Sunday, August 21, 2011

corat-coret tentang 'Khokkiri'-novel by Lia Indra Andriana



Judul novel terbaru Lia kali ini hanya terdiri dari satu kata, sama seperti novel sebelum ini:Seoulmate. Kali ini kata yg dipilih Lia adalah 'Khokkiri'. Dalam bahasa Korea, Khokkiri berarti 'Gajah'. Kenapa mesti pake bahasa Korea? Karena novel in kental dengan unsur Korea. Dan sepertinya Lia akan konsisten untuk menuliskan cerita yang bernuansa Korea, sesuai dengan kecintaannya terhadap budaya negeri ginseng tersebut. Ya saya sih asyik-asyik aja,selama yang dibahas dari sudut pandang yang berbeda. Dan eh, kenapa Gajah? Apa Lia sudah melebarkan sayapnya dengan menulis cerita tentang fabel (cerita binatang) ?? Ah, bukan.. bukan....

Di novel ini penulis memaparkan fakta bahwa gajah adalah binatang yang memiliki ingatan yang kuat: 'Gajah selalu ingat', itu salah satu kalimat yang tertulis didalamnya. Jujur saya juga baru tahu tentang fakta itu, dan waktu iseng-iseng googling ternyata memang benar: Tengkorak gajah yang besar dan kuat, berisi otak yang sangat cerdas. Oleh karena itu, gajah mempunyai ingatan yang sangat baik dan jarang melupakan perintah-perintah yang diajarkan. Seekor gajah mampu mengingat 25 perintah atau aba-aba. Oleh karena daya ingat gajah, seorang novelist terkenal Agatha Christie membuat novel yang berjudul 'Elephants can remember' di th. 1972 (sumber: Wikipedia). I dont know 'bout other author who wrote about the elephant and its strong memorized, tapi kalau benar belum ada setelah Agatha Christie, wah keren juga nih si Lia :) 

Dan tentang gajah yang selalu ingat ini pula yang menjadi simbol untuk kisah yang lebih mendalam atas nama: kenangan. Cerita dimulai dengan kehadiran Adriel (atau Ji Ho dalam nama Korea nya), seorang pemuda Korea yang bekerja di Indonesia, yang kemudian jatuh hati pada staf nya di kantor yaitu Becca, seorang gadis yang umurnya lebih tua beberapa tahun dari Adriel. Kisah mereka dimulai dari percakapan di sebuah blog milik Becca, saat Becca tak sadar bahwa curhatan-curhatannya tentang Adriel ternyata dibaca dan ditanggapi sendiri oleh Adriel. Kisah yang sepertinya tidak apa-apa, wajar terjadi antara dua insan, sewajar kisah cinta antara Richard dan Della. Richard adalah kakak tiri Adriel, Richard adalah gambaran pria dewasa berumur tiga puluh tahunan dengan profesi sebagai dokter. Richard begitu mencintai Della, seorang gadis dengan kepribadian yang kuat dan tegas, berkebalikan dengan Becca yang cenderung peragu dan penakut. 

Dua pasang manusia ini menjalani kisah romansa yang berbeda dan tak saling ganggu, sampai suatu saat mereka dipertemukan dan saling mempertanyakan keberadaan masing-masing. Ketika kenangan satu sama lain bergesekan dan sama-sama ingin bertahan, tak ada satupun yang ingin dilupakan dan tersingkir. Ada Lucie juga disana yang mentertawakan 'kebodohan' mereka berempat. Buat Lucie, kepanikan Richard, Della, Becca, Adriel, dan ambisi mereka untuk terus ada dan diingat, adalah suatu tontonan yang maha lucu. Dan Lucie cukup senang saat diantara kelengahan mereka, Ia bisa dengan begitu mudahnya masuk dan membuat kisahnya sendiri. Ia pun ingin dikenang. 

Kalau dalam Seoulmate Lia memakai 'harapan' sebagai benang merah ceritanya, maka di Khokkiri kata kuncinya adalah 'kenangan'. Manusia bukan gajah yang memiliki ingatan yang super. Saya ingat, saya pernah meminta pada Tuhan untuk membuang satu sel otak saya yang berisi ingatan/kenangan akan seseorang yang telah menyakiti saya. Namun setelah menamatkan Khokkiri ini, sepertinya saya harus mencabut kembali permintaan saya tadi. Karena kembali ke kisah Khokkiri tadi, Richard-Della-Adriel-Becca-Lucie, diantara mereka berlima toh akhirnya ada yang harus 'tersingkir' dan rela hanya menjadi sebatas kenangan. Karena kenangan, sebaik dan seburuk apapun itu, adalah hal berharga yang membuat kita menghargai dan memaknai hidup. 

Salut dengan alur cerita yang sering membuat saya berkerut-kerut, tapi toh menikmati dan penasaran juga akan akhir ceritanya. Konflik keluarga dan pergolakan batin atas peristiwa masa lalu dikemas dengan cukup apik. Salut juga dengan keberanian Lia mengangkat tema tentang kepribadian ganda yang masih langka di per-novel-an Indonesia (She was like gambling with this idea but hey, she did it!). Seseorang pernah menanyakan pendapat saya akan rating untuk Khokkiri ini, dan saya beri empat dari lima. Good to be read! ^^
'Ia ingin diingat. Ia ingin dikenang. Ia tidak mau menghilang.' (Becca. page 254)
~dinoy~

No comments: