Monday, July 21, 2014

[Ngobrol Seru] Part 1: Comfort Zone


Three gossips | Vector by Bazaar Designs | Edited


Thanks to Chei dan Mput yang karena ide gila slash busuk slash seru mereka di grup Line jadi cikal bakal ide penulisan suka-suka ini. Right, aku pengin membahas masalah “comfort zone”, zona nyaman. Bagiku, zona nyaman ini bisa dimaknai macam-macam. Bisa tempat tertentu, suasana tertentu, atau bahkan orang-orang tertentu yang bikin kita merasa nyaman. Istilahnya, pas lagi jenuh dan stuck, aku bakal langsung lari ke comfort zone-ku itu. Dan setelah aku sendiri yang mengajukan ide untuk membahas comfort zone, aku jadi mengingat-ingat... lho kok rasanya aku nggak punya tempat khusus sih sebagai pelarian? Hehe, well not necessary nggak punya siih, tapi aku merasa aku ini manusia random yang suka susah ditebak apa maunya. But I guess, I have some comfort zone(s), kok....


Di dalam bioskop

Yep, aku suka nonton meski nggak rutin. Dulu awal-awal pindah di Jakarta malah aku semacam menjadwalkan sebulan sekali kudu nonton di bioskop. Tapi lama-lama rutinitas itu pun bergeser, hehe. Kenapa aku merasa nyaman di dalam bioskop, aku ingat kok pernah menuliskan alasannya. Di dalam bioskop, aku serasa memasuki dunia lain, menonton kehidupan orang lain dan menanggalkan kehidupanku sendiri dengan segala permasalahannya. #galaumode ^^ Bayangkan ketika lampu studio mulai dimatikan, layar semakin melebar, dan adegan demi adegan film mulai berputar. Seluruh pikiran akan berpusat kepada film yang sedang ditayangkan, dan syukur-syukur kalau film-nya bagus dan sangat bisa dinikmati. Aku tertawa, merenung, menangis, bangga mengingat kejayaan, atau bahkan putus asa... aku bebas mengekspresikannya di dalam studio bioskop. Kehidupan orang lainlah yang kutertawakan atau kutangisi, namun sejatinya diriku sendirilah yang sedang meluapkan keresahan di dalam batinku. Itulah alasan kenapa bioskop adalah salah satu zona nyamanku, karena di sana aku menanggalkan diriku yang biasanya rikuh diperhatikan orang lain, dan bebas menjadi siapa saja seturut peran yang ditawarkan di dalam film. :)

Berada di Antara
Pernah bepergian jauh? Aku sering. Dan hal yang sering kunikmati saat sedang bepergian jauh adalah saat di dalam kendaraan; yaitu kereta api dan pesawat terbang. Aku menyebutnya masa “di antara”. Dua moda transportasi itulah yang sering kugunakan kala bepergian jauh. Kebiasaanku kala berada di dalam pesawat terbang adalah aku gampang banget tertidur. Setelah asyik sendiri memandangi awan yang serasa dekat, membaca-baca buku atau inflight magazine, entah kenapa tak lama kemudian aku akan jatuh tertidur pulas. Dan bisa kukatakan, tidur di dalam pesawat terbang meskipun hanya sebentar—rekor terbang terlamaku paling-paling hanya lima jam—tetap merupakan tidur yang berkualitas. Bangun-bangun rasanya segeeer gitu. Sederhana mungkin ya, tidur. Namun, terkadang tidur berkualitas menjadi hal yang mahal buatku. Aku sering mengalami gejala tindihan atau sleep paralysis (saat mau tidur tiba-tiba tubuh terasa kaku dan terkunci, dan kepala sakit luar biasa) yang sering membuatku takut untuk memejam mata lagi. Atau, aku sering akhirnya tidur dengan kepala berat karena usai menuntaskan pekerjaan. Makanya, kubilang rasanya nyaman sekali ketika di dalam pesawat terbang dengan perasaan aman meskipun terombang-ambing udara, aku ternyata bisa tertidur pulas dan bangun-bangun rasanya segar. :)

Lalu, di kereta api. Ada apa yang menarik di dalamnya? Yah, perjalanan di kereta api umumnya lama, sering kulakukan ketika dari Jakarta hendak pulang ke Surabaya atau sebaliknya, dan minimal 12 jam. Di dalam kereta, yang aku sukai, aku memiliki waktu untuk diriku sendiri... melamun. Melamun bisa dilakukan kapan saja memang, tetapi sensasinya beda ketika di dalam kereta. Karena untuk waktu yang sekian lama tidak ada yang bisa kamu lakukan selain menunggu kereta tiba di tujuan. Lamunan dan pikiranmu yang melayang tidak terdistraksi hal lain. Sering juga aku menyelinginya dengan chatting di telepon pintar atau membaca buku, tetapi waktu di dalam kereta lebih banyak kuhabiskan dengan mempersilakan pikiranku berkelana. Dan aku menikmatinya. It’s like having a me-time, especially with my heart and brain. ^^

Abroad Solo Traveling
Aku suka melakukan perjalanan ke luar negeri dan sendiri. Bagiku, justru keluyuran sendiri itu terasa nyaman. Dan bedanya kalau di luar negeri, seringnya tak ada yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri (dan Tuhan tentunya). Misalnya, saat empat hari aku berada di Filipina, tidak ada teman perjalanan saat berangkat, tidak ada teman yang bisa ditemui di sana. Saat-saat itulah aku benar-benar merasa menjadi penguasa atas hidupku. Aku bebas menentukan mau ngapain, pergi ke mana saja, serta melakukan apa saja. Aku nggak perlu meragukan apakah keputusanku salah di mata orang lain, hal yang sering kali membuatku jengah sendiri karena aku sering nggak percaya diri. Aku nggak perlu takut tiba-tiba ketemu orang yang dikenal dan bertanya “sedang apa?”, “apa kabar sekarang?”, “kerjanya apa?”, karena kemungkinannya sangaat kecil. Yeah, it’s like having me-time without distraction from anyone else. I feel comfort about it. :)

Sebenarnya, jika digali-gali lagi, ternyata banyak juga hal-hal yang menjadi “comfort zone”-ku. Sebut saja, cokelat Silver Queen penuh kenangan yang sering berhasil melunturkan mood jelekku, restoran Steak 21 di Pejaten Village yang harga menunya terjangkau, wifi-nya kenceng, pelayannya bersahabat sehingga aku betah berjam-jam kerja atau nge-blog di sana (haha!), atau... yang akhir-akhir ini kulakukan: chatting di Line bareng Chei dan Mput (uwuwuwuwuw... they must be blushing when reading this :p). Yep, meski aku sering menikmati kesendirian, tetapi tentu bercengkerama bersama teman-teman yang “sealiran” selalu berhasil menghantarkan rasa nyaman. :)
Kalau kamu, punya comfort zone tertentu nggak? ^ ^

Read also:
From Cheihttp://t.co/EZ6xYqpaWM
From Mputhttp://t.co/F3RrE3S2eo

Ps: #NgobrolSeru adalah topik obrolan umum nan ringan bersama antara saya, Zelie alias Chei, juga Putri alias Mput yang akhir-akhir ini lagi sering menggila (mereka yang gila gue sih waras) di Line! Hehe, semoga sih akan ada tema kedua, ketiga, dst... doakan kami yaa! :)))

Sunday, July 20, 2014

Bihun Jagung Meriah! [featuring teri, sosis sapi, dan telor ayam]



Oke, ini juga resep masakan yang menurutku sederhana sih. Dalam rangka malas belanja hari itu dan kebetulan ada beberapa bahan nggak ribet di kulkasku yang bisa diramu. Mariii....

Bahan-bahan:
Bihun jagung
Bawang merah 3 siung
Bawang putih 2 siung
Cabe merah 1 buah
Cabe rawit 5-7 buah (sesuai selera)
Tomat 1 buah
Sosis sapi 1 batang
Ikan teri beberapa (yang ini nggak ngitung berapa sih ya, ambil aja secukupnya, hehe)
Telor ayam 1 butir
Masako sapi 5 gram
Kecap manis secukupnya
Minyak goreng secukupnya
Air matang secukupnya

Cara memasak:
  • Panaskan air untuk merebus bihun. Setelah bihun matang, tiriskan.
  • Cuci bumbu-bumbu yaitu: bawang merah, bawang putih, cabe merah, cabe rawit, tomat. Kemudian bumbu-bumbu tersebut diiris tipis-tipis. Untuk cabe merah besar, aku biasanya membelah dulu dan membuang isinya yaitu biji-bijinya, karena kata Mama nggak baik buat usus buntu. ^^
  • Sosis sapi dipotong kecil-kecil
  • Panaskan minyak goreng di wajan untuk persiapan menumis
  • Yang ditumis pertama kali adalah bawang merah dan bawang putih. Ini sih aturan standar dari Mama pas dulu diajarin masak, kalau masak apa pun selalu duluin numis bawang merah+putih sampai harum dan agak layu (jangan sampai gosong juga sih, hehe).
  • Setelah bawang merah+putih layu, masukkan tomat, cabe merah, cabe rawit, tumis sampai agak layu.
  • Pecahkan telor dan masukkan ke wajan, kacaukan bersama bumbu-bumbu yang ditumis di atas. Tambahkan sosi dan teri, tumis sampai semua tercampur. :)
  • Setelah bumbu dan lauk dilihat cukup tercampur, masukkan bihun yang telah direbus dan ditiriskan tadi. Baurkan dengan bahan-bahan sebelumnya.
  • Masukkan air matang perlahan-lahan, aduk lagi bahan-bahan. Takaran air yang dimasukkan sih aku nggak pernah pakai ukuran khusus, ya dilihat saja apakah cukup untuk mencampurkan bihun dan bumbu-bumbu. Guna air adalah biar masakan nggak gosong.
  • Tambahkan Masako dan kecap manis (atau bumbu penyedap lain sesuai selera, atau kalau nggak mau pakai penyedap, bisa kok diganti garam, sesuai selera aja. Bumbu penyedap juga nggak perlu banyak-banyak).
  • Aduk lagi untuk meratakan semua bahan. Ketika bihun sudah berwarna kecokelatan merata, cicipi sedikit untuk memastikan rasanya. Hasil masakanku sih rasanya gurih gituu.
Gimana, nggak susah kan yaa? Hehehe, selamat mencobaa! ^ ^


Saturday, July 12, 2014

Omelet Mi

Resep sederhana di kala lapar melanda dan hanya tersedia bahan makanan ala kadarnya di kulkas. ^ ^

Siapkan: 



pic from here
1 bungkus Indomie goreng

pic from here

1 butir telur ayam


pic from here

1 batang daun bawang.


Air secukupnya.
Mentega atau minyak goreng secukupnya.

Cara membuat:
  • Rebus air secukupnya untuk memasak mi instan. Saat air sudah mendidih, masukkan mi instan (tanpa bumbunya) dan tunggu sampai mi matang. Aduk sesekali untuk mengetahui tingkat kematangan mi.
  • Sembari menunggu mi matang, potong tipis-tipis daun bawang. Ketipisan sesuai selera, tetapi sebaiknya tidak terlalu tebal.
  • Angkat dan tiriskan mi yang sudah matang, masukkan ke wadah. Lalu campurkan daun bawang, bumbu mi instan, dan juga telur ayam.
  • Aduk mi instan dan bahan-bahan hingga semua tercampur merata. 
  • Siapkan penggorengan. Panaskan mentega atau minyak goreng, lalu tuangkan adonan mi instan tadi. Tekan-tekan mi bagian atas saat menggoreng, untuk mempercepat kematangan adonan bagian bawah.
  • Setelah dirasa adonan bawah sudah matang (balik sedikit dengan sudip untuk memeriksanya), balikkan adonan untuk mematangkan adonan bagian atas.
  • Tadaa, omelet mi sudah selesai dan beginilah hasilnya:

Biasanya saya membuatnya tanpa daun bawang, tetapi ketika tadi ada bahan tersebut di dalam kulkas, saya coba iseng menambahkannya dan terbukti rasanya semakin sedap! Cobain, deh, murah meriah cocok untuk anak kos. Hehehe. :D








Monday, January 13, 2014

Okonomiyaki Pengantar Rindu [Max & Laura’s Melbourne–fanfiction]

Sumber dari sini


Okonomiyaki, isi crab.”

“Hah, apa?”

Cee alias Cecily mendelik mendengar menu pesananku, dan seketika gerakan tangannya menulis di kertas terhenti di udara. Aku tersenyum, lalu mengeja lagi, “O-ko-no-mi-ya-ki.”

“Makanan apa, sih, itu?” tanyanya.

“Ya makanan Jepang, lha!”

Cee memutar bola matanya sebagai reaksi atas jawabanku, tampak tidak terima.

“Ya iyalah, kita kan lagi di restoran Jepang, dear, gimana sih. Hm, whatever lah. Gue pesan sushi aja, deh, sekalian buat Evan.”

Senyum Cee terkembang saat mengucapkan nama kekasihnya, yang 15 menit lalu mengabarkan sedang menuju tempat ini dari klinik hewannya. Aku mengangkat bahu, tanda tak terlalu peduli. Sabtu malam ini, lagi-lagi aku harus jadi pihak ketiga di acara kencan Cee dan Evan. Tadinya, aku menolak dan memilih berdiam di apartemen; membaca buku, nonton film, dengerin musik, atau apa sajalah. Namun Cee mana rela, sih, melihat aku menghabiskan malam minggu garing seperti itu? Dia langsung menceramahiku panjang lebar tentang waktu berkualitas di luar rumah, dan biar aku bisa lebih mingle dengan cowok-cowok di luar sana. Tadinya saja Evan juga mengajak sahabat prianya, yang katanya hendak dijodohkan denganku, tetapi untungnya sahabatnya itu mendadak membatalkan datang karena keperluan lain. Dan, ketika Cee bilang mereka memutuskan bertemu di restoran Jepang, spontan saja aku memesan makanan itu, yang mengenangkanku pada peristiwa lima tahun lalu; pertama kali aku berkenalan dengan makanan ini....
_______

July 2008: The University of Melbourne International Student Food Festival

“Makanan apa itu?” Aku melirik penuh rasa ingin tahu pada gambar-gambar yang terpasang di stan milik para mahasiswa Jepang. Setelah berkeliling area festival sekitar satu jam untuk mencicipi berbagai jenis makanan dari berbagai negara, dan tentunya puas dengan kuliner negeri sendiri seperti lumpia, martabak, dan rawon; tiba-tiba saja Max antusias saat melihat stan yang mewakili negeri Sakura dan berhenti untuk memesan satu jenis menu.

“Ini salah satu makanan Jepang yang enak, aku suka banget makan ini pas SMP jalan-jalan ke Tokyo sama keluarga,” jelasnya. Aku manggut-manggut.

Pesanan Max sudah selesai dibuat, dia minta izin mengambil sumpit sepasang lagi ketika petugas menyerahkan pesanannya. Kami melangkah lagi menuju deretan bangku untuk menikmati makanan ini.

“Nih, cobain, namanya okonomiyaki.” Max menyerahkan sepasang sumpit padaku, lalu melepaskan sumpit sepasang lainnya untuk dirinya sendiri. Aku mulai mencicipi makanan itu, lidahku merasa asing dengan sergapan paduan bumbu yang terkecap aneh. Dahiku mengernyit.

“Kenapa? Nggak suka?” Max tertawa lepas memperhatikan reaksiku yang tampak lucu, tangan kirinya terulur mengacak ringan rambutku.

“Rasanya aneh,” cengirku. Aku terus mengunyah adonan tepung dan telur yang berisi sayur kubis dan bawang bombai, juga daging kepiting. Berusaha beradaptasi dengan cita rasa yang terkandung di dalamnya.

“Eh, tadi bukannya kamu pesan yang ada kejunya, ya?” tanyaku polos. Aku suka keju, setidaknya itu akan sedikit membuatku merasa nyaman menikmati penganan Jepang ini. Namun rasanya sedari tadi aku belum mengecap bahan pelengkap itu, deh. Max tampak mengamati sejenak isi potongan kecil okonomiyaki di hadapannya, lalu mengangkat dengan sumpit dan menyorongkannya padaku.

“Nih, ada kejunya!” Bagai anak kecil yang langsung percaya saat diberitahu ada daging di balik sayuran yang dibencinya, aku menurut saja dan membuka mulut. Max menyuapkannya untukku. Aku mengunyah potongan kecil okonomiyaki itu tanpa banyak protes.

“Sudah, ah!Aku menyerah dan meletakkan sumpit. Makanan itu masih terasa aneh di lidahku. Max tampak memberengut sebentar sambil mengunyah okonomiyaki-nya. Lalu saat okonomiyaki tersebut tersisa satu potong kecil, Max mengangkat dan kembali menyorongkannya padaku.

“Terakhir nih... haaak!” Max bersikap lembut bagai sedang menyuapi anak kecil yang manja, dan aku, lagi-lagi spontan mangap. Kali ini, okonomiyaki itu terasa sedikit lebih enak, entah kenapa. Max memperhatikan raut wajahku yang mengunyah dengan lebih khidmat, dan sebersit senyum dia tampilkan dengan sangaat... manis. Aku meleleh.
_______

“Kok nggak habis sih, Ra? Bukannya tadi lo semangat pesennya?” goda Cee saat melihatku menyisakan sebagian okonomiyaki dan berhenti menyentuhnya.

“Rasanya aneh, hehe,” cengirku. Lidahku nggak berubah, tetap menolak makanan Jepang itu. Cee tergelak, sambil mengingatkan padahal tadi aku sendiri yang bersemangat memesan menu itu.

“Eh, jalan yuk, jadwal filmnya kan bentar lagi!” Tiba-tiba Evan menyela candaan kami, mengingatkan acara selanjutnya menuju bioskop di dekat situ. Sepuluh menit kemudian, kami bertiga sudah berjalan menyisiri trotoar di bawah langit malam Melbourne. Cee di sisiku tampak bahagia dengan mengaitkan tangannya pada lengan Evan. Sedikit saja rasa cemburu tebersit di hatiku, cepat-cepat kualihkan pandanganku ke arah lain. Prudence. Kerlip lampu bar itu tiba-tiba terasa menarik mataku.

“Cee, aku nggak ikutan nonton ya,” ucapku, membuat Cee dan Evan sontak menghentikan langkah kaki mereka dan menatapku heran.

“Heh? Lo mau pulang? Ngapain, masih jam segini....” Sudah kuduga Cee akan protes.

“Nggak, tiba-tiba aku pengin minum kopi di Prudence; pakai marshmallows dan ekstra-cinnamon, kayaknya enak deh as dessert. Sudahlah, kalian berdua saja yang nonton bioskop, masa aku mengekor terus, sih?” Aku menggoda Cee dengan meninju pelan lengan kirinya, dan seketika dia mendelikkan matanya, sekaligus tertawa. 

"Ya udah, ati-ati ya, Ra, baliknya!"

Akhirnya mereka berdua sepakat melepasku, dan aku berbalik arah menuju Prudence. Aku sendiri tak tahu, kenapa aku terseret ke sini. Sejak mengecap okonomiyaki tadi, serbuan kenangan terus menyerang benakku; membuatku bahkan tak bisa fokus dengan obrolan Cee dan Evan. Kenangan yang selalu bertumpu pada pria itu, yang meninggalkanku sejak lima tahun lalu demi angan-angannya. Apa salah kalau aku bilang aku tak bisa menghabiskan okonomiyaki-ku bukan karena tak cocok dengan lidah, tetapi lebih-lebih karena aku tak mau terus-terusan merindukannya? Rasa rindu itu seperti belenggu yang hanya bisa dilepaskan dengan cara bertemu, sesuatu yang tak dapat aku upayakan saat ini. Seharusnya, aku mengenyahkan segala hal yang dapat menghadirkannya di kepalaku. Namun, kali ini ternyata aku belum juga puas menyiksa diri; aku malah memasuki tempat yang menjadi kenangan utamaku dengannya. Terserah saja, semakin kuat aku menolak, toh perasaan itu semakin mendera.

Seorang pria ramah menyambut ketika aku membuka pintu bar, dan aku melangkah pasti menuju sudut favoritku, sambil berharap tak ada pengunjung mengisi tempat itu. Pojok favorit yang dekat dengan jendela, tempat aku dan dia biasa mengobrolkan apa saja berjam-jam, tempat ternyaman yang penuh kenangan. Perasaan hangat tiba-tiba menyergap saat mendekati sudut itu, membuatku bergidik seketika.

Hatiku mencelus ketika tahu harapanku tak terkabul, karena aku melihat seorang pria dengan koper beroda di kaki meja duduk di sana. Mengisi tempat yang kuinginkan. Pria itu duduk membelakangiku, tertunduk menggenggam cangkir yang sekali lirik aku tahu berisi kopi hitam murni. Dan sebelum aku memutuskan untuk beranjak mencari tempat lain, tahu-tahu pria itu menoleh dan menatapku, memasang senyum yang, sungguh, terasa hangat bagiku.

“Laura!”

Dia berseru, aku terbelalak. Pandanganku teralih pada koper berodanya yang diberi tanda bagasi oleh sebuah maskapai penerbangan. Sebuah nama kota besar terbaca dari situ. New York. Akhirnya, aku tahu apa arti perasaan hangat yang tiba-tiba menyelimutiku tadi. Aku seketika tahu bahwa segala rindu ini ternyata tak sia-sia. Senyum tulus tersungging, dan bibirku mendesiskan namanya,

“Max....”
****

Diikutkan dalam kontes Winnadict Fanfiction Battle, yang diadakan oleh @Winnaddict, info lengkap klik: http://winnaddict.tumblr.com/

Friday, August 2, 2013

Curhat (semoga bukan) sombong... :)

Halo, Agustus! Jumpa lagi dengan bulan baru, dan aku masih menanti ada kejutan-kejutan baru apalagi di bulan kedelapan ini. Oh, tapi aku akan masih melanjutkan kabar baik lanjutan dari postingan kebahagiaanku sampai tengah tahun 2013 ini. What’s new from July?? Yep, goodnews! Rupanya keberuntunganku masih terus berlanjut, haha, aku sendiri sampai curiga aku ini punya jimat apa, siih.. kok kebagian lucky melulu... hohoho, aku sudah mulai narsis inii...

Ya sudah, ini deh kabar-kabar baiknya...

Tanggal 15 Juli 2013 adalah hari bersejarah di mana untuk pertama kalinya aku memenangkan sebuah .... arisan. Lol. Jadi kan aku join dengan komunitas Blogger Buku Indonesia dari sejak beberapa bulan lalu. Dan komunitas ini juga punya grup di Whatsapp tempat ngobrol sehari-hari. Ada satu WA besar yang mewadahi seluruh member BBI dari semua wilayah Nusantara, ada juga beberapa WA berdasarkan daerah tempat tinggal. Dann... aku ikut juga di WA BBI wilayah Jabodetabek yang saat bulan Juni sepakat untuk mengadakan arisan. EH... nggak dinyana, saat arisan dikocok pertama kali tanggal 15 Juli 2013, namaku keluar dari 3 pemenang tiap bulannya! Horeee.... Puji Tuhan, lumayan jumlahnya Rp 300.000, dan karena ini grup blogger buku maka kita sepakat hasilnya dibelanjakan untuk buku juga, hihi. Beberapa waktu lalu aku udah membelanjakan sebagian, yaitu untuk 3 novel: Me Before You, The Chronicle of Audy 4R, sama The Kite Runner, totalnya Rp 180.000-an, masih ada sekitar Rp 120.000 untuk kubelanjain buku lagi. Asyiiiiik ^^. 

Kabar baik selanjutnya... bicara tentang hal yang sedang berusaha kulatih saat ini, yaitu editing, aku dapat orderan ngedit naskah lagi nih.... Bedanya kali ini bukan dari penerbit, tapi dari teman yang mau nerbitin buku secara indie. Wah, aku tentu senang sekali saat dia minta tolong naskahnya dibacakan dan diedit... nanti namaku juga akan muncul di bukunya sebagai editor. Meski indie, tapi kami sepakat kalau naskah ini akan tetap diproses seperti buku selayaknya yang diterbitkan oleh penerbit major. Temenku ini juga mau menetapkan skedul-skedul pengeditan naskah biar nggak dibiarkan longgar gitu aja. Oh ya, untuk sementara aku nggak bisa menyebutkan siapa dia nama temanku ini, yang jelas dia adalah teman baru yang kukenal lewat twitter karena dia adalah salah satu kontributor di buku Traveling Note Competition. Yippie! :D

Next! Masih berhubungan dengan passionku, kali ini dalam hal membaca dan meresensi buku. Puji Tuhan, beberapa hari lalu aku mendapat E-mail dari seorang Editor in Chief majalah traveling yang cukup besar berisi penawaran untuk menjadi reviewer buku traveling di majalah itu! Yeay... dalam hal ini, aku berterima kasih sama mas Ariy, teman dan juga penulis buku traveling yang merekomendasikan namaku kepada temannya ini yang saat itu sedang mencari seorang reviewer. Ya, karena aku pernah meresensi salah satu buku mas Ariy yaitu Nomadic Heart di blogku, lalu mas Ariy mengingat aku saat tahu temannya sedang mencari peresensi buku. Dan kemarin sudah didetailkan lagi rincian penawaran dari majalah itu dan... wow! Aku boleh merekomendasikan buku untuk diresensi, namaku dicantumkan di majalah sebagai kontributor, dan... honornya juga gede! Puji Tuhan, tambah lagi deh kerjaan baru berkaitan dengan passionku! Yippieee... God is good! ^^

Masih boleh nyombong nggak nih? Hahaha... maaf, maksudnya berbagi kebahagiaan. ^^. Hari Selasa lalu, tanggal 31 Juli 2013, namaku diumumkan sebagai salah satu pemenang sayembara resensi buku di Yes 24 Indonesia! Ihiiyyy.. aku menang karena menyertakan resensi novel Bangkok (Moemoe Rizal, Gagas Media), dan hadiah yang kupilih adalah I've Got Your Number-nya Sophie Kinsella. Mantab, lah, memang disuruh banyak-banyak baca biar makin terasah cara penulisannya. Hoho...

Memasuki bulan Agustus, harus semangat baru dong.... Dan kemarin juga aku terima E-mail yang cukup bikin tercengang dan deg-degan.... Ya gimana nggak bahagia sekaligus deg-degan, kalau judul E-mailnya: Undangan Writers' Gathering! Wohh! Really, this is new for me, sebutan 'penulis', hihihi. Nggak pede aja gitu ketemu dengan penulis-penulis lainnya yang udah berpengalaman. Setelah aku tanyakan ke teman yang bekerja di penerbit itu, katanya emang ini acara tahunan penerbit itu yang berisi silahturahmi dengan penulis, juga memaparkan rencana-rencana dari redaksi, dan bisa sekalian tanya-tanya juga soal proses penerbitan buku. Ahey! Benar-benar nggak sabar deh bisa menghadiri acaranya.... :D

Sampai di sini dulu berbagi kabar gembiranya.... Semoga yang baca ikut ketularan bahagia, dan ikut jadi semangat juga. Tadi di awal aku sempat heran, aku ini ada jimat apa sih kok beruntung terus secaa beruntun? Hehe, padahal kalau dipikir-pikir apa yang aku terima itu juga hasil dari apa yang aku lakukan sebelum-sebelumnya, kok. Bukannya mau sombong, misalnya dalam hal mengedit, aku memang sedang melatih diri dan ini nggak terjadi dalam satu hari. Latihanku memang otodidak lewat novel-novel yang aku baca dan juga tanya ke temen yang udah jadi editor duluan. 

Lalu soal tawaran meresensi di majalah, itu juga karena sudah setahun lebih aku mulai meresensi buku dan aku melakukannya dengan senang hati. Lalu aku sadar satu hal, the power of networking. Seperti yang aku bilang tadi, dua kerjaan tambahan itu aku dapat karena bantuan teman, yang tahu tentang kemampuanku. Nepotisme? Nggak juga, dong, kan mereka tahu kalau aku bisa dan berminat di bidang itu. Well, do good and be good, I guess. Doing good things as your passion and talent, and also be a good friend for others, karena sumber rezeki kita datangnya bisa dari berbagai cara termasuk dari teman. Semangaatt!! :D