di area Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Seperti biasa, tiap hari minggu pagi diadakan program ‘Hari Bebas Kendaraan Bermotor’ di sepanjang Jalan Sudirman – Thamrin, mulai pukul 06.00 – 12.00 WIB. Dan hari itu, salah satu yang memanfaatkan program HBKB adalah anak-anak muda yang melakukan tarian Gangnam Style, tarian dan lagu yang sedang tren dan dipelopori oleh rapper Korea – PSY


Yakh .. Sebelum ber Gangnam Style ria, yuk mari pemanasan dan latihan duluuu …

   

Jangan lupa briefing dan doa biar makin kompak ..



Massa udah mulai rame pengen flash mob Gangnam Style …


Oh well, bias juga sih antara yang pengen ikutan flash mob atau cuma sekadar penonton …

Oke, kita mulaaiii …

OPPAN GANG-NAMSEUTAYIL !!


And as the music goes, they dance ..

Hands, legs, BODY! SHAKE IT ALL!!

Even they insert Saman, traditional dance from Aceh in the middle…


They are young … They have fun!

 


And the crowd enjoying their performance…


They want more and dance by themselves…


Sampe pake kostum spesial, nih .. :D


......

Video asli Gangnam Style, tarian yang menggabungkan antara shuffling dan gerakan rodeo. So funny! ;)


Areumdawo sarangseureowo

Keurae neo hey keurae baro neo hey

Chigeumbu-teo kal dekkaji kabol-kka

OPPAN GANG-NAMSEUTAYIL !!

[PSY]

dinoy
















Friday, September 7, 2012

Resensi Trave(Love)ing



Judul: Trave(Love)ing

Penulis: Roy Saputra dkk
Penerbit: Gradien Mediatama
Genre: Nonfiksi, Travelogue
Harga: Rp 44.000 







Membaca buku ‘Trave(Love)ing’ berarti menyimak perjalanan Mia, Grahita, Dendi, dan Roy dalam menyembuhkan luka hati mereka akibat putus cinta. Dubai, Bali, Kuala Lumpur, dan Bangkok adalah tempat-tempat yang menjadi setting cerita mereka berempat.

Empat penulis dengan gaya bercerita yang berbeda-beda, menjalin runutan kisah yang peletakannya pun diatur sedemikian rupa sehingga pembaca menjadi nyaman membacanya. Mia dengan bahasa yang melankolis abis dan galau parah, Grahita juga dengan kegundahan hatinya malah melakukan beberapa kekonyolan dalam perjalanannya yang menjadikannya menarik. Dari sisi cowok sendiri, Dendi dan Roy memadukan unsur kesedihan hati yang dibalut komedi –khas cowok yang nggak mau terlihat mellow- juga menambah rasa buku ini. Jujur saja, saya sering merasa terganggu dengan jokes mereka yang di beberapa bagian malah terasa garing, but hey, inilah gaya mereka bercerita, nggak ada salahnya sih. :)

Hati Patah Kaki Melangkah

Inilah tagline yang disebutkan di buku ini. Saya jujur menjadi merenung juga saat membaca cerita mereka. Saya berpikir, berapa kali sih saya melakukan suatu perjalanan jauh dengan tujuan khusus? Berapa kali ketika saya sedang bepergian, saya memberatkan hati dan pikiran saya terhadap sesuatu, dan bukannya malah menyiapkan diri untuk petualangan-petualangan baru?? Jawabannya: sering. Perjalanan adalah salah satu cara kita merayakan diri. Merefleksikan masalah-masalah hidup yang sering kita abaikan di rutinitas keseharian. Dan pada akhirnya, perjalanan akan membawa kita melihat hal-hal baru demi mensyukuri apa yang telah kita lalui sampai saat ini.

Secara keseluruhan, saya menikmati cerita-cerita di Trave(Love)ing ini. Di antara keriuhan tren buku perjalanan, buku ini menjadi salah satu yang layak untuk dinikmati. Membawa nuansa baru dalam suatu cerita perjalanan.

Nah jika hatimu sedang gundah, sudah tahu kan salah satu cara yang ampuh untuk mengobatinya?? Melangkahlah, sesederhana itu, kok! :)

dinoy




Sunday, September 2, 2012

Kenangan Kereta



………..
…..
..

Saya memegang dada secara spontan. Turun dari boncengan motor ojek, mata saya disambut pemandangan padatnya antrian manusia di Stasiun Kereta Api Pasar Senen. Melirik jam di pergelangan tangan kiri, saya lega saya tidak terlambat, bahkan tepat saju jam sebelum jadwal keberangkatan kereta api Gumarang, yang akan membawa saya ke Surabaya malam ini. Tangan kanan saya beralih mengusap peluh di dahi, yang dihasilkan dari berpanas ria di jalanan Jakarta yang hari ini macet luar biasa. Mendekati puncak arus mudik lebaran, begitu berita yang saya baca di portal berita yang memperkirakan hari ini jalanan Jakarta akan lebih macet lagi dari biasanya. Dan memang perkiraan itu benar. Sepanjang Fatmawati – Mampang -  Kuningan – Cikini yang dilalui sekitar satu jam, indera penglihatan saya disuguhkan semerawutnya kendaraan bermotor yang memadati sepanjang jalan itu. Untungnya, bapak Ojek dengan keahliannya mengemudi motor mampu melihat celah-celah jalanan hingga mengantar saya stampai di stasiun ini dan jauh dari kata terlambat.

Setelah bertanya ke dua orang petugas yang berbeda, akhirnya saya memasuki ruang tunggu bagian dalam stasiun. Sistem peron stasiun saat ini sudah menyerupai mekanisme boarding di bandar udara. Tidak boleh masuk begitu saja ke ruang tunggu bagian dalam sebelum dipanggil sesuai nama keretanya, dan tiketpun diperiksa disesuaikan dengan kartu identitas. Sebenarnya ini merupakan suatu kemajuan, meski akhirnya perlu waktu yang lebih lama dan tampak kurang praktis.

 


Saya duduk di salah satu kursi dan meletakkan tas punggung lima puluh liter saya di dekat kaki. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan tampaklah ruang tunggu sudah dipenuhi oleh manusia-manusia megapolitan yang hendak menjumpai lagi kota-kota di mana mereka berasal sesungguhnya. Wajah-wajah menunggu yang terlihat rindu, senyum ramah terpancar dari ibu di sebelah, yang saya ketahui berasal dari Bekasi.

“Lho kenapa nggak ke stasiun Bekasi saja, bu, kan kereta Gumarang lewat sana juga?” tanya saya sopan.

“Kalau di Bekasi, keretanya cuma berhenti sebentar mbak, nggak bisa diprediksi juga waktu persis kedatangannya. Daripada ambil risiko, mending datang ke sini saja langsung. Lebih baik menunggu daripada terlambat,” jawabannya saya sambut senyum sambil menganggukkan kepala tanda setuju.

Detik selanjutnya saya lalu sibuk dengan kamera saku di genggaman tangan kanan. Barang yang akhirnya saya beli satu minggu lalu, demi keinginan saya untuk mengabadikan momen di sekitar saya dan mencoba menjadikannya ide untuk dituliskan dalam rangkaian kalimat.

Lebih baik menunggu daripada terlambat.

Kalimat ini sungguh sangat tidak asing. Papa sering mengucapkannya untuk mengingatkan saya setiap hendak bepergian ke tempat jauh. Seperti tadi sore, papa menelepon untuk memastikan saya sudah berangkat menuju stasiun. Sayangnya saya tidak tahu kalau beliau berusaha menghubungi, karena telepon genggam ada di tas dan saya sedang berjibaku dengan kemacetan di Jakarta. Saya balas meneleponnya sesaat saya sampai di stasiun. Beliau mengatakan akan menjemput saya esok pagi, lalu mengakhiri pembicaraan setelah menyampaikan doa selamat di perjalanan.


Kereta itu datang

Saya membopong tas punggung dan mendekatkan tas tangan pada bahu kanan. Ketika rangkaian gerbong kereta benar-benar berhenti, saya menaikinya dan segera mencari nomer kursi saya. Perjalanan tiga belas jam saya menuju kota kelahiran akan segera dimulai. Perjalanan menuju rumah. Perjalanan menjemput rindu. Tersenyum singkat pada pemuda di sebelah, lalu kami sibuk dengan aktivitas masing-masing tanpa perlu mengobrol. Dia dan telepon genggamnya, saya dengan buku yang saya pilih sebagai peneman. Kereta berjalan, kenangan berputar. Saya tergelak. Sudah sekitar satu tahun lebih sejak saya menggunakan jasa kereta api untuk jarak jauh. Terakhir, saat acara pernikahan kakak saya Juni tahun lalu, di Madiun. Dulu saya rutin menggunakan Gumarang untuk pulang, namun semenjak tiket pesawat terbang menjadi lebih mudah dan murah dibeli, saya pun beralih. Dan romantisme belasan jam di dalam kereta pun perlahan terlupa, kini saya siap mengulanginya lagi.

…..

Agustus 2006

Ini bukan cerita yang menyenangkan, biar saya memberitahumu terlebih dahulu. Selepas acara pernikahan kakak pertama di Yogyakarta, saya, papa, mama, bersama kedua kakak laki-laki saya lainnya dan kakak ipar serta keponakan saya yang masih berumur dua tahun kurang, menumpangi kereta api kelas ekonomi kembali menuju Surabaya. Perjalanan sekitar delapan jam saat itu berjalan lancar, kami tiba di Surabaya dengan selamat semuanya. Lalu? Lalu seminggu kemudian mama saya meninggal. Kecelakaan motor, koma selama tiga hari, dan beliaupun pergi menuju tempat keabadian. :(

Saat itu saya tertegun. Saya teringat apa yang melintas di pikiran saya saat masih berada di dalam kereta. Duduk di sebelahnya, wanita yang saya sayangi sepenuh hati, ini adalah perjalanan terakhirmu bersamanya .. mendadak ada pemikiran seperti itu yang muncul.

Saya menggelengkan kepala kuat-kuat sambil membaca buku tentang perjalanan, seolah mengulang gelengan kepala saya enam tahun lampau di dalam kereta itu. Saya menolak datangnya pemikiran aneh itu. Saya tak sudi mengamininya, walau ternyata belakangan saya ketahui itu semacam peringatan dini. Ah, tak tahulah, umur manusia ada di tangan Tuhan dan saya tak mau lancang.


Mereka terlelap, benak saya berwisata ke masa lampau.

Juli 2008

Setelah menjalani wawancara sebulan sebelumnya, saya akhirnya diterima di sebuah portal berita yang berkantor di Jakarta. Akhirnya, keinginan saya untuk meninggalkan Surabaya terjawab. Bukan apa-apa, saya bosan berada di kota itu dan ingin berkembang. Tiga belas Juli tahun dua ribu delapan, saya dan papa menumpangi kereta yang sama dengan yang saya tumpangi saat ini, bedanya adalah rute yang berkebalikan. Dari Surabaya, papa ikut mengantarkan saya hijrah ke Jakarta. Membawa tas besar berisi banyak baju dan perlengkapan sehari-hari seperlunya. Beliau adalah pria jagoan saya. Tanpa banyak bicara, beliau selalu menjawab kebutuhan saya. Sering memarahi ketika saya khilaf, namun tak mendendam. Dan di dalam perjalanan darat belasan jam waktu itu, beliau memberikan jatah kursinya untuk saya bisa tidur menyelonjorkan kaki, sementara beliau sendiri tidur di bawah beralaskan kertas koran. Saya rindu beliau, dan beliaulah alasan utama saya kembali berada di kereta seperti saat ini. :)


Saya melongok jendela. Sudah semakin larut namun saya belum mengantuk.

Paris adalah kota yang romantis. Hampir di setiap sudut jalanan didapati sepasang kekasih yang bergenggaman erat maupun berpelukan.

Urai buku yang saya baca tentang perjalanan di Eropa. Romantis. Satu kata yang mengingatkan saya akan cerita yang manis di dalam kereta, ya setidaknya untuk saat itu …

Desember 2008

Pria itu bernama Daniel. Dia sahabat saya. Bersama dia saya melalui hari-hari bosan saya di kantor baru dengan mengobrol via layanan percakapan maya. Sesekali kami berjanji untuk pergi bersama, nonton film terbaru atau sekadar makan malam dan ngobrol. Saya sudah mengenalnya sejak di dunia kampus. Walau berbeda fakultas, namun kami berada di dalam satu organisasi tingkat universitas sehingga sering bertemu. Dan semakin dekat saat saya berada di kota yang sama dengannya, Jakarta. Kami sengaja melakukan perjalanan bersama karena hendak mendatangi acara fakultas masing-masing yang kebetulan diselenggarakan di tanggal yang sama. Dia pria yang menyenangkan. Lucu, cerdas, dan telaten mendengarkan celotehan saya.

Di dalam kereta itu kami tertawa akan banyak hal. Berdiskusi seru mengenai rupa-rupa masalah. Lalu menyerah kalah pada kantuk dan sama-sama mendengarkan alunan musik dari playernya. Ia membagi salah satu alat pendengaran dengan saya, dan saya duduk merapat padanya untuk bisa mengenakan alat itu. Ia memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bahu kiri saya. Saya tersenyum.

Diakah kekasih saya? Andai saja. Semuanya berubah saat saya mengutarakan perasaan padanya, beberapa bulan sejak itu. Dia mengambil jarak, hati saya terpatahkan. Anti klimaks, ya?

Ah, saya mengantuk.
..
…..


Pagi menjelang. Kereta tiba di tujuan terakhir. Saya menemuinya di pintu keluar, lalu mencium pipinya melepas rindu. Papa saya. :)


tiket kereta saya

dinoy
dalam perjalanan Jakarta - Surabaya, 15 - 16 Agustus 2012

:)





Jika Ini Bukan Cerita Cinta



Jika ini bukan cerita cinta, lalu kenapa aku menangkap kilatan gundah di muka Akshara saat terduduk di tempat favoritenya?

Jika ini bukan cerita cinta, apakah aku salah melihat keromantisan dalam mata Bumi saat mengamati perempuan penulis itu dalam diam?

Dan jika ini bukan cerita cinta, akankah aku keliru mengartikan sikap cemburu yang disiratkan Koma melalui sikap tenangnya?

Saya menikmati permainan merangkai kata dalam kalimat yang dilakukan Windy Ariestanty dalam novella ‘Bukan Cerita Cinta’ di buku Kala Kali ini. Dengan kekhasannya sebagai seorang editor, ia mengajak pembaca untuk mengurai jalinan (bukan) cerita cinta melalui baris-baris kalimat baku yang tanpa terasa menjadi enak untuk dicerna. Dari awal cerita saya sudah mulai bisa menebak bahwa ini adalah cerita tentang pria yang jatuh cinta kepada sahabatnya diam-diam. Tentang si sahabat perempuan yang sibuk dalam dunia dan angannya sendiri akan cinta, mencurahkan segala isi hati dan rahasia kegundahannya pada teman prianya, tanpa ia sadari bahwa si pria ini menganalisanya begitu cermat.

Cinta itu tak memerlukan ukuran dan pengakuan. Ia hadir begitu saja melalui telinga yang mendengarkan, mulut yang siap menyorongkan kalimat sanggahan setiap orang yang dicintai bertindak tak semestinya. Cinta itu seperti kuku jari yang kadang tampak mengganggu dan menyakiti ketika menggores kulit, namun selalu ada dan tumbuh walau dipotong. Cinta itu layaknya ia yang bersedia memacu kendaraan lebih cepat meninggalkan segala kenyamanan, demi memastikan kamu akan tertidur pulas meski sedang sakit. Cinta itu hadir tanpa tendensi, namun kuat dan mengutuhkan.

Cinta itu cukup. Dan secukup inilah saya mengurai resensi saya tentang ‘Bukan Cerita Cinta’, novella yang membuat saya belajar akan bahasa dari sisi yang lain. Lain kali, saya akan mencoba untuk membuat jalinan cerita dari satu kata yang saya comot acak dari sebuah buku kamus. ;)


dinoy

C H E E R S



Today I don’t feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don’t feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
‘Cause today I swear I’m not doing anything
Nothing at all
[Lazy Song – Bruno Mars]
….

“Cheers!” kami mengangkat gelas dan botol kami, lalu menenggak cairan yang berbeda rupa masing-masing. Bir,mocktail fruitpunch, vodka, Jack Daniel dan,,, es teh tawar. Ada keheningan sejenak saat Arga menyebutkan minuman pesanannya. Sejenak saja, lalu disusul tawa membahana dari kami berenam. Tidak, kami tidak hendak melecehkan pilihannya saat kami bertujuh memiih menghabiskan tengah malam yang dihiasi bulan bulat sempurna di salah satu bar di kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Tidak ada yang salah untuk tidak minum alkohol di bar, tapi teh tawar?? Cukup sudah untuk menjadi bahan candaan bagi kami. Aku sendiri, apa pilihanku untuk membasahi tenggorokan yang sudah mulai kering lagi malam itu? Mocktail fruitpunch, dan cukup segar saat ditenggak. Aku tidak anti alkohol, meski bukan penggemar juga. Pernah iseng menenggak sekaleng Heinekken sendirian di kamar kos, demi meringankan kepala yang saat itu mendadak jengah. Lalu terakhir bersama beberapa dari mereka juga tiga minggu lalu, saat menghabiskan malam di Ciwidey, Bandung.

Jack Daniel, Tia Maria, dan Baileys. Adalah nama tiga bule serupa botol yang menemani kami bertukar bicara. Aku masih mengingat jelas malam itu. Bukan bermaksud sok menantang diri dengan minum alkohol, hanya berbaur, sambil tetap menjaga kesadaran diri. Beberapa tuangan dari tiga macam minuman itu, lalu aku merasa hangat di dada dan sesuatu di kepala juga. Masih teringat ketika waktu semakin larut, botol terus menuangkan cairan-cairan beraroma tajam, dan aku masih bertahan. Sampai obrolan menjurus cerita-cerita pribadi, lalu aku menyerah. Mengaku kalah pada tekanan yang dirasakan oleh kepalaku, dan diam-diam melipir dari giliran memuntahkan rahasia pribadi. Aku melangkah pelan menuju kamar hotel dan membaringkan diri. Biarkan saja mereka melanjutkan cerita, aku takut nanti mereka akan kecewa ketika tiba di giliranku, yang ceritanya hanya biasa-biasa saja. Campuran ketiga bule serupa botol tadi sukses membuatku terpejam tak lebih dari lima menit aku menyentuhkan kepalaku ke bantal.

Lalu mengapa malam ini di Sabang aku hanya memilih minuman rasa buah yang sama sekali tidak beraroma tajam? Sudah kapokkah aku? Jawabannya adalah aku tertambat pada rasa ‘aman’. Aman yang pertama: mengingat aku masih harus melanjutkan perjalanan pulang ke rumah kos, maka aku tidak boleh merasa pusing di kepala. Dan kedua, adalah mengamankan uang di dompet yang saat itu tersisa enam puluh ribu rupiah. Yah, meski kata teman-teman harga minuman-minuman yang terasa panas di tenggorokan di bar ini tergolong sangat murah, tapi tetap saja aku butuh uang taxi untuk pulang. Ha!

Kami bercakap-cakap tentang segalanya. Diiringi lagu-lagu mancanegara terkini yang diputar lumayan menghentak, membuatku spontan menggoyangkan badan sembari duduk.
“Menurut kalian, apakah roman itu masih hidup? Masih jaman nggak sih mempertimbangkan sesuatu dengan alasan utama ‘cinta’ ?” Rio, teman salah satu dari kami yang lebih dulu hadir di tempat ini, melontarkan pertanyaan kepada kami berdelapan. Di hadapannya kertas, pena, dan sebotol besar bir yang isinya masih setengah menjadi peneman.
I do believe that romance still alive, but we cannot live ONLY by LOVE,” Angie menjadi sukarelawan pertama yang menjawab pertanyaan Rio, dengan memberi penekanan pada kata ‘hanya’ dan ‘cinta’.
No, no,” sanggah Rio, “Gue nggak bilang cuma makan cinta, or somekind … Lo tetap makan nasi, butuh materi, tapi masih mungkin nggak sih mempertahankan suatu hubungan dengan dasar utama cinta?” lanjutnya.
It’s possible but only for temporary!” sambar Ussy cepat.
Okay, how long?”
Let’s say … three years?!”
“Dan lo udah pacaran selama…??” kali ini Arga si pria teh tawar yang sigap menyerang jawaban Ussy.
“Tiga tahun kakak, terus putus!”
Tawa kami spontan menggelegak meningkahi suara Katy Perry yang sedang kena giliran menghibur pengunjung lewat mesin pemutar lagu.

Aku mendekatkan sedotan ke mulut demi menyegarkan tenggorokan dengan sari buah. Kuedarkan pandangan ke sekeliling bar yang sedang ramai-ramainya ini. Asap rokok, pria dan wanita dewasa seumuran kami, dan cowok-cowok bule lucu, tampak sedang bercengkerama. Ada juga yang asyik menyimak pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi-televisi yang terpasang di atas kepala. Ini pengalaman pertamaku ke bar, dan dengan berusaha tak terlihat menilai, aku mengamati mereka yang menghabiskan jumat malamnya di tempat ini. Tempat duduk kami yang berada di pojok membuatku agak leluasa melihat mereka yang memilih singgah untuk mengobrol santai ditemani musik dan minuman, juga makanan ringan. Beberapa terlihat mengenakan pakaian formal, seperti habis pulang kerja, bahkan ada yang masih memakai kemeja batik. Beberapa lainnya mengenakan pakaian dan dandanan yang sepertinya memang disengajakan untuk datang ke tempat ini. Agak mencolok.

Melly’s ini memang selalu ramai, secara lokasinya strategis dan harga minumannya mure, bok!” Ussy menjelaskan dengan menyebut nama bar yang kami pilih ini.
“Tapi alkoholnya light kok, ya, ini mah kayak sirup!” Benny menimpali.
Well, you got what you paid lah om, murah gini pasti udah dicampur air lah,” dengan memutar gelas lebar pendek berisi one shot Jack Danielnya Angie ikut berkomentar.
“Terus mereka ngapain pakai topi Sombrero gitu?” Temmy menunjuk pelayan-pelayan yang baru kami sadari, beberapa menit belakangan ini telah mengenakan topi lebar berwarna-warni khas Meksiko.
“Itu tandanya bentar lagi Happy Hours, Tequila only for twenty thousand, kakaaak…” terang Uliel dan tak lama, kami mendengar semacam bunyi sirine dan pengunjung berteriak kegirangan.

It’s Happy Hour time!” lalu Rio memesankan kami satu pitcher tequila yang dibalut rasa jeruk. Tak perlu menunggu lama, pesanan Rio datang dan Benny kebagian tugas menuangkan ke beberapa gelas mungil dengan leher tinggi. Dia menawari kami satu persatu dan “Noy, mau?” tanyanya dengan mengangkat alis sambil memandangku. Tak banyak berpikir aku menjawab "Ok!" melupakan rasa aman yang tadi kupikirkan. Toh ditraktir ini, cengirku dalam hati. Enam dari kami bersembilan mengangkat tinggi gelas mungil itu, mempertemukan milik satu sama lain sehingga menimbulkan bunyi berdenting...

Cheers!”

Melly’s Bar & Resto, Sabang – Jakarta Pusat
11.00 pm ‘til 01.30 am
(Aug 31st-Sept 1st, 2012)
True story with some fiction added, and changed in name
dinoy

J