Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Monday, April 1, 2013

Resensi film Madre




Saya tidak membawa ekspektasi apa-apa saat hendak menonton film ini, saya bahkan sudah agak lupa dengan jalan cerita Madre yang saya baca sekitar satu setengah tahun lalu. Film ini berkisah tentang Tan Sen, cowok cuek yang datang jauh-jauh dari Bali, meninggalkan sejenak kehidupannya yang santai sebagai surfer, untuk menemui pengacara pria yang mendadak menjungkirbalikkan hidupnya. Pengacara tersebut mengatakan bahwa Tan Sie Gie, kakeknya, mewariskan sesuatu kepada Tan Sen sebelum ia meninggal. Tan Sen yang bahkan tidak pernah bertemu langsung dengan kakek kandungnya tentunya heran, apa sih yang diwariskan kepadanya? Ternyata adalah sebuah kunci, untuk membuka gembok yang menutupi kulkas tua yang berisi sestoples besar adonan biang, bernama Madre.

Gara-gara Madre hidup Tan Sen berubah. Ia harus hidup bersama pak Hadi, mantan pegawai kakeknya yang sering tidak dapat ia mengerti. Tan Sen bertemu dengan Mei, wanita karier yang sangat terobsesi pada Tan de Bakker, toko roti tua milik Tan Sie Gie yang bahkan sudah tutup. Mei juga sangat terobsesi pada Madre dan berniat membelinya. Tan Sen jatuh cinta pada Mei, yang sayangnya sudah punya calon suami. Tan Sen menjadi gamang akan hidupnya, bolak balik Bandung-Bali untuk memantapkan keputusannya.

Di awal film, saya menikmati sekali adegan-adegan lucu yang disajikan, antara Tan Sen dan pak Hadi. Lalu ada juga keterharuan yang meliputi tatkala bersinggungan dengan masa lalu. Laura Basuki sebagai Mei pun memesona saya dengan penampilannya yang cantik (dari segi fisik dan akting). Tapi menjelang tengah saya mulai bosan, alurnya mulai melambat, banyak narasi yang menggambarkan Tan Sen sedang monolog. Belum lagi perpindahan watak Tan Sen yang sebelumnya cuek jadi sedikit-sedikit melow. Mungkin terpengaruh oleh semangat 5 orang mantan pegawai kakeknya yang sudah jadi kakek-nenek, tapi tetap bertekad menghidupkan Madre dan Tan de Bakker kembali. Sudah begitu, konfliknya kok terasa nanggung ya, terutama konflik roman antara Tan Sen dan Mei, juga kehadiran James sebagai calon suami Mei yang arogan. Akhir ceritanya juga terkesan begitu saja, tidak ada penyelesaian antara 'cinta segitiga' Tan Sen-Mei-James. Berawal saya iseng-iseng main hape, coba fokus sama filmnya, tapi akhirnya disambi main hape lagi karena bosan. :)

Tidak buruk-buruk amat, meski saya juga tidak bisa terlalu merekomendasikannya. About the cast: Vino Bastian was good, but the stars were Didi Petet (Mr. Hadi) and Laura Basuki (Mei)  :)

Monday, February 18, 2013

RECTOVERSO - the movie


Menonton sebuah film selayaknya tanpa ekspektasi apa pun. Ini yang coba saya lakukan saat menonton Rectoverso, sebuah film yang diangkat dari kumpulan prosa milik Dewi Lestari dari bukunya yang berjudul sama. Ada 11 prosa di buku Rectoverso – cerpen dan puisi – dan lima di antaranya di angkat dalam sebuah film. Lima cerpen dalam satu film. Apa jadinya?
 
Saya mencoba mengesampingkan pendapat-pendapat yang sudah terlanjur beredar di timeline twitter dari mereka yang usai menonton film ini. Namun apa daya, pendapat-pendapat itu sedikit banyak membuat saya menanti. Mana adegan yang membuat haru itu? Mana cerita yang katanya menggetarkan kalbu itu? Salah ya, bukankah harusnya menonton suatu film baru harus tanpa ekspektasi? :) Selama hampir sejam pertama saya masih merasa film ini datar, dan saya bosan. Beberapa kali saya melirik jam tangan untuk memastikan sudah berapa lama saya menonton.

Seperti yang saya bilang di awal, film ini berisi 5 cerpen yang diambil dari buku Rectoverso. Lima cerpen itu adalah: Malaikat juga Tahu, Curhat buat Sahabat, Cicak di Dinding, Firasat, dan Hanya Isyarat. Penggabungan 5 cerpen ini dengan cara saling sambung-menyambung di tiap adegan, tidak menunggu satu cerpen tuntas baru cerpen lainnya. Saat tiba di bagian ‘Hanya Isyarat’, saya sempat merasa merasuk dengan peran Al, karena diceritakan dia adalah seorang traveler. ^^ Dalam Firasat, saya mampu memahami perasaan Senja ketika memiliki pertanda buruk akan seseorang yang disayangi, namun tak mampu berbuat sesuatu yang berarti. Di Malaikat juga tahu, saya tahu benar perasaan abang yang frustasi ketika kehilangan milik berharganya. Curhat buat Sahabat mengingatkan bahwa saya pun pernah memiliki keinginan yang sederhana, untuk disayangi. Lalu Cicak di Dinding membawa kenangan saya saat sedang asyik mencinta namun tiba-tiba ditinggalkan. Sakit.

Sejam pertama saya sempat merasa bosan, mungkin karena lima cerita berbeda ini masih berusaha menyampaikan pengantar karakternya. Namun memasuki jam kedua, saya lupa tepatnya, tapi tiba-tiba saja mata saya menjadi pedih dan mengeluarkan cairan. Saya menangis, tersentuh. Gabungan dari konflik kelima cerita membuat saya luruh. Musik yang menjadi penghantar membuat suasana makin melankolis. Dan akting mereka yang sederhana serasa mewakili polemik yang saya jumpai sehari-hari. Dalam Hanya Isyarat, Fauzi Baadilah-lah yang menjadi juaranya. Indra Birowo yang kalem membuat Curhat buat Sahabat menyampaikan pesannya. Lukman Sardi bermain apik menjadi pria dewasa dengan kelainan mental di Malaikat juga Tahu. Kegelisahan yang ditampilkan Asmirandah membuat Firasat menjadi kuat, dan Yama Carlos tepat sekali memerankan pria terluka di Cicak di Dinding.

Film berakhir, saya pun menyeka air mata. Adegan yang klimaks membawa saya terpana. Secara keseluruhan saya puas menonton film ini. Perasaan yang selalu tersisa ketika saya usai menyaksikan film yang mampu mewakili perasaan saya. Cinta yang tak terucap menjadi tagline film Rectoverso, tepat menggambarkan benang merah kelima cerita di dalamnya. :)

dinoy 


Saturday, January 5, 2013

Demi Ucok.. Film yg Batak Banget! Indonesia Banget!!


Well, i can say that i'm a happy movie goers and of course, proudly Indonesia citizen.. 

Dalam 3 minggu terakhir saya pergi ke bioskop untuk nonton 3 film Indonesia berturut-turut, dan semuanya bermutu! Berhasil memuaskan saya yang butuh hiburan dan tontonan berkualitas. Pertama, 13 Desember 2012 saya menonton 5 CM di XXI PIM 1, lalu 28 Desember film Cinta tapi Beda di XXI Blok M Square, dan beberapa jam lalu menyaksikan Demi Ucok di Blitz Megaplex Pacific Plaza. Dan film Indonesia terakhir yang saya tonton benar-benar klimaks buat saya dari kedua film yang sebelumnya yang berbeda tema. Begini ringkasan cerita dan ulasan saya tentang Demi Ucok...

Sepanjang film kamu tidak akan menemukan seorang yang bernama 'Ucok' seperti judul filmya, namun judul tersebut merupakan analogi dari pria batak yang dinanti-nanti oleh seorang ibu untuk menjadi pasangan hidup anak gadis tunggalnya. Ibu batak tersebut bernama Mak Gondut, dan anaknya bernama Gloria Sinaga atau akrab dipanggil Glo. Hubungan ibu-anak yang ditunjukkan oleh Mak Gondut dan Glo ini bagi saya ibarat sebuah pertemanan yang seru, pula seperti Tom & Jerry. Kenapa? Karena dua perempuan berbeda generasi ini bercakap-cakap layaknya dua orang yang sebaya. Glo selalu punya kata-kata untuk membalas seruan emaknya, sementara Mak Gondut tak pernah hilang akal untuk menunjukkan bahwa dialah yang superior di sini. Ya, seperti itulah orang batak, bicara tanpa tedeng aling-aling dan dengan nada suara yang tinggi - bukan berarti marah atau tak sopan. Mak Gondut yang sudah menjadi janda merasa tak tenang dan tak bahagia jika belum melihat anaknya menikah - dengan pria batak - sementara Glo bersikeras tak ingin kawin dulu sebelum ambisinya membuat film kedua yang jauh lebih berkelas daripada yang pertama terpenuhi. Dan pertarungan antara dua keinginan yang sama-sama kuat inilah yang menjadi inti cerita film ini.

Dari sejak film dimulai saya sudah dibuat terkesima. Dengan adegan pesta batak yang akbar, lengkap dengan baju kebaya yang khas, lagu dan tarian meriah oleh seluruh pengunjung, juga sajian kepala babi. Saya memang bukan orang batak, namun saat sekolah dan kuliah memiliki banyak sahabat dari keluarga batak, sehingga sedikit banyak tahu tentang tradisi dan budaya batak. Film ini dibalut komedi, dan hampir sepanjang film saya tergelak dengan dialog yang menohok namun disampaikan dengan lucu. Namun di sekitar 20 menit terakhir saya akhirnya menitikkan air mata haru dengan kejadian yang menyentuh. Dua tokoh utama pun berhasil memainkan perannya dengan maksimal. Apalagi setelah menyaksikan film dan berbincang dengan teman, baru saya tahu kalau Mak Gondut baru pertama ini bermain film. Wow, dengan akting yang seperti itu, saya rasa beliau jagoan sekali! Satu line pendek yang sering diucapkan Mak Gondut yang khas dan membekas buat saya, 'kawin, lah...!' Hahaha, antara memohon dan mendesak demi kebahagiaan sang anak sendiri. 

Film ini memaparkan tentang realitas keluarga Batak. Film ini sangat hidup, dan ada saja penyambung antar adegan yang membuat saya tersentak dan berpikir 'wow,bisa aja nyambunginnya!'. Misalnya, maaf jika agak spoiler, ada satu adegan saat Glo membanggakan keberhasilannya mengumpulkan dana untuk filmnya dari para pendukung di dunia maya, namun ternyata dukungan dari orang asing itu juga tak lepas dari pengaruh emaknya. Nah, di sinilah moral film ini disampaikan, bahwa seberapa pun kita merasa hebat dengan usaha kita, tetap saja ada tangan tak kasat mata yang menolong kita, tangan orang tua. Di momen ini Glo menyadari, hidupnya tak berarti tanpa emaknya.

Yang saya sukai juga dari film ini adalah, setelah sepanjang film kita seolah disuguhi adegan pertarungan antara Mak Gondut dan Glo, siapa yang bisa mewujudkan keinginannya, namun di penghujung film penyelesaiannya dibuat agak menggantung. Maaf lagi jika spoiler ^^v Tapi di sini kamu tidak akan menemukan Glo yang berhasil membuat film yang laku keras, atau emaknya yang akhirnya melihat Glo bersanding di pelaminan dengan pria batak. Kehidupan pun kembali seperti 'biasa', membuat saya semakin mengacungkan jempol pada film ini. Banyak adegan yang berani beda dari film-film komersial yang lain, adegan yang membuat tertawa sekaligus sontak berujar 'gila kali ni film!', juga penyelesaian yang benar-benar membumi. Bukan happy ending yang dipaksakan.

Salut. Menjura. Kagum dengan film yang didasarkan pada kisah nyata sang sutradara, Sammaria Simanjuntak dan ibunya, ya si Mak Gondut itu sendiri adalah ibu kandungnya! Maka tak heran jika film ini terasa sangat hidup. Pendanaan film ini juga tak lepas dari peran serta seluruh kru dan pemain film ini  sejak setahun lampau. Lebih jelas tentang film yang kental dengan budaya batak ini dapat dilihat di web http://www.demiapa.com/demiucok/

Tentang cinta orang tua, tentang passion, dan tentang hidup. Film ini meninggalkan banyak pesan moral bagi saya. Awesome! :)


dinoy

Sunday, December 30, 2012

Cinta Tapi Beda - Resensi Film

CINTA TAPI BEDA



Percintaan dua orang manusia yang berbeda keyakinan masih menjadi isu yang krusial di negara ini. Saya pribadi bukan termasuk orang yang menyetujui hal tersebut, apalagi rumah tangga yang isinya beda agama. Mengapa? Karena menurut saya suatu keyakinan terhadap Tuhan adalah dasar kita menjalani hidup. Jika dalam satu rumah tangga terjadi perbedaan dalam menjalankan keyakinan terhadap Tuhan, akan memengaruhi pula keputusan-keputusan pelik yang akan diambil. Itulah yang membuat saya sering tak habis pikir dengan teman-teman yang ‘memilih’ pasangan beda keyakinan but hei, saya tidak bisa selamanya berpikir senaif itu. Cinta memang memilih, perasaan itu menjatuhkannya pada orang-orang tertentu yang memesona kita dan membuat kita klop. Adakah pertimbangan tentang agama dan asal-usul keluarga di dalamnya? Apakah orang yang terlanjur jatuh cinta bisa mengantisipasi perbedaan-perbedaan pelik yang terjadi? Sebagian bisa, sebagian lagi memilih untuk mengikuti kata hati dengan tetap mencinta. Untuk keduanya, saya tidak berhak menilai apa pun.

Inilah ide dasar yang melandasi ‘Cinta tapi Beda’, film yang saya tonton dua hari lalu. Film yang membuat saya larut dengan adegan-adegan natural dan membumi. Saya suka film yang mencerminkan realita hidup manusia, maka dari itu saya menyukai film ini. Adegan dibuka dengan setting sebuah dapur di restoran terkenal, tempat Cahyo (Reza Nangin) bekerja menjadi chef di sana. Saya langsung jatuh hati melihat adegan masak memasak yang tangkas dan nyata, mulai dari cara mengiris bahan-bahan dengan cekatan, memasak di atas wajan, juga fokus kamera kepada bahan-bahan masakan yang segar. Cahyo dikhianati oleh pacarnya yang selingkuh, yang diperankan oleh Ratu Felisha. Tiga bulan kemudian, tak sengaja ia bertemu Diana (Agni Pratistha) di sebuah pentas tari. Diana adalah seorang penari yang berasal dari Padang dan beragama Katolik. Sementara Cahyo tumbuh besar di lingkungan keluarga santri di Yogyakarta. Mereka berdua menemukan rasa nyaman di diri masing-masing. Nyaman yang menimbulkan rindu untuk selalu bertemu, lalu pelan-pelan tumbuh menjadi sayang. Apakah mereka tidak tahu bahwa mereka ‘berbeda’ ? Mereka tahu, kok. Apakah mereka tidak peduli dengan masalah itu? Mereka peduli, namun mereka lebih memilih peduli dengan perasaan cinta yang semakin tumbuh di hati masing-masing.

Konflik keluarga membayangi hubungan mereka. Cahyo membawa Diana ke kediaman keluarganya di Yogya yang serta merta ditolak orang tuanya karena tahu Diana adalah non muslim. Ibu Diana pun bersikeras tidak merestui hubungan Diana dengan Cahyo, bahkan berencana menikahkan Diana dengan Okta, pemuda yang berasal dari satu gereja yang sama di Padang. Saya suka dialog-dialognya yang tidak berlebihan. Saya larut dalam kesedihan yang nyata yang Cahyo dan Diana tunjukkan karena masalah ini. Kekurangan film ini? Hm, entahlah, saya menyukai film ini karena kesederhanaannya. Kalau kamu mengharap film drama dengan konflik yang membahana, mungkin kamu akan kecewa. Tapi percayalah, jika kamu ingin sebuah tontonan yang membuka mata tentang cinta beda keyakinan, ini adalah jawabannya. Salah satu aspek yang penting yang membangun karakter sebuah film adalah musik-musik yang melatari adegan demi adegan, dan saya menikmati musiknya. Asyik banget!

Selain bintang-bintang muda yang telah saya sebutkan di atas, film ini juga dibintangi beberapa bintang film senior yang semakin memberi jiwa pada film ini. Sebut saja Nungki Kusumastuti, Jajang C Noer, Ayu Diah Pasha, dan Leroy Osmani. Dan setelah film ini, apakah saya beralih menjadi pro pada hubungan berbeda keyakinan? Tidak, karena secara pribadi saya masih menganggap keyakinan kepada Tuhan adalah sebuah visi, dan saya ingin memiliki visi yang sama dengan pasangan saya. Hanya saja, mata saya dicelikkan dan mungkin lebih toleran pada mereka yang mengambil konsekuensi tersebut. :)

Note: film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Masih ingat kan Hanung pernah berhasil mengemas isu perbedaan agama di masyarakat dalam film “?” ya, menurut saya kali ini dia pun berhasil dengan tema besar yang sama, meski kemasannya tidak seberat film tersebut. :)

dinoy

Tuesday, December 4, 2012

Web Baru Buat Pecinta Kuliner: Baca Resep Dulu~

Kamu suka masak? Atau,, suka makan dan sesekali pengin coba-coba masak makanan favorit? Ada web baru nih, buat memuaskan hasrat kuliner kamu.. #tsaaah

Jadi beberapa hari lalu, saya mendapat email dari sahabat yang membagikan kalau sekarang ia punya web baru berkaitan dengan kulinari, tepatnya berisi tentang resep-resep masakan. Dan nama webnya adalah: Baca Resep Dulu. Begitu saya mengunjungi web ini, hm.. saya langsung menelan air liur melihat beberapa foto masakan yang menarik hati. Sepertinya lezat sekali ini kalau dicicipin... 

Lalu saya mulai membuka satu per satu.. Konsep webnya jelas, berisi nama berbagai masakan dari berbagai belahan bumi (Indonesia, China, India, Jepang, Prancis, dan Italia) yang dilengkapi dengan tips memasak juga waktu yang dibutuhkan untuk memasak satu jenis makanan. Dan sebelum mulai merincikan bahan-bahan yang diperlukan, biasanya akan diawali dengan prolog mengenai masakan tersebut. Misalnya nih, resep Ayam Kungpao yang didahului dengan nama daerah tempat makanan ini berasal.


Web tentang resep masakan ini dikelola oleh pasangan travel nomad Adam & Susan, yang lebih dulu dikenal dengan travelweb mereka: PergiDulu.com sementara konten-kontennya sendiri diisi oleh Debbzie Leksono yang berpengalaman sebagai chef. 

Jadi kalau kamu suka masak dan pengin menambah koleksi resep dan juga menambah kemampuan memasak, mampir deh ke web ini. Meski baru, tapi kontennya udah lumayan banyak. Soup Seafood, Siomay Bandung, Chicken Cordon Blue, Spaghetti, Ayam Saus Lemon.. you name it lah! Saya beneran ngiler nih kalau nyebutin satu-satu! Yumm!! 

dinoy

Monday, October 22, 2012

A Bite About CheekyRomance


Info Buku:
Judul Buku: Cheeky Romance
Penulis: Kim Eun Jeong
Penerbit: Haru
Genre: Romance Comedy
Kategori: Fiksi, Novel terjemahan
Tebal: 450 Halaman
Harga: Rp 65.000


Berawal dari diselingkuhi pacar yang merupakan rekan kerja sendiri, berimbas pada tindakan emosional yang malah berakibat fatal pada kelangsungan karir Yoo Chae di sebuah stasiun TV. Sebagai seorang reporter, karir Yoo Chae selama ini bisa dibilang biasa-biasa saja. Dia belum pernah sekali pun dipercayai memegang satu acara tetap. Suatu hari kemarahannya yang dilampiaskan dengan menulis makian di situs jejaring sosial milik perusahaannya, membuat dia dikecam dan terancam kehilangan pekerjaannya. Untungnya, ia masih dipercaya untuk membawakan satu program acara secara langsung, dan tugas pertamanya adalah liputan tentang salah satu restoran. Hal yang menyenangkan menurut Yoo Chae, namun ia tak menyangka bahwa ini adalah awal pertemuannya dengan Yoon Pyo yang membawa petaka.

Bagi Yoon Pyo, profesinya sebagai seorang dokter kandungan membuatnya memperhatikan benar hal-hal sekitar ibu hamil dan kondisi janin. Makanya ia sering gemas dengan ibu-ibu hamil yang tidak menjaga kandungannya dengan baik dan berbuat macam-macam. Anak adalah suatu anugerah dari Tuhan, dan tidak setiap perempuan beruntung dikaruniai kemampuan untuk mengandung dan melahirkan bayi. Yoon Pyo tidak habis pikir jika ada seorang calon ibu yang mengabaikan kondisi janinnya.

Yoo Chae yang baru saja bisa mengatasi masalah yang diakibatkan karena tindakan emosionalnya, dan Yoon Pyo yang harus menghadapi ibunya yang tidak pernah akur dengannya, secara tidak sengaja bertemu di salah satu restoran. Dengan tidak sabaran dan penuh emosi, Yoon Pyo melabrak Yoo Chae yang mengkonsumsi makanan dan minuman yang berbahaya bagi janinnya. Yoo Chae merasa terkejut dengan kehadiran pria yang tahu-tahu mengacaukan pekerjaannya itu.  Ia bertekad akan melakukan tindakan untuk membalas perbuatannya. Namun yang terjadi, Yoo Chae dan Yoon Pyo malahan disandingkan dalam sebuah acara dokumenter. Apakah Yoo Chae menyetujui untuk syuting bersama Yoon Pyo? Bagaimana Yoon Pyo mengatasi kekacauan yang diakibatkan oleh sifat tidak sabarnya?

Setelah konflik antara idola dan antifan (So, I Married the Anti-fan), calon pengantin dan gaun pengantin yang tertukar (My Boyfriend’s Wedding Dress), Kim Eun Jeong kembali menuliskan ide yang segar di novel ‘Cheeky Romance’ ini. Konflik antara reporter wanita dan dokter kandungan pria yang menjadi idola di rumah sakit. Konflik yang diawali dari suatu kesalahpahaman yang terlanjur beredar di masyarakat luas, membawa dua manusia ini ke dalam kisah cinta yang menggelitik. Permasalahan keluarga yang membalut cerita ini juga menambah pesan moral yang disampaikan di novel ini. Masih dengan kekhasan Kim Eun Jeong yang menuliskan alur cerita dengan dialog dan adegan yang taktis dan seru, sehingga novel ini dapat dengan mudah divisualisasikan ala drama Korea oleh pembacanya.



dinoy

Sunday, October 21, 2012

Close To You - a Novel Review


Info Buku
Judul Buku: Close To You
Penulis: Clara Canceriana
Penerbit: Haru
Genre: Romance
Kategori: Fiksi, novel lokal
Harga: Rp 42.500
Tebal: 264 Halaman
Terbit: Oktober 2012


“Kau… pernah jatuh cinta pada dua orang sekaligus?” 

Jatuh cinta pada dua orang sekaligus, itulah yang Hara rasakan saat ini. Hara menyukai Alex, teman bicara di dunia maya yang menyenangkan. Alex mengenali Hara melalui sebuah nama, Lee. Lee yang dikenali Alex adalah gadis yang manis, lembut, dan ramah diajak bicara. Setiap hari mereka berbincang lewat skype tentang banyak hal. Terutama menceritakan perasaan masing-masing akan hari yang baru saja dilalui.

Di kehidupan nyata, sosok Hara berbeda dengan yang dikenali Alex. Hara tidak suka siapa pun menghalangi jalannya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Baginya, tidak ada basa basi, dan setiap orang yang tampak menyebalkan di matanya akan langsung mendapatkan ganjarannya. Cewek yang galak, begitu ia biasa dijuluki. Penampilannya yang tomboi menyembunyikan kecantikan wajahnya. Padahal dibalik sifatnya yang galak dan keras terhadap orang lain, sebenarnya Hara tetaplah perempuan yang memiliki jiwa yang sensitif. Peristiwa di masa lalu membuatnya membentuk dirinya sendiri menjadi seolah-olah tidak memerlukan orang lain. Saat Hara mulai merasakan kenyamanan bersama Alex, Shin Kang datang mengusiknya. Kang adalah mantan pacar Hara yang dulu memutuskannya karena berselingkuh dan tidak tahan dengan pribadi Hara. Namun kini Kang kembali hadir dan berusaha untuk menjadikan Hara sebagai pacarnya lagi. Akankah Hara menerima Kang kembali?

Belum selesai urusannya dengan Kang, ada cowok lain yang juga mencuri perhatian Hara. Dia adalah Bayu, mahasiswa asal Indonesia. Menjadi mahasiswa asing di negara dengan bahasa yang tidak bisa dibilang mudah untuk dipelajari, membuat Bayu agak kesulitan untuk berinteraksi dengan kawan-kawan kampusnya. Apalagi ia adalah cowok yang minder. Pada akhirnya ia menggunakan kemampuan dan ketelatenannya dalam mengerjakan tugas kuliah untuk bisa berinteraksi dengan para gadis. Oh, salah, tepatnya gadis-gadis itulah yang memanfaatkan kemampuannya. Mereka mendekati Bayu untuk sekadar minta dibuatkan tugas atau menyalin catatan mata kuliah. Dan Bayu tidak menolak. Dengan kenaifannya ia berpikir bahwa gadis-gadis itu sungguh-sungguh memerlukan pertolongannya. Namun justru Hara lah yang kesal akan hal ini dan memperingatkan Bayu untuk tidak menuruti kemauan mereka. Kenapa Hara menjadi sepeduli itu terhadap Bayu? Sebenarnya siapakah yg Hara sukai?

Novel kelima karya Clara Canceriana ini bercerita tentang kehidupan mahasiswa di Korea. Di novel ini kita akan diajak menyelami beberapa kebiasaan mahasiswa Korea, juga budaya-budaya negeri tersebut. Lewat kisah di antara kedekatan Hara-Alex-Lee-Bayu-Kang di Kwangdae University, Seoul, kita juga akan diajak untuk menyelami setiap perbedaan karakter dan cara mereka mengungkapkan perasaan masing-masing. 


dinoy

Thursday, October 11, 2012

With You, Sehari Bersamamu


Info Buku:
Judul: With You - Sehari Bersamamu
Penulis: Christian Simamora & Orizuka
Penerbit: Gagas Media
Genre: Romance
Terbit: Juli 2012
Tebal: 316 Halaman
Harga: Rp 50.000

Dua penulis dengan kepribadian dan gaya penulisan yang berbeda, disandingkan dalam proyek novel duet oleh Gagas Media yang berjudul ‘With You’.  Ini adalah buku gagas duet yang kedua yang saya baca setelah ‘Kala Kali’ dan terus terang, saya lebih menyukai konsep duet yang ini. Kenapa? Meskipun saya menyukai dua novela yang disandingkan di ‘Kala Kali’, namun saya kurang bisa menangkap dengan jelas benang merah di antara keduanya. Menurut saya lebih baik jika dua novela itu berdiri sendiri. Namun di novel ‘With You’, selain saya menikmati dua cerita yang berbeda di dalamnya, namun saya juga dengan mudah setuju kalau keduanya disandingkan dan memiliki satu benang merah. Apa benang merahnya? Sabar dulu, ya! ;)

‘Sehari bersamamu’ adalah tagline yang ditampilkan di novel ini. Saat pertama kali tahu dari teman kalau dua novela ini sama-sama mengambil setting waktu satu hari, dan diperkuat lagi saat saya membaca keterangan di sampul bukunya, saya seperti berpikir “Hah, serius nih cuma seharian aja ceritanya? Cungguh? Miapaaahh??* *okay, that was too much! :D* Maksud saya, akan seperti apa kisah yang hanya mengambil waktu sehari dituliskan sepanjang setengah novel? Apa nggak maksain tuh adegan-adegannya? Apa nggak ngebosenin? Oke, daripada sok menilai tapi nggak tahu lebih dalam, saya putuskan untuk membeli dan membacanya.

Dua novela dalam ‘With You’ ini masing-masing memiliki judul ‘Cinderella Rockefella’ yang ditulis oleh Christian Simamora dan ‘Sunrise’ yang ditulis oleh Orizuka. Dua penulis yang memiliki karakter berbeda (salah satu penulis sendiri mengungkapkannya di kata pengantar) serasa mewakilkan kepribadian masing-masing di tokoh utama novelanya. Cindy Tan (Cinderella Rockefella) adalah seorang model yang suka bicara ceplas ceplos, cepat menilai orang lain, dan juga jutek-mewakili karakter ekstrover. Sementara Lyla (Sunrise) adalah karakter gadis yang sederhana, pendiam, dan mudah menerima apa yang terjadi di hadapannya –mewakili karakter introver.

Gaya bahasa dua tokoh utama tersebut tentu saja berbeda. Cara pandang dua gadis ini tentang cinta pun tak sama. Apalagi hal-hal yang mereka lakukan saat mendekati atau didekati seorang pria. Hal ini terlihat misalnya saat Cindy bersama Jere. Meski ia nggak mudah menahan dirinya yang sebenarnya terpesona dengan sosok pria itu, namun ia masih bisa mengimbangi sikap Jere saat mereka makan malam berdua. Sementara Lyla masih merasa kikuk setiap kali ia harus bersinggungan dengan Juna, mantan pacar yang saat ingin ia hindari.

Oh ya, tadi saya sempat meragukan tentang apakah cerita yang disajikan menjadi maksa dan membosankan dengan setting waktu hanya sehari? Jawabannya: nggak. Setiap adegan terasa mengalir. Juga selipan flash back ke masa lalu tidak terasa berlebihan. Dan peralihan antara ‘Cinderella Rockefella’ ke ‘Sunrise’ terasa smooth, dengan menjadikan hubungan persaudaraan Cindy dan Lyla sebagai jembatannya.

‘Keduanya mempersembahkan dua cerita cinta yang menemukan takdirnya dalam satu hari saja’ .. dan saya langsung setuju dengan premis yang diajukan tersebut. Jadi apa benang merah yang saya dapat di novel duet ‘With You’ ini? It’s about finding the one, only in one day. :3


dinoy

Monday, October 8, 2012

Mencecap cerita di setiap rasa.. Rasa Cinta



Judul buku: Rasa Cinta
Penulis: Ariev Rahman, dkk
Penerbit: Bukune
Kategori: Fiksi, Kumpulan cerpen
Terbit: September 2012
Harga: Rp 45.000

Mencecap cerita di setiap rasa.. Rasa Cinta

Kumpulan cerita ini diawali dengan Loenpia Semarang yang setiap gigitannya memberi jeda sebelum bertemu dengan kekasih gelap. Lalu berlanjut dengan flash fiction dan juga beberapa puisi lain dengan benang merah kuliner. Ada kenangan yang terselip di balik setiap makanan dan minuman favorit. Roti bakar cokelat keju yang membuat pilu karena teringat akan cinta yang tak direstui, filosofi mi tarik yang memberi persepsi baru akan hubungan cinta jarak jauh, legitnya bika ambon yang membawa rindu akan kehadiran seorang ayah, atau sepoci teh yang memberi hangat pada hati yang terus mendamba kehadiran dia yang teristimewa.

Saya terkagum akan ide yang ditawarkan dalam buku ini, mengolah dan mendeskripsikan setiap rasa yang dikecap lidah dan mengaitkannya dengan perjalanan hidup anak manusia. Buku ‘Rasa Cinta’ terbagi dalam 3 kategori: Appetizer, Main Course, dan Dessert. Dan seperti judulnya, setiap cerita dalam tiga kategori tersebut menghadirkan makanan atau minuman yang sesuai dengan kategorinya. Misalnya Roti bakar sebagai hidangan pembuka (Appetizer), Nasi Goreng sebagai makanan utama (Main Course), dan Cheesecake sebagai sajian pencuci mulut (Dessert). Tujuh penulis dengan cara menulis kisah yang berbeda, namun disatukan dalam satu buku dengan peletakan cerita yang membuat saya sebagai pembaca penasaran untuk menyimak lagi kisah apa yang ditawarkan selanjutnya. Memang bukan sebuah novel yang setiap babnya akan menyambung cerita dari bab sebelumnya, namun justru cerita-cerita lepas yang disajikan tidak terlalu panjang dan  membuat saya menagih untuk menyelami rasa apa lagi yang akan dikisahkan.

Meski secara keseluruhan saya menyukai kumpulan kisah pendek dan puisi ini, namun tetap saya harus memberikan kritik untuk buku ini. Pertama, secara teknis. Hal yang sepertinya ringan namun berulang yang menjadikan mengganggu: lumayan banyak salah tulis alias typo. Misalnya yang bikin gemes: ‘es kepala muda’ dan ‘santan kepala’ :D Kedua, karena ini konsepnya adalah menceritakan tentang kuliner yang membawa kita pada sebuah kisah, untuk beberapa cerita saya merasa agak memaksakan dan makanan atau minuman yang ada di dalamnya seperti sekadar cameo saja, atau mungkin tuntutan untuk memenuhi halaman buku? Semoga nggak begitu :D. Ketiga, saya harus ‘menganugerahi’ cerita paling gengges (ganggu) pada ’Dua Tangkup Cinta’ milik Roy Saputra. Ceritanya dari awal saya baca di kategori Appetizer, ah mbulet lah, pikir saya. Sepertinya memang itu konsep yang ditawarkan si penulis, tentang tiga orang yang merancangkan skenario saling menjebak untuk memanfaatkan seseorang. Namun ternyata cerita itu masih dilanjutkan di Main Course dan Appetizer yang akhirnya ketahuan apa maksud dari kembuletan itu. Tapi tetap saja, saya nggak suka dengan jalan cerita yang menurut saya maksa ini. Maaf Roy, sepertinya (tulisan) kamu memang bukan selera saya sejak di ‘Trave(love)ing’, hehee ..

Jadi sekali lagi, secara keseluruhan saya menyukai buku ini. Sebagai teman bacaan yang ringan yang membawa suasana melankolis dan komedi. Sebuah konsep baru yang ditawarkan di antara keriuhan buku roman dan kisah perjalanan. Selamat membaca, selamat mencecap rasa! :D 

dinoy

Friday, September 7, 2012

Resensi Trave(Love)ing



Judul: Trave(Love)ing

Penulis: Roy Saputra dkk
Penerbit: Gradien Mediatama
Genre: Nonfiksi, Travelogue
Harga: Rp 44.000 







Membaca buku ‘Trave(Love)ing’ berarti menyimak perjalanan Mia, Grahita, Dendi, dan Roy dalam menyembuhkan luka hati mereka akibat putus cinta. Dubai, Bali, Kuala Lumpur, dan Bangkok adalah tempat-tempat yang menjadi setting cerita mereka berempat.

Empat penulis dengan gaya bercerita yang berbeda-beda, menjalin runutan kisah yang peletakannya pun diatur sedemikian rupa sehingga pembaca menjadi nyaman membacanya. Mia dengan bahasa yang melankolis abis dan galau parah, Grahita juga dengan kegundahan hatinya malah melakukan beberapa kekonyolan dalam perjalanannya yang menjadikannya menarik. Dari sisi cowok sendiri, Dendi dan Roy memadukan unsur kesedihan hati yang dibalut komedi –khas cowok yang nggak mau terlihat mellow- juga menambah rasa buku ini. Jujur saja, saya sering merasa terganggu dengan jokes mereka yang di beberapa bagian malah terasa garing, but hey, inilah gaya mereka bercerita, nggak ada salahnya sih. :)

Hati Patah Kaki Melangkah

Inilah tagline yang disebutkan di buku ini. Saya jujur menjadi merenung juga saat membaca cerita mereka. Saya berpikir, berapa kali sih saya melakukan suatu perjalanan jauh dengan tujuan khusus? Berapa kali ketika saya sedang bepergian, saya memberatkan hati dan pikiran saya terhadap sesuatu, dan bukannya malah menyiapkan diri untuk petualangan-petualangan baru?? Jawabannya: sering. Perjalanan adalah salah satu cara kita merayakan diri. Merefleksikan masalah-masalah hidup yang sering kita abaikan di rutinitas keseharian. Dan pada akhirnya, perjalanan akan membawa kita melihat hal-hal baru demi mensyukuri apa yang telah kita lalui sampai saat ini.

Secara keseluruhan, saya menikmati cerita-cerita di Trave(Love)ing ini. Di antara keriuhan tren buku perjalanan, buku ini menjadi salah satu yang layak untuk dinikmati. Membawa nuansa baru dalam suatu cerita perjalanan.

Nah jika hatimu sedang gundah, sudah tahu kan salah satu cara yang ampuh untuk mengobatinya?? Melangkahlah, sesederhana itu, kok! :)

dinoy




Sunday, September 2, 2012

Jika Ini Bukan Cerita Cinta



Jika ini bukan cerita cinta, lalu kenapa aku menangkap kilatan gundah di muka Akshara saat terduduk di tempat favoritenya?

Jika ini bukan cerita cinta, apakah aku salah melihat keromantisan dalam mata Bumi saat mengamati perempuan penulis itu dalam diam?

Dan jika ini bukan cerita cinta, akankah aku keliru mengartikan sikap cemburu yang disiratkan Koma melalui sikap tenangnya?

Saya menikmati permainan merangkai kata dalam kalimat yang dilakukan Windy Ariestanty dalam novella ‘Bukan Cerita Cinta’ di buku Kala Kali ini. Dengan kekhasannya sebagai seorang editor, ia mengajak pembaca untuk mengurai jalinan (bukan) cerita cinta melalui baris-baris kalimat baku yang tanpa terasa menjadi enak untuk dicerna. Dari awal cerita saya sudah mulai bisa menebak bahwa ini adalah cerita tentang pria yang jatuh cinta kepada sahabatnya diam-diam. Tentang si sahabat perempuan yang sibuk dalam dunia dan angannya sendiri akan cinta, mencurahkan segala isi hati dan rahasia kegundahannya pada teman prianya, tanpa ia sadari bahwa si pria ini menganalisanya begitu cermat.

Cinta itu tak memerlukan ukuran dan pengakuan. Ia hadir begitu saja melalui telinga yang mendengarkan, mulut yang siap menyorongkan kalimat sanggahan setiap orang yang dicintai bertindak tak semestinya. Cinta itu seperti kuku jari yang kadang tampak mengganggu dan menyakiti ketika menggores kulit, namun selalu ada dan tumbuh walau dipotong. Cinta itu layaknya ia yang bersedia memacu kendaraan lebih cepat meninggalkan segala kenyamanan, demi memastikan kamu akan tertidur pulas meski sedang sakit. Cinta itu hadir tanpa tendensi, namun kuat dan mengutuhkan.

Cinta itu cukup. Dan secukup inilah saya mengurai resensi saya tentang ‘Bukan Cerita Cinta’, novella yang membuat saya belajar akan bahasa dari sisi yang lain. Lain kali, saya akan mencoba untuk membuat jalinan cerita dari satu kata yang saya comot acak dari sebuah buku kamus. ;)


dinoy

Saturday, August 25, 2012

Seoul Cinderella: Another Version of Cinderella Fairy Tale




Judul: Seoul Cinderella
Penulis: Lia Indra Andriana
Penerbit: Haru
Genre: Romance
Kategori: Fiksi, novel lokal
Terbit: September 2012
Harga: Rp 32.000

Dongeng Cinderella. Puteri cantik sederhana yang diperlakukan buruk oleh ibu dan saudari tirinya, lalu ditolong oleh seorang pangeran tampan yang dipertemukan pada suatu pesta. Pernah mendengar kisah ini? Tahu dong bagaimana kelanjutannya? Ternyata kisah seperti ini berulang pada kehidupan Nia, seorang gadis Indonesia yang menjadi TKW di negara yang menawarkan sejuta keromantisan: Korea Selatan. Nia hanyalah seorang gadis yang berusaha mengubah nasibnya yang kurang beruntung di Indonesia, dengan tinggal dan mengabdi pada keluarga kaya raya di Seoul. Ia bukan seorang istimewa, seperti Cinderella, yang memiliki berbagai kemampuan layaknya seorang puteri. Namun ketidak istimewaannya mengantarkannya bertemu dengan sang pangeran : Hyun Jun. Bukan, bukan sepatu kaca yang mempertemukan mereka, melainkan masakan Indonesia! Dengan sebuah kebohongan bahwa Nia memiliki keahlian memasak makanan Indonesia, ia pun diberi kesempatan untuk tinggal bersama pria tampan ini, berdua di apartemennya.

Saya sungguh tergelitik ketika tiba-tiba Hyun Jun meminta Nia memasakkan rawon, kuliner khas Jawa Timur. Tidak bisa dibayangkan bahwa seorang eksekutif muda rela berbelanja bahan-bahan masakan dan bumbu dapur, demi mencicipi makanan Indonesia berwarna dasar hitam ini. Dan adegan-adegan tentang Nia yang mencoba memasak rawon namun justru memporak porandakan dapur milik Hyun Jun, menjadi awal sebuah cerita yang menarik. Inilah Cinderella yang diperhadapkan pada Hyun Jun: seorang gadis yang tidak bisa memasak, susah diatur, dan keras kepala. Dan sebagai seorang pangeran, bagaimana Hyun Jun menaklukkan puterinya ini??

Novel Seoul Cinderella karya Lia Indra Andriana ini sarat dengan konflik yang memberi pelajaran moral bagi pembacanya. Tentang permasalahan dalam keluarga, masa lalu yang pahit, dan pilihan untuk membalaskan dendam atau malah mengampuni orang yang memberi luka batin pada kita. Salut dengan penggambaran emosi yang sangat kuat oleh penulis, pada tokoh-tokoh utamanya. Favorit saya adalah saat kedua tokoh kembali menyibak getirnya masa lalu mereka. Tidak hanya sekedar bercerita, namun luapan emosi yang mengiringinya pun membuat saya larut dalam masalah yang mereka alami. Dan sekali lagi, pendalaman riset yang dilakukan penulis terhadap latar tempat cerita, selalu memesona saya. Saat menulis cerita ini, Lia belum menginjakkan kaki di Korea, namun penggambaran beberapa tempat dan juga budaya Korea di dalam novel ini sangat jelas dan rinci. Membuat pembaca tidak kesulitan untuk ikut serta mengiringi kisah Nia di Korea. Untuk sebuah novel yang layak dibaca dan dinikmati, Seoul Cinderella sudah memenuhi setiap kriteria yang dibutuhkan, saya rasa. :)

Monday, July 30, 2012

Thoughts After Reading Novel 'My Boyfriend's Wedding Dress'


Judul: My Boyfriend's Wedding Dress
Penulis: Kim Eun Jeong
Penerbit: Haru
Genre: Romance, Comedy
Kategori: Fiksi, novel terjemahan
Harga: Rp 65.000

Gaun pengantin yang tertukar, lalu lari dari pernikahan. Dan serentetan masalah kemudian menghampiri kehidupan Se Kyoung, perempuan berumur 28 tahun yang bekerja di bidang event organizer. Se Kyoung tak menyangka bahwa keputusannya mengevaluasi ulang rencana pernikahannya dengan Hyo In di detik-detik terakhir malah menyeretnya ke banyak masalah baru yang melibatkan dua pria lainnya, yaitu Kang Hoo dan Hae Yoon. Kang Hoo adalah pianis andal yang juga mantan kekasih Se Kyoung, yang tengah berusaha mati-matian untuk membawa Se Kyoung kembali ke dalam pelukannya. Sementara Hae Yoon adalah pengacara internasional berdarah Korea yang jauh-jauh terbang dari New York ke Seoul, melawan fobianya akan naik pesawat terbang, demi menuntut pertanggung jawaban dari Se Kyoung.

Akibat keteledoran dari pihak perancang gaun pengantin di Italia yang salah alamat dalam mengirim gaun pengantin, harus ditanggung oleh Se Kyoung sepenuhnya. Ia harus diikuti oleh seorang pria yang mengaku bahwa gaun itu adalah milik tunangannya yang setengah mati menginginkan gaun itu kembali. Se Ji, adik dari Se Kyoung, menambah rumit masalah ini dengan membawa gaun itu ke daerah yang jauh dari Seoul. Petualangan mengejar gaun pengantin pun dimulai, Se Kyoung bersama pria itu pergi ke tempat yang ditunjukkan Se Ji. Di tengah-tengah usaha mereka untuk mendapatkan gaun itu, tiba-tiba tunangan si pria muncul. Kang Hoo juga sepertinya tidak dapat melepaskan Se Kyoung dari pandangannya barang sehari saja, sehingga ia pun ikut menyusul. Dan disinilah konflik mulai meruncing. Se Kyoung merasa masalah demi masalah tak henti hentinya menyerangnya. Apa yang harus ia lakukan untuk menghentikannya?

Novel korea ini adalah novel kedua karya Kim Eun Jeong yang saya baca-setelah So, I Married the Antifan, dan sekaligus novel korea terjemahan ketiga yang saya baca. Awalnya, saya merasa ide ceritanya klise, yaitu pria dan perempuan yang dari awal saling membenci, namun karena seringnya kebersamaan lalu timbul perasaan-perasaan cinta. Itu yang sudah bisa saya duga dari awal sampai pertengahan membaca novel ini. Namun ketika saya bertahan dan meneruskan membaca, saya terus dibuat-buat menebak, apakah akhirnya Kang Hoo atau Hae Yoon yang kemudian akan menjadi kekasih Se Kyoung? Adegan-adegan dan alur yang tak terduga membuat saya berhenti menilai bahwa ide ceritanya adalah ide yang klise. Well, bisa dibilang saya cukup menikmati ceritanya. Karakter Kang Hoo yang tidak mudah menyerah dalam memperjuangkan cinta, Se Kyoung yang sudah tidak mau lagi mempercayai cinta namun diam-diam tidak dapat menolak datangnya perasaan itu lagi, ataupun Hae Yoon yang selalu sinis karena masa lalunya yang buruk. 

Membaca novel inipun saya sempat dibuat agak puyeng, karena menurut saya terlalu banyak adegan yang memang seharusnya lebih enak dinikmati secara visual sih, semoga saja ya K-Dramanya akan segera dibuat. Tapi itulah keasyikannya, karena menurut saya seni membaca novel terjemahan adalah seni mempelajari budaya-budaya dan simbol-simbol dari negara yang dijadikan latar cerita. Ya, termasuk juga mempelajari gaya bersikap dan bercakap-cakap mereka. Cukup menarik! :)

dinoy

Sunday, July 29, 2012

Books Reviewer



Saya suka membaca buku, lebih-lebih novel. Dan kesukaan saya itu membuat saya tertarik untuk menulis review buku, mulai sekitar setahun yang lalu. Menurut saya, menulis review buku melatih kemampuan saya untuk menulis kembali rangkuman cerita dari buku yang saya baca, tanpa bermaksud menjadi spoiler alias membocorkan jalan cerita keseluruhan. Awalnya sih, review-review buku yang saya baca hanya untuk kesenangan pribadi, yang saya tuangkan di blog pribadi saya. Tapi mulai bulan Mei 2012 lalu, saya mulai menulis review untuk buku-buku terbitan Penerbit Haru yang dimuat di tabloid dan majalah. 

Bermula dari kesukaan saya membaca buku-buku Penerbit Haru, dan melihat review dan kuis buku mereka di suatu tabloid, lalu saya mengajukan diri untuk membuat bahan reviewnya. Dan saya berterima kasih karena Penerbit Haru sudah mengijinkan saya untuk melakukannya. Total sudah ada review 5 buku di 3 tabloid dan 4 majalah yang sudah saya buat untuk Penerbit Haru sampai dengan sekarang.




Review novel Then I Hate You So (Andry Setiawan) di tabloid Asian Plus edisi 2- 8 Mei 2012.






Review novel Then I Hate You So (Andry Setiawan) & So, I Married The Antifan (Kim Eun Jeong) di majalah Asian Hits Vol 028 (Mei 2012).





Review buku non fiksi-pengembangan diri We Cannot Stop Here (Hong Seung Seong) di majalah Asian Hits Vol 029 (Juni 2012).






Review novel SeoulMate is You (Lia Indra Andriana) di tabloid Asian Plus edisi 481 (13 – 19 Juni 2012).






Review novel SeoulMate is You (Lia IndraAndriana) di majalah Asian Look vol 23 (Juli 2012).









Review novel My Name is Kim Sam Soon (Ji Su Hyun) di tabloid Asian Plus edisi 486 (18 – 24 Juli 2012).






Review novel My Name is Kim Sam Soon (Ji Su Hyun) di majalah Asian Hits Vol 030 (Juli 2012).





Review-review yang saya tulis tersebut tentunya tidak langsung dikirimkan ke media oleh Penerbit Haru, melainkan ada proses penyuntingan terlebih dahulu, dan setiap revisinya diberitahukan kepada saya. Saya harap sih, saya masih diberi kesempatan untuk menulis review buku-buku Penerbit Haru selanjutnya, sekaligus melatih kemampuan menulis saya yang dibaca oleh kalangan luas. :)

dinoy


tambahan review buku Haru:

                                                                                  

Review novel My Boyfriend's Wedding Dress (Kim Eun Jeong) di majalah Asian Look Vol 24 (Agustus 2012). 





Review novel My Boyfriend's Wedding Dress (Kim Eun Jeong) di tabloid Asian Plus edisi 491 (29 Agustus - 04 September 2012).







Review novel Seoul Cinderella (Lia Indra Andriana) di tabloid  Asian Plus edisi 494 (19 - 25 September 2012).













Review novel Seoul Cinderella (Lia Indra Andriana) di majalah Asian Look Vol 25 (Oktober 2012)  







Review novel Close To You (Clara Canceriana)  di majalah Asian Hits Vol 32 (Oktober 2012)









Review novel Close To You (Clara Canceriana)  di tabloid Asian Plus edisi 500 (31 Okt-6 Nov 2012)




                                                                                                                   




Review novel Cheeky Romance (Kim Eun Jeong) di tabloid Asian Plus edisi 502 (14-20 Nov 2012






Review novel Cheeky Romance (Kim Eun Jeong) di majalah Asian Look edisi 26 (November  2012)