Showing posts with label place of interest. Show all posts
Showing posts with label place of interest. Show all posts

Sunday, September 2, 2012

C H E E R S



Today I don’t feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
Don’t feel like picking up my phone
So leave a message at the tone
‘Cause today I swear I’m not doing anything
Nothing at all
[Lazy Song – Bruno Mars]
….

“Cheers!” kami mengangkat gelas dan botol kami, lalu menenggak cairan yang berbeda rupa masing-masing. Bir,mocktail fruitpunch, vodka, Jack Daniel dan,,, es teh tawar. Ada keheningan sejenak saat Arga menyebutkan minuman pesanannya. Sejenak saja, lalu disusul tawa membahana dari kami berenam. Tidak, kami tidak hendak melecehkan pilihannya saat kami bertujuh memiih menghabiskan tengah malam yang dihiasi bulan bulat sempurna di salah satu bar di kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Tidak ada yang salah untuk tidak minum alkohol di bar, tapi teh tawar?? Cukup sudah untuk menjadi bahan candaan bagi kami. Aku sendiri, apa pilihanku untuk membasahi tenggorokan yang sudah mulai kering lagi malam itu? Mocktail fruitpunch, dan cukup segar saat ditenggak. Aku tidak anti alkohol, meski bukan penggemar juga. Pernah iseng menenggak sekaleng Heinekken sendirian di kamar kos, demi meringankan kepala yang saat itu mendadak jengah. Lalu terakhir bersama beberapa dari mereka juga tiga minggu lalu, saat menghabiskan malam di Ciwidey, Bandung.

Jack Daniel, Tia Maria, dan Baileys. Adalah nama tiga bule serupa botol yang menemani kami bertukar bicara. Aku masih mengingat jelas malam itu. Bukan bermaksud sok menantang diri dengan minum alkohol, hanya berbaur, sambil tetap menjaga kesadaran diri. Beberapa tuangan dari tiga macam minuman itu, lalu aku merasa hangat di dada dan sesuatu di kepala juga. Masih teringat ketika waktu semakin larut, botol terus menuangkan cairan-cairan beraroma tajam, dan aku masih bertahan. Sampai obrolan menjurus cerita-cerita pribadi, lalu aku menyerah. Mengaku kalah pada tekanan yang dirasakan oleh kepalaku, dan diam-diam melipir dari giliran memuntahkan rahasia pribadi. Aku melangkah pelan menuju kamar hotel dan membaringkan diri. Biarkan saja mereka melanjutkan cerita, aku takut nanti mereka akan kecewa ketika tiba di giliranku, yang ceritanya hanya biasa-biasa saja. Campuran ketiga bule serupa botol tadi sukses membuatku terpejam tak lebih dari lima menit aku menyentuhkan kepalaku ke bantal.
…

Lalu mengapa malam ini di Sabang aku hanya memilih minuman rasa buah yang sama sekali tidak beraroma tajam? Sudah kapokkah aku? Jawabannya adalah aku tertambat pada rasa ‘aman’. Aman yang pertama: mengingat aku masih harus melanjutkan perjalanan pulang ke rumah kos, maka aku tidak boleh merasa pusing di kepala. Dan kedua, adalah mengamankan uang di dompet yang saat itu tersisa enam puluh ribu rupiah. Yah, meski kata teman-teman harga minuman-minuman yang terasa panas di tenggorokan di bar ini tergolong sangat murah, tapi tetap saja aku butuh uang taxi untuk pulang. Ha!

Kami bercakap-cakap tentang segalanya. Diiringi lagu-lagu mancanegara terkini yang diputar lumayan menghentak, membuatku spontan menggoyangkan badan sembari duduk.
“Menurut kalian, apakah roman itu masih hidup? Masih jaman nggak sih mempertimbangkan sesuatu dengan alasan utama ‘cinta’ ?” Rio, teman salah satu dari kami yang lebih dulu hadir di tempat ini, melontarkan pertanyaan kepada kami berdelapan. Di hadapannya kertas, pena, dan sebotol besar bir yang isinya masih setengah menjadi peneman.
“I do believe that romance still alive, but we cannot live ONLY by LOVE,” Angie menjadi sukarelawan pertama yang menjawab pertanyaan Rio, dengan memberi penekanan pada kata ‘hanya’ dan ‘cinta’.
“No, no,” sanggah Rio, “Gue nggak bilang cuma makan cinta, or somekind … Lo tetap makan nasi, butuh materi, tapi masih mungkin nggak sih mempertahankan suatu hubungan dengan dasar utama cinta?” lanjutnya.
“It’s possible but only for temporary!” sambar Ussy cepat.
“Okay, how long?”
“Let’s say … three years?!”
“Dan lo udah pacaran selama…??” kali ini Arga si pria teh tawar yang sigap menyerang jawaban Ussy.
“Tiga tahun kakak, terus putus!”
Tawa kami spontan menggelegak meningkahi suara Katy Perry yang sedang kena giliran menghibur pengunjung lewat mesin pemutar lagu.

Aku mendekatkan sedotan ke mulut demi menyegarkan tenggorokan dengan sari buah. Kuedarkan pandangan ke sekeliling bar yang sedang ramai-ramainya ini. Asap rokok, pria dan wanita dewasa seumuran kami, dan cowok-cowok bule lucu, tampak sedang bercengkerama. Ada juga yang asyik menyimak pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi-televisi yang terpasang di atas kepala. Ini pengalaman pertamaku ke bar, dan dengan berusaha tak terlihat menilai, aku mengamati mereka yang menghabiskan jumat malamnya di tempat ini. Tempat duduk kami yang berada di pojok membuatku agak leluasa melihat mereka yang memilih singgah untuk mengobrol santai ditemani musik dan minuman, juga makanan ringan. Beberapa terlihat mengenakan pakaian formal, seperti habis pulang kerja, bahkan ada yang masih memakai kemeja batik. Beberapa lainnya mengenakan pakaian dan dandanan yang sepertinya memang disengajakan untuk datang ke tempat ini. Agak mencolok.

“Melly’s ini memang selalu ramai, secara lokasinya strategis dan harga minumannya mure, bok!” Ussy menjelaskan dengan menyebut nama bar yang kami pilih ini.
“Tapi alkoholnya light kok, ya, ini mah kayak sirup!” Benny menimpali.
“Well, you got what you paid lah om, murah gini pasti udah dicampur air lah,” dengan memutar gelas lebar pendek berisi one shot Jack Danielnya Angie ikut berkomentar.
“Terus mereka ngapain pakai topi Sombrero gitu?” Temmy menunjuk pelayan-pelayan yang baru kami sadari, beberapa menit belakangan ini telah mengenakan topi lebar berwarna-warni khas Meksiko.
“Itu tandanya bentar lagi Happy Hours, Tequila only for twenty thousand, kakaaak…” terang Uliel dan tak lama, kami mendengar semacam bunyi sirine dan pengunjung berteriak kegirangan.

“It’s Happy Hour time!” lalu Rio memesankan kami satu pitcher tequila yang dibalut rasa jeruk. Tak perlu menunggu lama, pesanan Rio datang dan Benny kebagian tugas menuangkan ke beberapa gelas mungil dengan leher tinggi. Dia menawari kami satu persatu dan “Noy, mau?” tanyanya dengan mengangkat alis sambil memandangku. Tak banyak berpikir aku menjawab "Ok!" melupakan rasa aman yang tadi kupikirkan. Toh ditraktir ini, cengirku dalam hati. Enam dari kami bersembilan mengangkat tinggi gelas mungil itu, mempertemukan milik satu sama lain sehingga menimbulkan bunyi berdenting...

“Cheers!”

Melly’s Bar & Resto, Sabang – Jakarta Pusat
11.00 pm ‘til 01.30 am
(Aug 31st-Sept 1st, 2012)
True story with some fiction added, and changed in name
dinoy

J

Thursday, June 7, 2012

Kantor Baruuuu ...


Kalau kamu membaca judul postingan ini dan mengira aku pindah kerjaan (lagi!),, no no no ! Biar aku jelasin lebih dulu di awal, kalau aku masih setia jadi karyawan di kantorku yang sekarang, Malindo, hehee ... Yang aku maksud baru adalah lokasi kantornya. Jika sebelumnya aku berkantor di Kompleks Dutamas Fatmawati (sejak Maret 2011 aku mulai kerja di Malindo), mulai dua hari lalu aku pindah lokasi kantor ke Kompleks Lottemart Fatmawati (dulu namanya Plasa D'Best), sekitar 10 menit jaraknya dengan menggunakan kendaraan bermotor. Humm, dari dulu emang kantorku punya semacam kantor cabang juga di sana, nah wacana nya sekarang kantor pusat di Dutamas akan ditiadakan dan jadi satu dengan di Lottemart ini. Mulai dua hari lalu tim Audit resmi pindah, menempati lantai empat. Ini adalah ruangan baru ku:

Ruangan baru lebih kecil tapi lebih private dengan kubikel

Tadi usai makan siang, karena masih ada waktu setengah jam sebelum istirahat berakhir, aku memutuskan untuk berbelok ke Lottemart dan melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.
Pintu masuk lottemart dari parkir basement

Ternyata isinya lumayan menarik. Aku nggak masuk ke supermarketnya yang ada di lantai dua, karena ternyata di lantai dasar banyak tempat-tempat menarik juga. Ada toko sepatu, toko kamera, Bread Talk, Solaria, Lotteria (fast food punya Korea), dan Angel in Us Coffee (kafe dari Korea) ..

Mampir ke toko kamera buat tanya-tanya, pengennya bulan depan beli kamera

Yang mau nongkrong di kafe ala Korea

Jumat nanti coba makan di sini ah, cobain burger bulgogi, lol

Hmm, coba ada Gramedia, bisa makin betah nih aku .. Tapi konsekuensinya, selama aku masih ada di kos yang sekarang, harus bisa bangun lebih pagi neh biar nggak telat. Soalnya perjalanannya butuh sekitar sepuluh menit naek metromini, kalau nggak pake macet !

dinoy

Saturday, May 21, 2011

cheapy book *grinning*

Sooo.. Thanks God this is my weekend holidaaaayyy... Yeap, Ini adalah sabtu minggu ketiga dimana aku libur dari kerjaan kantor.. Hohohoho.. sebenarnya tidak ada niat untuk jalan-jalan weekend ini, maunya istirahat aja, tapi aku cuma ada satu agenda: ambil orderan kabel data Nexian di blok M Square. Soo, tadi siang setelah mandi,bermalas-malas ria sambil chatting dan browsing, akhirnya aku beranjak juga menuju kawasan perbelanjaan yang tidak terlalu jauh dari kos ku itu, hanya 15 menit dengan menggunakan metromini. :) Bergegas naik ke lantai 3A ke Nexian centre.. tapi karena sesuatu hal, aku diminta menunggu minimal 30 menit oleh petugasnya. Well, okay, no problemo. So i decided to wandering around, dan aku inget didepan blok M Square ada plang bertuliskan 'Bursa Buku Murah' yang terletak di lantai basement. Kebetulan juga ada buku mahal yang lagi aku incer, siapa tahu dapet 'versi murah' nya disana.. :D

Jadi dari lantai 3A, aku langsung menuju basement dengan menggunakan lift. Dilantai ini aku nggak langsung menemukan lapak-lapak penjual buku, tapi melewati dulu di kawasan penjual pakaian, sebelum aku melihat ada satu lapak yang nggak terlalu luas dengan kumpulan buku-buku mulai dari novel sampai pengetahuan umum. Mataku tertuju sama satu buku yang sudah menjadi inceranku.. aku tanya sama abang penjualnya, berapa harga buku itu? Dia bilang 150 ribu, tapi bisa nawar.. tapi karena aku berpikir nggak langsung beli hari itu, ya aku bilang cuma lihat-lihat saja.. Eh si abang itu, ya dasarnya semangat menjual, mulai persuasive.. "Boleh nawar kok mbak.. bisa 120 ribu.." Tapi lagi-lagi aku belum begitu tertarik. Aku pikir, masa iya cuma segini aja (lapaknya) ?

Then i continue my wandering, menuju area lain masih di lantai yang sama. Naah, barulah penasaran ku terjawab, setelah melihat hamparan (ehm bahasanya agak lebay) lapak-lapak buku murah berjajar.. Taraaamm.. yakh, foto dibawah ini salah satu gambarannya, aku ambil dari website nya Blok M Square




Aku berkeliling, mencoba mencari buku incaranku. ternyata memang ada lebih dari satu lapak yang menawarkan buku tersebut. Tapi mataku nggak melulu tertuju hanya untuk mencari buku itu, aku juga memperhatikan buku-buku yang lain yang dijual disana.. Hmm, not bad, malah kinda tempting! hahaa.. coba deh, tahu novel Perahu Kertas ga? Itu yang karangannya Dewi Lestari, my inspirable writter.. Buku itu cuma dijual dengan harga 30 ribu rupiah (belum nawar). Ngeeek, novel tebel itu saya beli tahun lalu harganya 60 ribu something looh.. wuahahhaaa..
Terus ada juga buku-buku wajib buat kuliah, yang bikin aku senyum-senyum sendiri.. Ada buku Audit karangan Arens.. ada buku KUHP yang dulu (ehm its about 7 years ago) wajib dibawa di mata kuliah Aspek Hukum Dalam Bisnis kalo nggak mau diusir ama si dosen cantik nan jutek, huehehe..

Well, buku-buku, novel-novel,majalah lama, wajarlah kalo murah, menurutku.. Tapi jangan salah, ada juga buku-buku yang baru yang dijual murah juga.. Ada satu novel yang masih kinyis-kinyis menurutku, tapi dijual dengan harga nggak sampe separuhnya.. (i will not mentioning the title, but when i told that to the writter, dia malah ketawa). Huaaa, itu kok bisaa ya kayak gitu?? Fyi, aku sempat baca di petunjuk tentang Bursa Buku Murah Blok M Square ini, kalau lapak-lapak ini merupakan pindahan dari Kwitang, area yang terkenal dengan buku-buku murah juga.

Oh ya, kembali ke soal buku yang aku incer, ini lho buku yang aku cari-cari itu..


Di Gramedia sih harganya bisa 200K something gitu deh, tapi si abang di satu lapak yang koleksi nya cukup lengkap (bukan lapak yang pertama kali kudatangi) menawarkan 120K sudah termasuk cd buat soal-soal listening nya 10 keping.. huehehe.. aku coba nawar-nawar, aku tawar 100 ribu, katanya nggak boleh.. Dia sempat nurunin harga jadi 115 ribu.. Tapi aku nggak langsung ambil. Aku lanjut muter-muter dulu.. sempetin nyebrang ke Gramedia di depan Blok M Square buat price comparing, lanjut ke lantai 3A lagi ambil barang pesanan ku.. menimbang-nimbang isi dompet.. ke ATM.. dan yeah, akhirnya aku putuskan kembali ke si lapak tadi.. ketemu abang penjual yang sama, aku langsung nembak (eh, bukan katakan cinta, please deh!): "bang, cepek aja lah ya, duitnya pas nih.." "nggak boleh mbak, udah deh 110, udah kasi murah itu" Aku masih dengan muka sok mikir, sok menimbang-nimbang, lihat-lihat kualitas barangnya.. sebelum akhirnya aku beli juga tuh buku dengan harga 110ribu rupiah :D

Oh ya pas tadi nanya dan nawar pertama kali, aku sempet nanya dimana sih ambil buku nya kok bisa dapet murah? Eh dia sok maen rahasia-rahasia an doong.. tapi pas akhirnya di kedatangan kedua dia buka suara juga kalo itu adalah buku bajakan, karena dia juga jual buku TOEFL lain versi asli tentunya dengan harga menyesuaikan. Well hehe gak apa lah ya 'nakal sedikit' beli buku bajakan, yang penting isi nya masih bagus kok buat dibaca, had checked it before decided to bought it.. :)

Oh ya soal belanja dikawasan blok M ini, aku jadi inget pernah nyeritain di postingan A Day in Blok M hampir setahun yang lalu..

Dan alasan kenapa aku ngincer buku tentang belajar TOEFL, aku share in di cerita tentang mimpiku :)

~dinoy~

Sunday, August 29, 2010

A Day in Blok M.. August 28, 2010


Ceritanya, hari itu (Sabtu, 28 Agustus 2010) aku dan tiwin, sahabat dan temen maen baru di Jakarta, janjian ketemu di Blok M.. Agendanya sih, merealisasikan pertemuan yang dah direncanain dari sebulan tapi ga jadi-jadi mulu.. Tapi misi utamanya sih mau shopping, kan syarat utamaku mau pergi hari itu ya kalau rekeningku dah menggendut ya, alias THR ku dah masuk, hehe.. So, setelah dipastikan THR dah tertransfer tgl 26, aku langsung semangat membicarakan rencana pertemuan ini. Jumat, setelah melakukan tawar menawar soal jam ketemuan, [aku menawarkan ketemu jam 11 siang tp kata tiwin itu masih terlalu pagi, sementara dia menawarkan ketemu jam setengah dua] akhirnya disepakati kalo ketemuan langsung di Blok M nya jam dua siang..

Tiwin yang kos nya di daerah Gajah Mada berangkat ke Blok M menggunakan transjakarta, dari halte Mangga Besar andelannya ambil busway yang jurusan Halte Blok M, perhentian terakhir. Sementara aku memilih naik bus nomer 89 jurusan Tanjung Priok-Blok M dengan rute cawang, gatsu, komdak dan tentu saja terakhir di terminal Blok M. Tapi jujur saja aku segera menyesali keputusanku ini, padahal tadi diterminal ada juga bis AC 49 dengan jurusan yang sama namun melewati tol slipi, belok ke komdak. Karena alih-alih menikmati perjalanan dengan rute yang tidak biasa, tapi aku malah dibuat bete dengan bis yang jalannya kayak keong racun (kalo keong biasa kan bisa cepet jalannya, nah ini kayak keong yang diracuni jadinya lemot abiz!), belum lagi sempat terjebak macet di sekitar cawang-gatsu..

Namun untungnya aku sampe dan ketemu Tiwin di Blok M jam dua lebih dikit, pas Tiwin baru menyelesaikan makan siang nya di warung jali-jali dekat Ramayana. Setelah ber say hai dan ngobrol sejenak, kami langsung tancap gas menjalankan misi belanja kami.. Well, dari kemarinnya aku dah bilang ke Tiwin barang apa aja yang mau aku beli: Celana pendek, sun glasses, arloji, sun block.. plus aku minta ditemani makan roti bakar Edi yang tersohor itu..

Oh ya, sebelum aku masuk ke warung tempat Tiwin makan siang, aku sempat melirik ada jualan dompet-dompet murah dua puluh lima ribuan, jadi aku bilang ma Tiwin untuk mampir sejenak di tempat dompet murah itu.. Niat nya sih pengen beli lagi dompet yang kayak punyaku dulu, yang udah hilang waktu bulan Maret.. Tapi setelah lihat-lihat nggak ada yang menarik, kami pun memutuskan melanjutkan jalan.. Wah, suasana pertokoan didekat terminal Blok M saat itu ruameee sangat! Well, sepertinya orang-orang disana juga berpikiran sama sepertiku, sudah dapat THR, mendekati lebaran, saatnya belanja deh.. ^^ Sementara aku sendiri kan niat nya belanja untuk keperluan liburan ke Bali saat cuti lebaran.. J

Dan baru jalan beberapa langkah, mataku segera menangkap obyek yang menarik: outlet arloji murah! Entah kenapa ini indera penglihatan cepet bener kerja nya kalo dompet sedang menggendut, hehehe... Apa yang sangat menarik dari outlet itu? Pertama, karena pergelangan kiri ku dah lama polosan karena arloji ku rusak.. Kedua, harga yang terpampang amat sangat menggoda iman: 20-30 ribuan rupiah saja ! Well, arloji merk swatch, chanel, CK, LV, D&G, Rado, you name it lah! Dijual dengan harga yang sudah aku sebutin tadi, dengan bentuk yang so cute pula! Hehe, tapi tolong jangan tanyakan sama saya tentang keaslian merk-merk tersebut ya, apalagi sampai menanyakan garansinya.. ini sih udah barang KW turunan jebot kali yeee.. Dan outlet yang hanya berbentuk etalase ditengah jalan dengan dua orang cewek penjaganya berdiri di tengah-tengah ini, rame banget peminatnya, aku sampe perlu usaha ekstra untuk mengitari etalase nya dan mencari jam yang menarik hati.. Setelah berputar-putar, mencoba-coba, saling berdiskusi dengan Tiwin yang juga tertarik, akhirnya aku membeli arloji merk D&G (it should be Dolce&Gabana, tp kalo harga nya Cuma 20 ribu gitu sih, bisa aja artinya Dini&Gaban, hehe) warna coklat, dan Tiwin milih arloji merk CK (Cici Koko? Hahhaa) dengan harga sama..

Oke, perjalanan dilanjutkan.. dan tercatat selama jalan ditempat yang crowded tersebut, aku beberapa kali menghentikan langkahku setiap ada yang menarik, begitu juga dengan Tiwin..

Eeehhh, tau-tau melewati stand penjual kaca mata hitam, aku berhenti dan memilih-milih dari beberapa Sun Glasses.. Ada satu yang menarik dan cocok, aku tanya harga nya..

Aku: berapa mbak ?

Si mbak: empat puluh lima ribu..

Aku: Ah, dua puluh ribu lah.. (sambil berkaca melihat betapa cute nya aku pake kaca mata itu)

Si mbak: dua puluh lima, ya..

Aku: dua puluh ribu aja yaa..

Si mbak: (menganggukkan kepala, dan segera mengambil kain pembungkus kacamata)

Aku: (yess, tumben aku bisa nawar keren gini, haha pede gila!)



Sip, lanjut jalan.. karena kami sudah cukup mengitari pertokoan dikawasan dekat terminal, Tiwin ngajak nyebrang ke Blok M Square melewati kawasan parkir mobil..

Disana, Tiwin berhenti di stand baju batik, karena dia juga berniat beli baju batik.. Kami memilih-milih beberapa motif, dan proses bargaining kembali terjadi.. Merk batiknya Kencana Ungu, termasuk merk batik yang bagus sih.. Kami tertarik pada motif baju yang sama, tapi beda warna.. Aku juga ikutan beli, karena aku ingat baju batik ku Cuma satu yang selama ini aku pakai ke kantor.. Singkat cerita aku membeli satu baju batik seharga empat puluh ribu rupiah, harga penawaran awal lima puluh ribu.. Tiwin membungkus baju batik plus terusan batik.. Selama ngobrol melakukan tawar menawar, si Ibu penjual Batik yang rupanya orang Batak (ketahuan dari logat nya dan sempat ada bapak-bapak menyapanya dengan sebutan 'Ito') sempat menyisipkan satu pesan: masak orang Indonesia gak cinta budaya Indonesia.. Well, good statement, inang, tapi tenang saja, saya cinta budaya Indonesia kok, terutama nasi dan pria-pria nya, hehee..

Oh ya sebelum ke tempat Batik tadi, langkah ku terhenti di stand kaos-kaos unik. Apa yang menjadikan unik, tentu saja sablon nya.. Ada Kaos dg sablon motif kartun, dan motif dari beberapa daerah baik di luar maupun dalam negeri. Aku sempat melihat ada kaos bertuliskan Thailand dengan gambar gajah gede, dan juga kaos bertuliskan Lombok.. Aku dan Tiwin sempat berkelakar, wah kalau jalan-jalan ke luar tapi ga sempat beli oleh-oleh, beli disini aja ya, hehe.. Aku sendiri akhirnya membeli satu kaos dengan gambar Tugu Monas ukuran L untuk oleh-oleh papa di Gresik, seharga dua puluh ribu rupiah.. Pengennya sih beli dua seharga tiga puluh ribu, tapi rupanya harga nya pas dan si bapak penjual bener-bener ga bergeming dengan tawaranku.. L

Yakh jalan lagii.. Kali ini masuk ke toko buku Gramedia, setelah sebelumnya Tiwin mampir ke apotek langganannya.. Di Gramedia, aku segera mencari buku incaranku: Rp 500 ribu keliling Singapura by Claudia Kaunang. Lumayan juga kalo beli buku di Gramedia dengan membawa teman yang kerja nya di Kompas Gramedia, karena dengan menunjukkan ID Card karyawan, akan dapat diskon 10%, hehe.. Apalagi kalo bukunya terbitan Gramedia sendiri, wah bisa lebih gede tuh diskonnya..

Di sebelah Gramedia Melawai ada Robinson Dept. Store yang rame dengan sale.. Aku ajak Tiwin masuk sana, karena aku masih penasaran dengan celana pendek yang belum terbeli.. Aduk-aduk, coba-coba, ketemu juga celana pendek selutut yang pas dengan harga Rp 49.900.. pheeww, i think i had enough with my stuff, hehe.. Yah, ada yang belum kebeli sih, sun block, tapi sudah lah, aku akhiri saja belanja-belanja besarnya... Kami kembali mengitari Blok M Square.. Tiwin mampir di toko baju yang menyediakan baju kantor.. Dan saat menunggu Tiwin fitting baju itu lah, aku mengubek-ubek tas belanjaanku dan mendapati kalo kaos Monas ku raib! Walah ! Kecurigaanku sih, kaos itu tertinggal di stand baju batik.. Kami langsung cepat-cepat kembali ke tempat tersebut.. Phew, untung ketemu!

Berputar-putar lagi, cuci mata lagi, sempet mampir ke toko arloji yang tadi lagi untuk nge cek jarum penunjuk jam dan menit milikku yang nggak berfungsi.. Dan akhirnya aku mengakhiri sesi belanja dengan membeli gelang tali yang manis sebanyak 2 buah, seharga empat ribu rupiah (penawaran awal lima ribu), aku beli motif yang sama persis.. Kenapa dua? Karena saat aku tertarik dengan gelang-gelang yang unik ini, aku teringat dengan Nining, temen kantor dan temen saling curhat yang pernah ajakin beli gelang kembaran sebagai tanda persahabatan.. Jiahahhaa, saat itu aku mentertawakan ide nya dan mengatakan kalo dia Abege banget! Tapi saat liat gelang itu, aku berpikir, hehe, apa salah nya sih seru-seruan gitu? Nggak mahal ini, hehe..

Dan Tiwin akhirnya menutup sesi belanja nya dengan membeli botol gas di carefour.. Kami pun bergegas menuju food court di lantai 5 Blok M Square, maksud hati sih pengen sekalian makan malam, tapi kami datang pas saat jam buka puasa, jadi ruameeee banget! Bahkan ada yang sampe rela duduk-duduk dan makan dilantai.. Huff..

Hampir putus asa, tapi akhirnya dapet juga 2 seat untuk kami di tempat makan baru, ayam goreng ayam goreng an gitu deeh.. duh lupa namanya, broasted chicken kalo ga salah! Packaging nya tuh kaya AW gitu loh, dia jual burger, sundae ice cream, waffle sundae, rootbeer, keliatan dari tampilan menu yang terpampang di dinding, kiblat nya tuh ke AW, hehe..

Aku pesen paket small beef burger, RP 16,500 dapet beef burger ukuran kecil, french fries, dan minuman aku milih rootbeer (bisa milih cola, orange juice, rootbeer, lemon tea, atau soda strawberry).. Sementara Tiwin beli paket ayam goreng, dapet bonus nata de coco..

Hmm, puas juga sih belanja-belanja murah.. Niat hati mengakhiri di roti bakar Edi jadi ga kesampean karena harus ke kawasan Al Azhar dulu dan dah lumayan capek..



J

Nice juga kali ini jalan-jalanku di J Town, such an another interesting yet tempting day in Jakarta ! Tempting nya tentu saja untuk urusan dompet yaa, karena ini salah satu dampak negatif belanja di kawasan belanja murah (seperti ITC juga), karena liat barang yang menarik dengan harga miring, langsung deh comot.. Hehe, karuan aja jalan-jalan di mall mewah seperti Grand Indo, Senayan City, dah jelas ga ada yg kebeli saking mahal nya, palingan ya cuci mata doang dan makan, huehehee..



Hhhmmm, aku pulang juga ke 'rumah kecil' ku di priok, melihat belanjaan dengan hati senang, namun tentu saja memantapkan tekad dalam hati kalo habis ini harus bener-bener irit, karena bakal jalan-jalan ke Bali, huehehehee.. ^^






Pertokoan di dekat terminal Blok M (from google)






Blok M Square dilihat dari depan (from google)






Sempet liat band ini nyanyi di Blok M Square (image from google)






  Barang-barang hasil berburu di kawasan Blok M





 

Monday, August 25, 2008

Makan siang di bawah gedung standchart