Saturday, July 12, 2014

Omelet Mi

Resep sederhana di kala lapar melanda dan hanya tersedia bahan makanan ala kadarnya di kulkas. ^ ^

Siapkan: 



pic from here
1 bungkus Indomie goreng

pic from here

1 butir telur ayam


pic from here

1 batang daun bawang.


Air secukupnya.
Mentega atau minyak goreng secukupnya.

Cara membuat:
  • Rebus air secukupnya untuk memasak mi instan. Saat air sudah mendidih, masukkan mi instan (tanpa bumbunya) dan tunggu sampai mi matang. Aduk sesekali untuk mengetahui tingkat kematangan mi.
  • Sembari menunggu mi matang, potong tipis-tipis daun bawang. Ketipisan sesuai selera, tetapi sebaiknya tidak terlalu tebal.
  • Angkat dan tiriskan mi yang sudah matang, masukkan ke wadah. Lalu campurkan daun bawang, bumbu mi instan, dan juga telur ayam.
  • Aduk mi instan dan bahan-bahan hingga semua tercampur merata. 
  • Siapkan penggorengan. Panaskan mentega atau minyak goreng, lalu tuangkan adonan mi instan tadi. Tekan-tekan mi bagian atas saat menggoreng, untuk mempercepat kematangan adonan bagian bawah.
  • Setelah dirasa adonan bawah sudah matang (balik sedikit dengan sudip untuk memeriksanya), balikkan adonan untuk mematangkan adonan bagian atas.
  • Tadaa, omelet mi sudah selesai dan beginilah hasilnya:

Biasanya saya membuatnya tanpa daun bawang, tetapi ketika tadi ada bahan tersebut di dalam kulkas, saya coba iseng menambahkannya dan terbukti rasanya semakin sedap! Cobain, deh, murah meriah cocok untuk anak kos. Hehehe. :D








Monday, January 13, 2014

Okonomiyaki Pengantar Rindu [Max & Laura’s Melbourne–fanfiction]

Sumber dari sini


“Okonomiyaki, isi crab.”

“Hah, apa?”

Cee alias Cecily mendelik mendengar menu pesananku, dan seketika gerakan tangannya menulis di kertas terhenti di udara. Aku tersenyum, lalu mengeja lagi, “O-ko-no-mi-ya-ki.”

“Makanan apa, sih, itu?” tanyanya.

“Ya makanan Jepang, lha!”

Cee memutar bola matanya sebagai reaksi atas jawabanku, tampak tidak terima.

“Ya iyalah, kita kan lagi di restoran Jepang, dear, gimana sih. Hm, whatever lah. Gue pesan sushi aja, deh, sekalian buat Evan.”

Senyum Cee terkembang saat mengucapkan nama kekasihnya, yang 15 menit lalu mengabarkan sedang menuju tempat ini dari klinik hewannya. Aku mengangkat bahu, tanda tak terlalu peduli. Sabtu malam ini, lagi-lagi aku harus jadi pihak ketiga di acara kencan Cee dan Evan. Tadinya, aku menolak dan memilih berdiam di apartemen; membaca buku, nonton film, dengerin musik, atau apa sajalah. Namun Cee mana rela, sih, melihat aku menghabiskan malam minggu garing seperti itu? Dia langsung menceramahiku panjang lebar tentang waktu berkualitas di luar rumah, dan biar aku bisa lebih mingle dengan cowok-cowok di luar sana. Tadinya saja Evan juga mengajak sahabat prianya, yang katanya hendak dijodohkan denganku, tetapi untungnya sahabatnya itu mendadak membatalkan datang karena keperluan lain. Dan, ketika Cee bilang mereka memutuskan bertemu di restoran Jepang, spontan saja aku memesan makanan itu, yang mengenangkanku pada peristiwa lima tahun lalu; pertama kali aku berkenalan dengan makanan ini....
_______

July 2008: The University of Melbourne International Student Food Festival

“Makanan apa itu?” Aku melirik penuh rasa ingin tahu pada gambar-gambar yang terpasang di stan milik para mahasiswa Jepang. Setelah berkeliling area festival sekitar satu jam untuk mencicipi berbagai jenis makanan dari berbagai negara, dan tentunya puas dengan kuliner negeri sendiri seperti lumpia, martabak, dan rawon; tiba-tiba saja Max antusias saat melihat stan yang mewakili negeri Sakura dan berhenti untuk memesan satu jenis menu.

“Ini salah satu makanan Jepang yang enak, aku suka banget makan ini pas SMP jalan-jalan ke Tokyo sama keluarga,” jelasnya. Aku manggut-manggut.

Pesanan Max sudah selesai dibuat, dia minta izin mengambil sumpit sepasang lagi ketika petugas menyerahkan pesanannya. Kami melangkah lagi menuju deretan bangku untuk menikmati makanan ini.

“Nih, cobain, namanya okonomiyaki.” Max menyerahkan sepasang sumpit padaku, lalu melepaskan sumpit sepasang lainnya untuk dirinya sendiri. Aku mulai mencicipi makanan itu, lidahku merasa asing dengan sergapan paduan bumbu yang terkecap aneh. Dahiku mengernyit.

“Kenapa? Nggak suka?” Max tertawa lepas memperhatikan reaksiku yang tampak lucu, tangan kirinya terulur mengacak ringan rambutku.

“Rasanya aneh,” cengirku. Aku terus mengunyah adonan tepung dan telur yang berisi sayur kubis dan bawang bombai, juga daging kepiting. Berusaha beradaptasi dengan cita rasa yang terkandung di dalamnya.

“Eh, tadi bukannya kamu pesan yang ada kejunya, ya?” tanyaku polos. Aku suka keju, setidaknya itu akan sedikit membuatku merasa nyaman menikmati penganan Jepang ini. Namun rasanya sedari tadi aku belum mengecap bahan pelengkap itu, deh. Max tampak mengamati sejenak isi potongan kecil okonomiyaki di hadapannya, lalu mengangkat dengan sumpit dan menyorongkannya padaku.

“Nih, ada kejunya!” Bagai anak kecil yang langsung percaya saat diberitahu ada daging di balik sayuran yang dibencinya, aku menurut saja dan membuka mulut. Max menyuapkannya untukku. Aku mengunyah potongan kecil okonomiyaki itu tanpa banyak protes.

“Sudah, ah!” Aku menyerah dan meletakkan sumpit. Makanan itu masih terasa aneh di lidahku. Max tampak memberengut sebentar sambil mengunyah okonomiyaki-nya. Lalu saat okonomiyaki tersebut tersisa satu potong kecil, Max mengangkat dan kembali menyorongkannya padaku.

“Terakhir nih... haaak!” Max bersikap lembut bagai sedang menyuapi anak kecil yang manja, dan aku, lagi-lagi spontan mangap. Kali ini, okonomiyaki itu terasa sedikit lebih enak, entah kenapa. Max memperhatikan raut wajahku yang mengunyah dengan lebih khidmat, dan sebersit senyum dia tampilkan dengan sangaat... manis. Aku meleleh.
_______

“Kok nggak habis sih, Ra? Bukannya tadi lo semangat pesennya?” goda Cee saat melihatku menyisakan sebagian okonomiyaki dan berhenti menyentuhnya.

“Rasanya aneh, hehe,” cengirku. Lidahku nggak berubah, tetap menolak makanan Jepang itu. Cee tergelak, sambil mengingatkan padahal tadi aku sendiri yang bersemangat memesan menu itu.

“Eh, jalan yuk, jadwal filmnya kan bentar lagi!” Tiba-tiba Evan menyela candaan kami, mengingatkan acara selanjutnya menuju bioskop di dekat situ. Sepuluh menit kemudian, kami bertiga sudah berjalan menyisiri trotoar di bawah langit malam Melbourne. Cee di sisiku tampak bahagia dengan mengaitkan tangannya pada lengan Evan. Sedikit saja rasa cemburu tebersit di hatiku, cepat-cepat kualihkan pandanganku ke arah lain. Prudence. Kerlip lampu bar itu tiba-tiba terasa menarik mataku.

“Cee, aku nggak ikutan nonton ya,” ucapku, membuat Cee dan Evan sontak menghentikan langkah kaki mereka dan menatapku heran.

“Heh? Lo mau pulang? Ngapain, masih jam segini....” Sudah kuduga Cee akan protes.

“Nggak, tiba-tiba aku pengin minum kopi di Prudence; pakai marshmallows dan ekstra-cinnamon, kayaknya enak deh as dessert. Sudahlah, kalian berdua saja yang nonton bioskop, masa aku mengekor terus, sih?” Aku menggoda Cee dengan meninju pelan lengan kirinya, dan seketika dia mendelikkan matanya, sekaligus tertawa. 

"Ya udah, ati-ati ya, Ra, baliknya!"

Akhirnya mereka berdua sepakat melepasku, dan aku berbalik arah menuju Prudence. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku terseret ke sini. Sejak mengecap okonomiyaki tadi, serbuan kenangan terus menyerang benakku; membuatku bahkan tak bisa fokus dengan obrolan Cee dan Evan. Kenangan yang selalu bertumpu pada pria itu, yang meninggalkanku sejak lima tahun lalu demi angan-angannya. Apa salah kalau aku bilang aku tak bisa menghabiskan okonomiyaki-ku bukan karena tak cocok dengan lidah, tetapi lebih-lebih karena aku tak mau terus-terusan merindukannya? Rasa rindu itu seperti belenggu yang hanya bisa dilepaskan dengan cara bertemu, sesuatu yang tak dapat aku upayakan saat ini. Seharusnya, aku mengenyahkan segala hal yang dapat menghadirkannya di kepalaku. Namun, kali ini ternyata aku belum juga puas menyiksa diri; aku malah memasuki tempat yang menjadi kenangan utamaku dengannya. Terserah saja, semakin kuat aku menolak, toh perasaan itu semakin mendera.

Seorang pria ramah menyambut ketika aku membuka pintu bar, dan aku melangkah pasti menuju sudut favoritku, sambil berharap tak ada pengunjung mengisi tempat itu. Pojok favorit yang dekat dengan jendela, tempat aku dan dia biasa mengobrolkan apa saja berjam-jam, tempat ternyaman yang penuh kenangan. Perasaan hangat tiba-tiba menyergap saat mendekati sudut itu, membuatku bergidik seketika.

Hatiku mencelus ketika tahu harapanku tak terkabul, karena aku melihat seorang pria dengan koper beroda di kaki meja duduk di sana. Mengisi tempat yang kuinginkan. Pria itu duduk membelakangiku, tertunduk menggenggam cangkir yang sekali lirik aku tahu berisi kopi hitam murni. Dan sebelum aku memutuskan untuk beranjak mencari tempat lain, tahu-tahu pria itu menoleh dan menatapku, memasang senyum yang, sungguh, terasa hangat bagiku.

“Laura!”

Dia berseru, aku terbelalak. Pandanganku teralih pada koper berodanya yang diberi tanda bagasi oleh sebuah maskapai penerbangan. Sebuah nama kota besar terbaca dari situ. New York. Akhirnya, aku tahu apa arti perasaan hangat yang tiba-tiba menyelimutiku tadi. Aku seketika tahu bahwa segala rindu ini ternyata tak sia-sia. Senyum tulus tersungging, dan bibirku mendesiskan namanya,

“Max....”
****

Diikutkan dalam kontes Winnadict Fanfiction Battle, yang diadakan oleh @Winnaddict, info lengkap klik: http://winnaddict.tumblr.com/

Friday, August 2, 2013

Curhat (semoga bukan) sombong... :)

Halo, Agustus! Jumpa lagi dengan bulan baru, dan aku masih menanti ada kejutan-kejutan baru apalagi di bulan kedelapan ini. Oh, tapi aku akan masih melanjutkan kabar baik lanjutan dari postingan kebahagiaanku sampai tengah tahun 2013 ini. What’s new from July?? Yep, goodnews! Rupanya keberuntunganku masih terus berlanjut, haha, aku sendiri sampai curiga aku ini punya jimat apa, siih.. kok kebagian lucky melulu... hohoho, aku sudah mulai narsis inii...

Ya sudah, ini deh kabar-kabar baiknya...

Tanggal 15 Juli 2013 adalah hari bersejarah di mana untuk pertama kalinya aku memenangkan sebuah .... arisan. Lol. Jadi kan aku join dengan komunitas Blogger Buku Indonesia dari sejak beberapa bulan lalu. Dan komunitas ini juga punya grup di Whatsapp tempat ngobrol sehari-hari. Ada satu WA besar yang mewadahi seluruh member BBI dari semua wilayah Nusantara, ada juga beberapa WA berdasarkan daerah tempat tinggal. Dann... aku ikut juga di WA BBI wilayah Jabodetabek yang saat bulan Juni sepakat untuk mengadakan arisan. EH... nggak dinyana, saat arisan dikocok pertama kali tanggal 15 Juli 2013, namaku keluar dari 3 pemenang tiap bulannya! Horeee.... Puji Tuhan, lumayan jumlahnya Rp 300.000, dan karena ini grup blogger buku maka kita sepakat hasilnya dibelanjakan untuk buku juga, hihi. Beberapa waktu lalu aku udah membelanjakan sebagian, yaitu untuk 3 novel: Me Before You, The Chronicle of Audy 4R, sama The Kite Runner, totalnya Rp 180.000-an, masih ada sekitar Rp 120.000 untuk kubelanjain buku lagi. Asyiiiiik ^^. 

Kabar baik selanjutnya... bicara tentang hal yang sedang berusaha kulatih saat ini, yaitu editing, aku dapat orderan ngedit naskah lagi nih.... Bedanya kali ini bukan dari penerbit, tapi dari teman yang mau nerbitin buku secara indie. Wah, aku tentu senang sekali saat dia minta tolong naskahnya dibacakan dan diedit... nanti namaku juga akan muncul di bukunya sebagai editor. Meski indie, tapi kami sepakat kalau naskah ini akan tetap diproses seperti buku selayaknya yang diterbitkan oleh penerbit major. Temenku ini juga mau menetapkan skedul-skedul pengeditan naskah biar nggak dibiarkan longgar gitu aja. Oh ya, untuk sementara aku nggak bisa menyebutkan siapa dia nama temanku ini, yang jelas dia adalah teman baru yang kukenal lewat twitter karena dia adalah salah satu kontributor di buku Traveling Note Competition. Yippie! :D

Next! Masih berhubungan dengan passionku, kali ini dalam hal membaca dan meresensi buku. Puji Tuhan, beberapa hari lalu aku mendapat E-mail dari seorang Editor in Chief majalah traveling yang cukup besar berisi penawaran untuk menjadi reviewer buku traveling di majalah itu! Yeay... dalam hal ini, aku berterima kasih sama mas Ariy, teman dan juga penulis buku traveling yang merekomendasikan namaku kepada temannya ini yang saat itu sedang mencari seorang reviewer. Ya, karena aku pernah meresensi salah satu buku mas Ariy yaitu Nomadic Heart di blogku, lalu mas Ariy mengingat aku saat tahu temannya sedang mencari peresensi buku. Dan kemarin sudah didetailkan lagi rincian penawaran dari majalah itu dan... wow! Aku boleh merekomendasikan buku untuk diresensi, namaku dicantumkan di majalah sebagai kontributor, dan... honornya juga gede! Puji Tuhan, tambah lagi deh kerjaan baru berkaitan dengan passionku! Yippieee... God is good! ^^

Masih boleh nyombong nggak nih? Hahaha... maaf, maksudnya berbagi kebahagiaan. ^^. Hari Selasa lalu, tanggal 31 Juli 2013, namaku diumumkan sebagai salah satu pemenang sayembara resensi buku di Yes 24 Indonesia! Ihiiyyy.. aku menang karena menyertakan resensi novel Bangkok (Moemoe Rizal, Gagas Media), dan hadiah yang kupilih adalah I've Got Your Number-nya Sophie Kinsella. Mantab, lah, memang disuruh banyak-banyak baca biar makin terasah cara penulisannya. Hoho...

Memasuki bulan Agustus, harus semangat baru dong.... Dan kemarin juga aku terima E-mail yang cukup bikin tercengang dan deg-degan.... Ya gimana nggak bahagia sekaligus deg-degan, kalau judul E-mailnya: Undangan Writers' Gathering! Wohh! Really, this is new for me, sebutan 'penulis', hihihi. Nggak pede aja gitu ketemu dengan penulis-penulis lainnya yang udah berpengalaman. Setelah aku tanyakan ke teman yang bekerja di penerbit itu, katanya emang ini acara tahunan penerbit itu yang berisi silahturahmi dengan penulis, juga memaparkan rencana-rencana dari redaksi, dan bisa sekalian tanya-tanya juga soal proses penerbitan buku. Ahey! Benar-benar nggak sabar deh bisa menghadiri acaranya.... :D

Sampai di sini dulu berbagi kabar gembiranya.... Semoga yang baca ikut ketularan bahagia, dan ikut jadi semangat juga. Tadi di awal aku sempat heran, aku ini ada jimat apa sih kok beruntung terus secaa beruntun? Hehe, padahal kalau dipikir-pikir apa yang aku terima itu juga hasil dari apa yang aku lakukan sebelum-sebelumnya, kok. Bukannya mau sombong, misalnya dalam hal mengedit, aku memang sedang melatih diri dan ini nggak terjadi dalam satu hari. Latihanku memang otodidak lewat novel-novel yang aku baca dan juga tanya ke temen yang udah jadi editor duluan. 

Lalu soal tawaran meresensi di majalah, itu juga karena sudah setahun lebih aku mulai meresensi buku dan aku melakukannya dengan senang hati. Lalu aku sadar satu hal, the power of networking. Seperti yang aku bilang tadi, dua kerjaan tambahan itu aku dapat karena bantuan teman, yang tahu tentang kemampuanku. Nepotisme? Nggak juga, dong, kan mereka tahu kalau aku bisa dan berminat di bidang itu. Well, do good and be good, I guess. Doing good things as your passion and talent, and also be a good friend for others, karena sumber rezeki kita datangnya bisa dari berbagai cara termasuk dari teman. Semangaatt!! :D

Wednesday, June 26, 2013

Apakah ??? :(

Apakah seseorang yang memiliki image buruk harus selalu dicap buruk? Dan ketika melakukan kesalahan langsung diberi peringatan keras yang terasa kasar dan sangat buruk? Saya kaget dengan kata ‘mencekik’.. saya menerima teguran atas kesalahan saya, tapi? Apakah saya seburuk itu seperti yang dituduhkan? Kenapa tidak ditanyakan dulu alasan saya melakukan itu? Ya, kalau mau ditanyakan dulu sih saya hanya bisa menjawab, saya melakukan itu secara spontan, tanpa memikirkan yang macam-macam, dan bukankah manusia butuh diperingatkan oleh manusia lainnya? Tapi, dari judul suratnya saja sudah dibilang tidak perlu balasan. Meski akhirnya saya balas juga, tetap saya merasa saya ini terdakwa yang berada di kursi pesakitan yang sayangnya tidak diberi hak untuk mengatakan sesuatu tentang kesalahan saya.

Kesalahan yang seperti apa, sih? Tidak akan saya jelaskan. Saya menulis ini karena perasaan saya terlalu sesak, sakit. Seolah-olah selama ini saya tidak pernah melakukan yang baik-baik pada pihak yang merasa saya rugikan ini. tepatlah peribahasa, karena nila setitik maka rusak susu sebelanga. Karena satu kesalahan (saya tidak bisa mengatakan itu sepele), langsung dibilang saya bagaikan tangan mencekik leher sendiri, dan saya disodori sebuah pertanyaan retorik: jika ada bagian tubuh yang merugikan seluruh tubuh, maka apa yang akan dilakukan oleh bagian tubuh lain yang dirugikan? Saya hanya bisa menjawab pertanyaan itu dalam hati: dipotong atau dilenyapkan, tentunya. Itulah mengapa saya menganggapnya sebagai ancaman.

Terima kasih untuk kamu yang telah membaca keberatan saya atas kata-kata kamu dan juga bersedia meminta maaf. Sebenarnya itu sudah cukup, saya juga tidak ingin memperpanjang. Saya menulis di blog ini hanya untuk… melepaskan perasaan sakit saya sendiri, karena kan saya tidak mungkin menceritakan ini pada orang lain. Ya, saya tentu simpan dengan diri saya sendiri detail masalah saya ini, karena tidak mau lebih merusak image mereka.

Rupanya benar, hidup ini seimbang. Setelah empat hari lalu saya menceritakan letupan-letupan bahagia saya, maka kemarin dan hari ini cukup satu alasan untuk saya menangis: karena saya sudah ditegur dengan keras oleh perwakilan dari pihak yang selama ini saya kagumi dan sukai. Saya…, tak tahu. Saya memang bukan orang yang menyenangkan. Saya banyak melakukan kesalahan, dan kesalahan-kesalahan saya diketahui secara pribadi oleh mereka. Saya hanya takut berbuat salah lagi, karena ternyata image saya begitu buruk sehingga mereka harus menegur dengan kata-kata seperti itu, menganggap saya telah mencekik leher mereka. Saya tak tahu, saya hanya tahu, saya kecewa, dan sedih. :(

Saturday, June 22, 2013

HAPPYYYYYY!!!!!


Hari ini, tanggal 22 Juni 2013. Dua hari lalu kepalaku rasanya mau meledak, serasa ada mercon yang siap meletus. Saking riuhnya kegembiraan yang kuterima, tapi aku bahkan tak bisa mengekspresikannya dengan bebas karena sedang ada di ruang kerja yang hening. Pffftt.. Hahaha! Jadi, sebab apa sih yang bikin aku segembira itu?? Well, sebelumnya aku akan mengurai serentetan kegembiraanku hingga menuju penghujung tengah tahun 2013 ini.

Bulan Januari…
Tanggal 15 aku menerima E-mail yang mengabarkan bahwa catatan perjalananku saat ke wilayah Ujung Genteng di bulan Juli 2012 terpilih sebagai salah satu dari 30 besar dari Traveling Note Competition yang diselenggarakan oleh Penerbit Diva Press!! Sebagai hadiahnya, maka 30 catatan perjalanan ini akan dikompilasikan dalam 1 buku, yay!!
Aku masih ingat ketika sahabatku menginfokan tentang lomba ini via E-mail pada tanggal 01 November 2012, yang membuatku terpacu untuk mengikutinya. Meski, aku juga sempat tidak percaya diri, tapi akhirnya berkat motivasinya dan juga teman-teman lain, aku akhirnya menyelesaikan dan mengirimkan 2 naskah. Puji Tuhan salah satunya akhirnya menang. ^^

Ah iya, mengenai traveling sendiri, di bulan ini aku berkesempatan mengunjungi Sumatera Barat dan menikmati segala pesonanya bersama beberapa kawan. Such a complete leisure there: nature, culinary, and culture.

Bulan Februari…
Tanggal 05, tepat sehari setelah aku kembali dari liburanku di Bali, lagi-lagi aku menerima E-mail yang membuatku melonjak senang: naskah nonfiksi catatan perjalananku diterima oleh salah satu penerbit buku mayor! Yaaayy…. ^.^ Aku ingat aku mulai menyusun naskah ini sekitar bulan November 2012 juga, lalu naskah selesai dan kukirim di bulan Januari 2013. Eh, belum sampai sebulan sudah dapat kabar menggembirakan. Meski sudah diwanti-wanti bahwa prosesnya akan lama, memakan waktu sekitar satu sampai setengah tahun, but yess, I guess it worth for a wait. I will enjoy the process, I promise! ^.^

Bulan Maret…
Hm, sepertinya, bulan ini berlalu biasa-biasa saja. Tapi tak ada yang biasa jika kita mau bersyukur, bukan? Hehe, di bulan ini aku berkesempatan mengikuti kelas travel writing yang diadakan oleh Valadoo dan pematerinya adalah Windy Ariestany. It’s a good time to know more about my passionate. J
Lalu di bulan ini aku juga mulai menyusun naskah untuk diikutkan pada event Grasindo: Publisher Search for Authors. Yaa, siapa tahu kan keberuntungan kembali berpihak kepadaku?? Hihii…

Bulan April…
Awal bulan aku ikut paket tur ke Krakatau dan juga pulau-pulau sekitarnya. It’s a fun weekend though, I had a chance to enjoy new destination with new friends.
Akhir bulan, pengumuman PSA-nya Grasindo pun keluar. Daann… karyaku nggak menang, hehe. :D Oke, not my luck, dan pasti banyak karya lain yang lebih baik. Ah iya, pertengahan bulan aku mendapat kesempatan untuk menjadi freelancer proofreader di Penerbit Haru. Senangnya, karena aku dapat pekerjaan tambahan di bidang yang aku sukai. Sampai sekarang aku sudah melakukan proofreading untuk 6 naskah fiksi. Ah, senangnyaa~ :)

Bulan Mei…
Awal bulan aku ikut paket tur yang berisi perjalanan ke Pantai Balekambang (Malang Selatan), Batu, dan juga Bromo (Probolinggo). Aku memang orang Surabaya, tapi belum pernah ke Bromo, haha. Senang tentunya lagi-lagi dapat pergi ke destinasi baru, bisa menambah satu cerita perjalanan lagi, hoho. Lalu di bulan ini juga aku dapat pekerjaan paruh waktu tambahan lagi yaitu editor di salah satu penerbit besar! Wew. Tapi karena naskahnya belum ada yang diterbitkan dan sifatnya aku masih jadi editor percobaan, maka aku belum bisa menyebutkan nama penerbit bukunya. Awalnya aku sih mengajukan sebagai proofreader, tapi naskahnya belum siap untuk diproofread jadi diminta coba untuk mengedit naskah fiksi dulu, hihi.

Hmm, di akhir bulan Mei, lagi-lagi aku melakukan perjalanan. Kali ini dalam rangka melihat prosesi waisak di Borobudur. Tapi sebelumnya aku sempat jalan-jalan dulu di Yogyakarta meski sebentar. Juga sebelum kembali ke Jakarta sempat bertemu sebentar dengan teman-teman dari grup blogger buku Indonesia. Syenaaang!

Bulan Juni…
Ini niih, bulan yang memberi kabar menggembirakan dengan beruntun!! Well, hm, mulai dari mana yaaa?? Oke pertama, aku mendapat tawaran kerja di perusahaan lain. Profesinya sih sama saja, Internal Auditor yang tidak terlalu aku nikmati, tapi akhirnya aku menerima tawaran ini (setelah beberapa tes tentunya) karena beberapa alasan: suasana baru, waktu kerjanya hanya 5 hari dalam seminggu, dan juga ada asuransi kesehatan dari provider swasta (di kantor sekarang yang kudapat hanya dari Jamsostek).

Laluu… aku mendapat kabar bahwa akhirnya buku kompilasi hasil lomba Traveling Note Competition diterbitkan juga! Yaayy.. bukunya bahkan sudah selesai cetak kemarin, aku dapat bocorannya dari teman BBI yang kerja di DivaPress, hahahaa… nanti beli yaa.. hihihii..
Nah, tanggal 20, aku mendapat kabar kalau naskah fiksiku diterima oleh penerbit buku mayor yang juga sedang menangani naskah nonfiksi perjalananku! Astagaaa!! Rasanya hari itu kepalaku mau meledak saking bahagianya! Di hari yang sama aku mengajukan resign ke manajer dan lancar, lalu sorenya aku dapat kabar ini. Oh, naskah ini sebenarnya adalah naskah yang kalah dari lombanya Grasindo, tapi ternyata diterima oleh penerbit ini! Hihii, dirahasiakan dulu yah namanya, bukunya juga masih lama, kan! Hohohohoo~~

Lalu, ada kabar gembira apa lagi?? Hm,, satu lagi dehh *ngikik* Jadi aku coba sharing dengan Pak Edi, CEO-nya DivaPress. Aku bilang, aku sedang menyusun naskah nonfiksi catatan perjalananku sampai tengah tahun 2013, kan lumayan banyak tuh pergi-perginya. Tapi yang jadi komplet baru satu naskah, dan aku coba minta Pak Edi baca, apakah sesuai dengan segmen di Diva. Dan tahu jawabannya?? Pak Edi bilang penyajian di naskahku sudah baik dan dia tertarik untuk menerbitkan! Ihiiyyy…, tentunya dengan beberapa poin masukan juga, ya, dan ini juga baru satu cerita yang jadi, masih banyak nih PR-ku, tapi aku jadi makin semangaaaattt!!! Well aku pernah bilang kalau traveling bukan hanya sekadar sarana refreshing, karena aku ingin serius mengembangkan diri di bidang ini. Ya, caranya yaitu dengan passionku yang lain: menulis! :)
Oiya saking semangat cerita sampai lupa kan, awal Juni ini aku pergi ke Makassar dan Toraja dengan 3 kawan dan ini juga merupakan pengalaman yang sangat menarik! Doakan aku dapat lancar menulis semua cerita travelingku, ya..

OH, I am so happy and I know I couldn’t feel this way if God didn’t let those things happened to me. So, thank you God, THANK YOU!! :)