Sunday, September 2, 2012

C H E E R S



Today I don’t feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don’t feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
‘Cause today I swear I’m not doing anything
Nothing at all
[Lazy Song – Bruno Mars]
….

“Cheers!” kami mengangkat gelas dan botol kami, lalu menenggak cairan yang berbeda rupa masing-masing. Bir,mocktail fruitpunch, vodka, Jack Daniel dan,,, es teh tawar. Ada keheningan sejenak saat Arga menyebutkan minuman pesanannya. Sejenak saja, lalu disusul tawa membahana dari kami berenam. Tidak, kami tidak hendak melecehkan pilihannya saat kami bertujuh memiih menghabiskan tengah malam yang dihiasi bulan bulat sempurna di salah satu bar di kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Tidak ada yang salah untuk tidak minum alkohol di bar, tapi teh tawar?? Cukup sudah untuk menjadi bahan candaan bagi kami. Aku sendiri, apa pilihanku untuk membasahi tenggorokan yang sudah mulai kering lagi malam itu? Mocktail fruitpunch, dan cukup segar saat ditenggak. Aku tidak anti alkohol, meski bukan penggemar juga. Pernah iseng menenggak sekaleng Heinekken sendirian di kamar kos, demi meringankan kepala yang saat itu mendadak jengah. Lalu terakhir bersama beberapa dari mereka juga tiga minggu lalu, saat menghabiskan malam di Ciwidey, Bandung.

Jack Daniel, Tia Maria, dan Baileys. Adalah nama tiga bule serupa botol yang menemani kami bertukar bicara. Aku masih mengingat jelas malam itu. Bukan bermaksud sok menantang diri dengan minum alkohol, hanya berbaur, sambil tetap menjaga kesadaran diri. Beberapa tuangan dari tiga macam minuman itu, lalu aku merasa hangat di dada dan sesuatu di kepala juga. Masih teringat ketika waktu semakin larut, botol terus menuangkan cairan-cairan beraroma tajam, dan aku masih bertahan. Sampai obrolan menjurus cerita-cerita pribadi, lalu aku menyerah. Mengaku kalah pada tekanan yang dirasakan oleh kepalaku, dan diam-diam melipir dari giliran memuntahkan rahasia pribadi. Aku melangkah pelan menuju kamar hotel dan membaringkan diri. Biarkan saja mereka melanjutkan cerita, aku takut nanti mereka akan kecewa ketika tiba di giliranku, yang ceritanya hanya biasa-biasa saja. Campuran ketiga bule serupa botol tadi sukses membuatku terpejam tak lebih dari lima menit aku menyentuhkan kepalaku ke bantal.

Lalu mengapa malam ini di Sabang aku hanya memilih minuman rasa buah yang sama sekali tidak beraroma tajam? Sudah kapokkah aku? Jawabannya adalah aku tertambat pada rasa ‘aman’. Aman yang pertama: mengingat aku masih harus melanjutkan perjalanan pulang ke rumah kos, maka aku tidak boleh merasa pusing di kepala. Dan kedua, adalah mengamankan uang di dompet yang saat itu tersisa enam puluh ribu rupiah. Yah, meski kata teman-teman harga minuman-minuman yang terasa panas di tenggorokan di bar ini tergolong sangat murah, tapi tetap saja aku butuh uang taxi untuk pulang. Ha!

Kami bercakap-cakap tentang segalanya. Diiringi lagu-lagu mancanegara terkini yang diputar lumayan menghentak, membuatku spontan menggoyangkan badan sembari duduk.
“Menurut kalian, apakah roman itu masih hidup? Masih jaman nggak sih mempertimbangkan sesuatu dengan alasan utama ‘cinta’ ?” Rio, teman salah satu dari kami yang lebih dulu hadir di tempat ini, melontarkan pertanyaan kepada kami berdelapan. Di hadapannya kertas, pena, dan sebotol besar bir yang isinya masih setengah menjadi peneman.
I do believe that romance still alive, but we cannot live ONLY by LOVE,” Angie menjadi sukarelawan pertama yang menjawab pertanyaan Rio, dengan memberi penekanan pada kata ‘hanya’ dan ‘cinta’.
No, no,” sanggah Rio, “Gue nggak bilang cuma makan cinta, or somekind … Lo tetap makan nasi, butuh materi, tapi masih mungkin nggak sih mempertahankan suatu hubungan dengan dasar utama cinta?” lanjutnya.
It’s possible but only for temporary!” sambar Ussy cepat.
Okay, how long?”
Let’s say … three years?!”
“Dan lo udah pacaran selama…??” kali ini Arga si pria teh tawar yang sigap menyerang jawaban Ussy.
“Tiga tahun kakak, terus putus!”
Tawa kami spontan menggelegak meningkahi suara Katy Perry yang sedang kena giliran menghibur pengunjung lewat mesin pemutar lagu.

Aku mendekatkan sedotan ke mulut demi menyegarkan tenggorokan dengan sari buah. Kuedarkan pandangan ke sekeliling bar yang sedang ramai-ramainya ini. Asap rokok, pria dan wanita dewasa seumuran kami, dan cowok-cowok bule lucu, tampak sedang bercengkerama. Ada juga yang asyik menyimak pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi-televisi yang terpasang di atas kepala. Ini pengalaman pertamaku ke bar, dan dengan berusaha tak terlihat menilai, aku mengamati mereka yang menghabiskan jumat malamnya di tempat ini. Tempat duduk kami yang berada di pojok membuatku agak leluasa melihat mereka yang memilih singgah untuk mengobrol santai ditemani musik dan minuman, juga makanan ringan. Beberapa terlihat mengenakan pakaian formal, seperti habis pulang kerja, bahkan ada yang masih memakai kemeja batik. Beberapa lainnya mengenakan pakaian dan dandanan yang sepertinya memang disengajakan untuk datang ke tempat ini. Agak mencolok.

Melly’s ini memang selalu ramai, secara lokasinya strategis dan harga minumannya mure, bok!” Ussy menjelaskan dengan menyebut nama bar yang kami pilih ini.
“Tapi alkoholnya light kok, ya, ini mah kayak sirup!” Benny menimpali.
Well, you got what you paid lah om, murah gini pasti udah dicampur air lah,” dengan memutar gelas lebar pendek berisi one shot Jack Danielnya Angie ikut berkomentar.
“Terus mereka ngapain pakai topi Sombrero gitu?” Temmy menunjuk pelayan-pelayan yang baru kami sadari, beberapa menit belakangan ini telah mengenakan topi lebar berwarna-warni khas Meksiko.
“Itu tandanya bentar lagi Happy Hours, Tequila only for twenty thousand, kakaaak…” terang Uliel dan tak lama, kami mendengar semacam bunyi sirine dan pengunjung berteriak kegirangan.

It’s Happy Hour time!” lalu Rio memesankan kami satu pitcher tequila yang dibalut rasa jeruk. Tak perlu menunggu lama, pesanan Rio datang dan Benny kebagian tugas menuangkan ke beberapa gelas mungil dengan leher tinggi. Dia menawari kami satu persatu dan “Noy, mau?” tanyanya dengan mengangkat alis sambil memandangku. Tak banyak berpikir aku menjawab "Ok!" melupakan rasa aman yang tadi kupikirkan. Toh ditraktir ini, cengirku dalam hati. Enam dari kami bersembilan mengangkat tinggi gelas mungil itu, mempertemukan milik satu sama lain sehingga menimbulkan bunyi berdenting...

Cheers!”

Melly’s Bar & Resto, Sabang – Jakarta Pusat
11.00 pm ‘til 01.30 am
(Aug 31st-Sept 1st, 2012)
True story with some fiction added, and changed in name
dinoy

J

1 comment:

Niratisaya Pradipta said...

Suka 'taste' dari tulisan sampeyan, Mbak :)